
Pertanyaan yang Lara berikan berhasil membuat Edgar bungkam seribu bahasa. Edgar menatap wajah istrinya itu. Kedua mata istrinya nampak berkedip-kedip lucu penuh harap menatap wajahnya.
"Kenapa Kak Edgar hanya diam saja? Apa Kak Egdar menyayangi Lara juga?" Lara sampai mengulang pertanyaannya karena Edgar hanya diam saja.
Edgar menghela napas dalam kemudian mengalihkan pandangan dari Lara.
"Sedikit. Jika kau ingin aku menyayangimu maka menurutlah dan terus jadi anak yang baik!"
Senyuman di wajah Lara terkembang mendengar jawaban yang Edgar berikan. "Terima kasih Kak Edgar sudah menyayangi Lara walau hanya sedikit. Lara sangat senang."
Edgar mengangguk saja. Tak ingin Lara kembali bertanya yang macam-macam kepada dirinya, Edgar memilih segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membuang hajatnya yang sejak tadi ia tahan.
**
Pagi ini Edgar berinisiatif untuk mengantarkan Lara lebih dulu menuju kampusnya sebelum ia berangkat menuju rumah sakit. Entah mengapa Edgar merasa iba pada istri kecilnya itu jika harus naik bus lagi pergi ke kampus.
__ADS_1
"Apa kata teman-teman nanti ya kalau melihat Kak Edgar mengantarkan Lara?" Tanya Lara pelan pada dirinya sendiri.
Edgar yang mendengarkan perkataan Lara pun menoleh menatap wajah istrinya itu. "Kenapa masih saja memikirkan perkataan orang lain? Jika mereka bertanya ya tinggal jawab saja!"
Lara menatap Edgar dengan senyuman kaku. Kini ia sudah tidak terlalu takut mendengar suara ketus Edgar karena sudah terbiasa. "Iya, Kak. Lara sudah jawab kok kalau Kakak adalah suami Lara."
"Bagus." Sahut Edgar cepat.
Lara segera membungkam mulutnya. Menjaga mulutnya agar tak lagi bersuara dan bisa memancing amarah Edgar.
Mobil milik Edgar pun akhirnya sampai di kampus. Setelah bersalaman dengan Edgar dan mendapatkan uang jajan, Lara segera keluar dari dalam mobil. Seperti dugaan Lara beberapa waktu Lara, keberadaannya kini menjadi pusat perhatian karena baru saja diantar oleh Edgar.
"Hei anak sialan!" Di tengah jalan, Lara dihadang oleh Celine yang kini menatap sangar pada Lara.
Lara sudah tak takut lagi melihat tatapan Celine. Ia justru membalas tatapan Celine dengan datar. "Lepaskan tanganku!" Lara menghempaskan tangan Celine yang mencekal tangannya.
__ADS_1
"Sudah berani kau rupanya, ya? Merasa berada di atas angin karena kini kau bisa dekat dengan Dokter Edgar dan Angga. Begitu, ya?" Tuduh Celine.
"Kalau iya kenapa?" Lara menjawab santai.
Jawaban yang Lara berikan pun lantas saja membuat Celine geram hingga mengepalkan kedua tangannya.
"Sekarang ayo katakan kepadaku, ada hubungan apa kau dengan Dokter Edgar. Kenapa kemarin kau bisa datang ke rumahku bersama dia? Dan apa yang sudah kau katakan dengan dokter Edgar?!"
"Jika kau merasa penasaran maka tanyakan saja langsung pada Kak Edgar karena aku tidak mau menjawabnya!"
"Kau!" Celine berkacak pinggang. Menatap Lara dengan nyalang.
Lara melihat ke kiri dan ke kanan. Suasana kampus masih nampak sepi dan orang-orang yang sedang berlalu-lalang cukup jauh dari mereka seakan tidak mendengar suara perdebatan mereka.
"Angga!" Akhirnya Lara mendapat angin segar untuk menghindar dari hadapan Celine. Sosok Angga kini nampak berjalan tergesa-gesa ke arah mereka setelah mendengar teriakan Lara memanggil namanya.
__ADS_1
"Kau, apa lagi yang kau lakukan pada Lara!" Sentak Angga pada Celine.
***