Noda Menjadi Yang Ke 2

Noda Menjadi Yang Ke 2
S2 - End - Akhir Bahagia


__ADS_3

Kehidupan Lara yang awalnya terasa sangat menyedihkan sejak kepergian ayah kandungnya kini terasa sangat berbeda dan bahagia sejak ia menikah dengan Edgar. Walau awalnya pernikahan mereka terjadi karena unsur keterpaksaan, namun kini keduanya sudah bisa menerima satu sama lain dan menjalani rumah tangga dengan bahagia.


Kabar bahagia pun terdengar setelah dua bulan berlalu sejak Edgar dan Lara tinggal di rumah warisan kedua orang tua Lara. Lara dinyatakan hamil dan usia kandungannya sudah berjalan enam minggu.


Lara yang masih merasa belum siap untuk menjadi seorang ibu di usianya yang masih muda pun merasa cemas jika nantinya ia tidak bisa merawat anaknya dengan baik. Terlebih masih banyak kekurangan yang dimilikinya dalam bersikap.


Melihat kecemasan di dalam diri istrinya membuat Edgar segera menenangkannya dan meyakinkan Lara jika Lara bisa menjadi ibu yang baik untuk anak mereka nanti.


Dan dengan segala bujuk rayu dan keyakinan Edgar, akhirnya rasa cemas yang Lara rasakan pun perlayan sirna berganti dengan keyakinan.


"Kak Edgar benar, aku pasti bisa menjadi ibu yang baik untuk anakku nanti." Gumam Lara sambil mengusap perutnya yang masih rata.


Edgar yang baru saja masuk ke dalam kamarnya setelah membuatkan susu untuk Lara pun mendekat dengan wajah tersenyum melihat Lara mengusap perutnya yang berisi calon anak mereka.

__ADS_1


"Diminum dulu susunya." Ucap Edgar sambil menyerahkan gelas susu pada Lara.


Lara menerimanya. "Terima kasih, Kak."


Edgar mengangguk dan tak berniat beranjak dari posisinya sebelum memastikan Lara menghabiskan susu yang ia berikan.


"Ini, Kak." Ucap Lara menyerahkan gelas susu pada Edgar setelah meneguk susu hingga tandas.


Edgar tersenyum seraya menerima gelas yang Lara berikan. Setelah meletakkan gelas di atas nakas, Edgar pun menjatuhkan bokong di pingir ranjang yang bersebelahan dengan Lara.


Lara menggelengkan kepala. "Enggak, Kak. Hanya di waktu pagi hari saja. Siang sampai sore Lara tak merasakan apa-apa." Jawabanya seadanya.


Edgar merasa lega mendengarnya. Diusapnya perut Lara yang berisi calon anaknya. "Anak kita memang pintar. Dia tahu ibunya sedang ujian di kampus jadi tidak rewel." Ucap Edgar lembut.

__ADS_1


Lara menganggukkan kepala. "Tidak rewel sih, Kak. Tapi anak kita ini mentel. Masa sukanya lihat cowo tampan dan dikunjungi ayahnya setiap malam." Ucap Lara kemudian memajukan bibir beberapa centi.


Edgar hampir saja terbatuk mendengar perkataan Lara. "Kau bilang apa tadi? Anak kita mentel suka melihat cowo tampan?" Ulangnya. Jika hanya suka dikunjungi dirinya Edgar sudah mengetahuinya sebab setiap malam Lara suka merengek meminta dijamah sedangkan dirinya belum berani untuk menyentuh Lara sebab usia kandungan Lara masih terlalu muda.


"Iya, Kak. Suka lihat Angga dan teman-teman cowo Lara yang tampan di kampus." Jawabnya jujur kemudian tersenyum membayangkan wajah pria tampan di kampusnya.


"Dasar nakal..." Edgar menjewer telinga istri kecilnya itu. "Beraninya kau memikirkan pria lain saat sedang bersama suamimu." Ucap Edgar sebal.


"Aduh, Kak Edgar sakit!" Lara melepaskan tangan Edgar yang masih menjewer telinganya. "Lara tidak nakal tahu. Yang nakal itu baby karna dia yang suka lihat cowo tampan." Elak Lara tak ingin disalahkan.


Edgar dibuat gemas mendengarnya. Bukannya mengakui kesalahannya, Lara justru mengkambing hitamkan anak mereka yang masih berada di dalam perut.


"Untung saja aku sayang. Kalau tidak sudah aku potong dan buat dendeng!" Ucap Edgar kemudian mengecup sekilas bibir Lara yang selalu membuatnya menjadi candu.

__ADS_1


***


__ADS_2