Noda Menjadi Yang Ke 2

Noda Menjadi Yang Ke 2
S2 - Wanita Yang Tepat


__ADS_3

Suara dentuman musik yang terdengar sangat keras dan memekakkan telinga menyambut kedatangan Edgar di sebuah klub malam itu. Edgar yang sudah beberapa kali mendatangi tempat seperti itu tak merasakan kecanggungan. Ia terus melangkah masuk ke dalam klub dan sesekali mengangkat tangan seraya melambai mengusir para wanita yang mendekat kepadanya.


"Pergilah, aku tidak membutuhkan kalian dan tidak bawa uang." Usir Edgar untuk yang kesekian kalinya saat salah satu orang wanita masih berupaya mendekatinya.


Wanita itu nampak kecewa. Ia pun melangkah meninggalkan Edgar karena tidak ingin membuat masalah.


Edgar kemudian melangkah ke arah meja yang masih kosong. Menjatuhkan bokongnya di sana dan mengeluarkan ponsel dari saku celana untuk mengabari Toni jika ia sudah berada di dalam klub.


Tak berselang lama Toni nampak masuk ke dalam klub diikuti dua orang wanita di sebelahnya. Jika Edgar merasa risih diikuti para wanita pekerja di klub, Toni justru sebaliknya. Ia membiarkan kedua wanita itu terus menggoda dan mendekatinya hingga akhirnya ia menjatuhkan bokong di sebelah Edgar.


"Pergilah. Aku akan memanggil jika dibutuhkan." Usir Toni.


Kedua wanita tersebut pergi setelah secara bergantian memberikan ciuman di pipi Toni.


"Dasar buaya. Tidak berubah juga." Cibir Edgar.


Toni tertawa saja. "Ini adalah kebahagiaanku." Jawabnya seadanya.

__ADS_1


Edgar tak menyahut. Ia memilih meneguk segelas air putih yang sempat ia minta pada pelayan klub.


"Jadi kau ingin aku membantumu mencarikan seorang wanita untukmu?" Tanya Toni setelah beberapa saat berlalu.


"Ya. Tapi aku ingin wanita tersebut tidak menaruh perasaan padaku nantinya begitu pun sebaliknya."


Toni mengerutkan kening. "Bagaimana bisa kau tidak menginginkan cinta di dalam rumah tanggamu nanti?"


"Karena aku tidak ingin kecewa. Maka dari itu aku minta wanita yang menjadi istriku nanti sedikit tidak baik agar aku tidak mudah jatuh cinta kepadanya."


Toni mengangguk paham. Ia sudah mengerti kemana arah permintaan Edgar saat ini.


Edgar menatap sosok wanita yang sedang kesakitan akibat didorong oleh seorang pria berbada bulat dan pendek.


"Jalankan tugasmu dengan baik malam ini!" Titah pria itu tegas.


Sang wanita hanya diam sambil menangis ketakutan. Ia beberapa kali menggeleng menolak perintah yang diberikan kepadanya. Namun apa daya, pria yang menyuruhnya tidak mengindahkannya justru mencengkram erat lengan wanita tersebut.

__ADS_1


"Siapa dia?" Tanya Edgar.


"Pekerja baru di sini. Dia sudah hampir satu minggu bekerja di sini."


Edgar menyunggingkan senyum. "Bekerja sebagai wanita malam." Ucapnya diikuti gelengan kepala.


"Tentu saja. Dia bekerja sebagai penghibur di sini. Tapi karena masih baru pekerjaannya cukup buruk."


Edgar mengangguk saja lalu mengalihkan pandangan dari wanita itu.


"Menurutmu apakah wanita malam itu adalah wanita yang buruk?" Tanya Toni.


"Sepertinya begitu. Masih banyak pekerjaan halal yang bisa mereka lakukan di luar sana dibandingkan bekerja di tempat seperti ini." Edgar berpikir logis.


"Apa kau bisa dengan mudah mencintai wanita yang bekerja sebagai wanita malam?"


"Tentu saja tidak. Aku masih bisa berpikir cerdas untuk mencintai wanita dari kalangan baik-baik."

__ADS_1


Toni menyunggingkan senyum membentuk sebuah seringai. "Kalau kau ingin wanita yang menikah denganmu nanti tidak mudah kau cintai begitu pula sebaliknya maka nikahi saja salah satu wanita yang bekerja di klub ini. Setidaknya nantinya kau tidak sakit hati karena sudah mengetahui wanita yang kau nikahi memang bukan wanita yang baik."


***


__ADS_2