
Mendengar suara Emila sontak membuat Arkana tersadar jika yang dipeluknya saat ini bukanlah Lady melainkan Emila.
"Maaf, aku tidak sengaja." Ucapnya setelah bangkit dari pembaringannya.
"Tak apa." Jawab Emila singkat lalu turun dari ranjang. Setelahnya Emila pun keluar dari dalam kamarnya berniat menyusul ibunya ke dapur.
"Apa dia marah?" Gumam Arkana menatap pintu kamar Emila yang sudah tertutup dari luar. Arkana pun menghembuskan nafas bebas di udara saat menyadari kesalahannya tadi yang tidak menyadari jika saat ini ia sedang berada di rumah istri keduanya.
"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud seperti itu." Ucap Arkana kemudian. Karena pagi ini ia harus berangkat bekerja seperti biasanya, Arkana pun segera keluar dari dalam kamar Emila sambil membawa kunci mobilnya. Ia berniat mengambil pakaian kerjanya di dalam mobil.
Tiga puluh menit berlalu, Emila yang sudah selesai membantu pekerjaan ibunya di dapur pun kembali ke dalam kamarnya.
"Apa kau ingin mandi?" Tanya Emila pada Arkana yang sedang duduk di pinggir ranjang.
Arkana mengangguk mengiyakannya. "Boleh aku pinjam handukmu? Kebetulan aku tidak membawa handuk kemana-mana." Ucap Arkana.
"Tentu saja. Tunggulah sebentar." Jawab Emila lalu melangkah ke arah lemarinya dan mengeluarkan handuk baru untuk Arkana.
__ADS_1
"Ini." Ucapnya menyerahkan handuk pada Arkana.
"Terima kasih."
"Kamar mandinya cuma ada yang di belakang. Apa kau tak masalah mandi di sana?" Tanya Emila.
"Tentu saja tidak masalah. Aku bisa mandi dimana saja. Di sungai juga bisa." Jawab Arkana serius namun ditanggapi bercanda oleh Emila karena ia tidak percaya jika Arkana bisa mandi di sungai.
Arkana pun akhirnya keluar dari dalam kamar Emila dengan perasaan bingung. Bagaimana tidak bingung ia sama sekali tidak melihat perubahan sikap Emila setelah tadi ia sudah salah mengira jika yang dipeluknya adalah Lady istri pertamanya.
*
"Terima kasih. Kabari saja aku jika kau membutuhkan bantuanku." Ucap Arkana.
Emila mengangguk saja walau dalam hatinya berkata ia tidak akan mau merepotkan Arkana sekali pun ia sangat membutuhkan pertolongan pria itu.
Mobil milik Arkana pun melaju meninggalkan perkarangan rumah milik Emila.
__ADS_1
Selama berada di dalam perjalanan menuju perusahaannya, Arkana terus saja terbayang wajah manis Emila saat berbicara dengannya.
"Apa yang kau pikirkan Arkana?" Ucap Arkana merutuki pemikirannya sendiri.
Arkana pun mencoba fokus untuk mengemudi tanpa memikirkan Emila. Namun usahanya sia-sia karena bayangan Emila terus saja terlintas di benaknya.
Mobil milik Arkana pun berhenti di lampu merah. Arkana yang hanya fokus memikirkan Emila pun tidak sadar jika di sebelah mobilnya ada mobil milik istri pertamanya yang berisi istrinya dan seorang pria bernama Dandy.
Lady yang juga tidak menyadari jika ada mobil Arkana di sebelah mobilnya karena fokus bercanda tawa dengan Dandy pun hanya fokus pada candaan pria tersebut.
Lampu lalu lintas sudah berganti warna menjadi warna hijau. Mobil milik Arkana pun melaju lebih dulu meninggalkan mobil Lady yang melaju setelah mobilnya.
"Apa hari ini kau akan stay di toko?" Tanya Dandy pada Lady.
"Ya, seperti biasa aku akan stay di toko." Jawab Lady seraya tersenyum.
Pria bernama Dandy itu ikut tersenyum mendengarnya. "Aku akan tambah bersemangat jika ada kau di toko." Ucapnya.
__ADS_1
***