Noda Menjadi Yang Ke 2

Noda Menjadi Yang Ke 2
End - Jangan berani pergi dariku


__ADS_3

Acara resepsi pernikahan dilakukan di hari yang sama di kediaman Emila dan ibunya. Selama acara perayaan pernikahan berlangsung, Emila dan Arkana terus mengembangkan senyum menatap tamu undangan yang datang ke acara pesta pernikahan mereka.


"Apa kau bahagia?" Tanya Arkana entah untuk yang berapa kalinya.


"Tentu saja. Kenapa kau terus bertanya seperti itu?"


"Karena aku ingin memastikan jika kau benar-benar bahagia menikah denganku." Jawab Arkana.


Emila menggenggam erat sebelah tangan suaminya itu. "Apa kau juga bahagia menikah denganku?" Pertanyaan itu ia balikkan pada Arkana.


"Tanpa bertanya kau sudah pasti tahu jawabannya. Lihatlah senyuman di wajahku ini. Sangat tulus bukan?"


Emila tak dapat menyurutkan senyuman di wajahnya setelah mendengarkan perkataan Arkana. Kini kebahagiaan di dalam hidupnya terasa semakin lengkap. Memiliki anak-anak yang lucu dan menjadi istri satu-satunya untuk suaminya.


Rasa tidak percaya diri di dalam hatinya selama ini akhirnya sirna sudah berganti dengan keyakinan jika orang seperti dirinya juga berhak bahagian.


"Terima kasih Arkana karena kau sudah berhasil meruntuhkan ketidakpercayaan diriku selama ini."

__ADS_1


*


Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Para tamu undangan yang datang pun perlahan pulang meninggalkan acara menuju rumah mereka masing-masing. Flower yang sudah sejak pagi berada di kediaman Emila pun ikut berpamitan pulang saat Malik kembali datang untuk menjemputnya.


"Terima kasih Flower atas waktumu hari ini." Ucap Emila sebelum melepas Flower kembali ke rumahnya.


"Sama-sama. Semoga setelah ini kebahagiaan selalu datang menghampirimu." Harap Flower.


Emila mengaminkannya. Pandangannya pun jatuh pada Malik yang terlihat memasang wajah datarnya. "Terima kasih juga atas kebaikanmu, Malik."


Malik hanya menganggukkan kepalanya tanpa bersuara. Setelahnya Malik pun menggenggam tangan Flower dan memintanya untuk masuk ke dalam mobil.


Emila memutar kepala menatap pada Arkana. "Arkana." Ucapnya pelan tanpa menjawab perkataan Arkana.


Arkana memperlihatkan senyum di wajah tampannya. "Ternyata istriku ini dulunya kekasih dari Tuan Malik yang cukup berpengaruh di kota ini."


"Arkana, kau ini berbicara apa?" Emila mencoba mengabaikan perkataan Arkana tentang masa lalunya bersama Malik.

__ADS_1


"Aku bilang jika istriku ini dulunya kekasih dari Tuan Bryan Malik." Jawab Arkana.


Emila menghembuskan nafas kasar. "Mantan kekasih lebih tepatnya." Koreksinya.


"Itu sama saja. Dulunya kau kekasihnya dan sekarang sudah menjadi mantan kekasihnya."


"Sudahlah, jangan membahas masa laluku. Itu sudah berlalu dan tidak perlu diingat lagi."


Arkana tertawa kecil. Kenapa tidak boleh membahasnya, hem?"


"Karena aku tidak suka. Memangnya kau mau jika aku kembali menaruh perasaan pada Tuan Malik?" Emila menaikkan sebelah alis matanya.


"Tentu saja tidak. Awas saja jika kau berani menaruh perasaan pada pria lain selain aku. Aku tidak akan segan mengurungmu di dalam kamar seharian." Ucap Arkana diakhiri dengan kedipan di sebelah matanya.


"Kalau kau tidak mau maka jangan membahasnya lagi." Jawab Emila lalu pergi meninggalkan Arkana. Emila merasa ngeri melihat kedipan mata Arkana yang menyiratkan arti saat ini.


Tidak terima ditinggal begitu saja oleh Emila membuat Arkana dengan cepat mengejar langkah istrinya itu.

__ADS_1


"Jangan berani menjauh dariku. Malam ini sampai besok aku akan mengurungmu seharian di dalam kamar!" Ucap Arkana setelah berhasil meraih sebelah tangan Emila untuk ia genggam.


***


__ADS_2