Noda Menjadi Yang Ke 2

Noda Menjadi Yang Ke 2
S2 - Goal!


__ADS_3

"Aaa..." suara teriakan Lara terdengar menggelegar saat tongkat sakti milik Edgar bergerak memasuki bagian intinya.


Edgar yang merasa terkejut mendengar suara teriakan istrinya sejenak menghentikan kegiatannya. Ditatapnya kedua bola mata Lara yang kini melelehkan cairan bening.


"Hentikan, ini sungguh sakit!" Pinta Lara. Ia hendak mendorong tubuh Edgar yang masih menghimpit tubuhnya. Akal sehatnya tidak berfungsi karena rasa sakit lebih mendominasi Lara saat ini.


Edgar menggelengkan kepala. Ia tak akan menghentikannya lagi. 


Lara yang ingin protes pun mengurungkan niatnya saat Edgar membekap mulutnya dan melanjutkan kegiatannya hingga akhirnya suara teriakannya tertahan di dalam mulut.


"Ternyata istriku benar masih perawan." Ada rasa lega yang Edgar rasakan saat berhasil memasuki tubuh istrinya untuk pertama kalinya. Rasa percayanya pada Lara kini terbukti sudah di hari malam pertama mereka.


Edgar mendiamkan tongkat saktinya sejenak di dalam inti Lara. Memberikan Lara sedikit waktu untuk tenang sebelum beberapa saat kemudian memulai kegiatannya kembali menggerakkan tubuh di atas tubuh Lara.


Edgar memperlakukan istri kecilnya itu dengan lembut. Bergerak pelan di awal sebab ia mengetahui rasa sakit yang Lara rasakan untuk pertama kalinya.

__ADS_1


Lara pun hanya bisa melampiaskan rasa sakitnya dengan mencengkram erat punggung Edgar dan sesekali menggigit pundaknya hingga meninggalkan bekas kemerahan.


Rasa sakit yang awalnya Lara rasakan akhirnya berganti dengan rasa nikmat setelah beberapa saat berlalu. Melihat istrinya sudah lebih tenang menerima sentuhan darinya membuat Edgar mulai menambah ritme hentakan tongkat saktinya di inti Lara.


"Emh..." suara lenguhan Edgar dan suara de-sahan Lara terdengar mulai bersahutan memenuhi isi kamar. Mendengar suara de-sahan istrinya yang terdengar sangat merdu di telinganya membuat Edgar tak kuasa untuk menambah ritme hentakanhya hingga membuat Lara beberapa kali berteriak memanggil namanya.


***


Tak terhitung berapa kali Edgar memberikan ciuman di wajah istrinya sejak percintaan mereka dimulai dengan susah payah. Edgar menatap wajah istri kecilnya itu yang kini basah karena keringat. 


Lara hanya bisa tersenyum seraya melelehkan cairan bening dari sudut matanya. Tubuhnya sungguh terasa lelah dan remuk. Tak ia sangka jika menyenangkan hati suami cukup mudah namun membuat tubuhnya menjadi sakit di beberapa bagian.


"Tidurlah..." Edgar membawa tubuh Lara ke dalam dekapannya. Memeluknya erat-erat dan tak lupa menghujani dengan ciuman bertubi-tubi.


Lara pun membalas pelukan suaminya itu dengan mata terpejam. Merasakan hangatnya tuhuh Edgar sebelum akhirnya Edgar membungkus tubuh mereka dengan selembar selimut putih.

__ADS_1


**


Waktu sudah berganti pagi. Edgar yang terbangun lebih dulu dari tidurnya tersenyum menatap wajah istrinya yang nampak lelap di dalam pelukannya. 


"Sekarang kau sudah tumbuh menjadi wanita dewasa." Gumamnya sambil mengusap pipi Lara. Tak hanya sampai mengusap pipi Lara saja. Sebelah tangan Edgar yang nakal pun kini sudah menarik sebelah pipi istrinya.


Lara merasa terganggu. Ia menggeliat namun tak sampai membuka kedua kelopak matanya.


Melihat pergerakan istrinya itu membuat Edgar jadi gemas. Ia pun memberikan kecupan singkat di bibir Lara.


"Emh..." dengan mata terpejam Lara menggelengkan kepalanya. Entah apa maksud gelengan kepala Lara itu. Yang jelas pergerakannya membuat Edgar menjadi gemas saja.


Edgar pun teringat akan sesuatu. Yaitu dua buah mainannya yang kini sudah terasa cukup membesar dari sejak awal ia memegangnya.


"Sepertinya aku harus sering meniupnya agar ukurannya terasa lebih pas di tanganku." Gumam Edgar dengan tersenyum nakal.

__ADS_1


***


__ADS_2