
"Tuan, anda ingin membawa saya kemana?" Tanya Lara saat mobil milik Edgar sudah melaju di jalan raya. Di dalam hati Lara sudah sangat takut jika Edgar ingin membawanya ke suatu tempat yang akan membuatnya kehilangan kesuciannya.
"Kemana pun saya membawamu itu bukan urusanmu!" Ketus Edgar.
Kesepuluh jemari Lara saling bertaut. Semakin takut saja dirinya pada sosok Edgar. Walau dapat melihat sosok Edgar berwajah baik, namun tetap saja Lara tidak bisa memastikan isi hati pria tersebut sebaik wajahnya atau tidak.
"Tuan, saya mohon jangan apa-apakan saya. Saya masih sangat kecil dan tidak bisa memuaskan anda." Lara kembali berucap. Berharap perkataannya kali ini bisa membuat Edgar melepaskannya.
Kening Edgar mengkerut halus mendengar perkataan Lara. "Pede sekali dirimu jika aku mau menyentuhmu! Lagi pula siapa yang mau menyentuh wanita seperti dirimu yang sudah tidur dengan banyak pria!" Edgar memberikan pernyataan yang menohok hati Lara.
Lara hanya bisa menahan rasa sesak dalam hati. Ia tidak bisa menyalahkan Edgar atas tuduhannya karena pekerjaannya memang pantas mendapatkan cacian seperti itu.
Tak ingin terlalu banyak berbicara pada Lara, Edgar lebih memilih kembali fokus pada jalanan yang cukup padat di depannya. Mobil miliknya terus melaju hingga akhirnya sampai di bangunan menjulang tinggi.
"Turun!" Titah Edgar setelah memarkirkan mobil di besement.
__ADS_1
Lara menggeleng. Ia sangat takut dirinya dalam bahaya sebentar lagi.
"Turun atau aku akan memotong kakimu agar tidak bisa berjalan lagi!" Ancam Edgar diikuti kedua mata yang melotot.
"Jangan potong kaki saya Tuan!" Lara hampir saja menangis mendengar ancaman Edgar.
Edgar tak memperdulikan perkataannya. Ia lebih memilih turun lebih dulu dari dalam mobil dan menunggu Lara untuk turun juga.
Baru saja kakinya menapaki lantai besement, Lara sudah dibuat terkejut saat sebuah jaket melayang dan mendarat tepat di wajahnya.
Entah harus berterima kasih atau mengumpat yang harus Lara lakukan saat ini mendengar perkataan Edgar.
Tak ingin berdebat, Lara segera memakai jaket milik Edgar. "Harum sekali." Gumam Lara. Sedikitnya ia merasa bersyukur karena jaket yang dilemparkan Edgar kepadanya bisa menutupi bahunya yang tidak tertutupi kain.
"Ayo jalan! Awas kalau kau sampai berniat macam-macam!" Titah Edgar lagi.
__ADS_1
Lara mengangguk takut lalu mengikuti langkah Edgar dari belakang.
Tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini selain mengikuti perintah dari pria yang sudah membelinya. Ingin kabur pun Lara tidak tahu harus pergi kemana karena sudah tidak ada tempat lagi untuknya mengadu setelah ibu tirinya menjualnya ke klub malam.
"Kenapa kau berjalan seperti siput. Lambat sekali!" Sembur Edgar karena Lara jauh tertinggal di belakangnya.
"Ma-maaf." Lara berjalan dengan sedikit berlari ke arah Edgar yang kini sudah berdiri di depan pintu lift.
"Dasar lamban. Kalau begini sikapmu bagaimana bisa kau memuaskan para pria hidung belang di klub itu!" Lagi-lagi Edgar memberikan pernyataan yang sulit untuk Lara jawab.
Memilih diam, Lara pun melangkah masuk ke dalam kotak besi yang akan membawanya entah kemana.
"Ingat, jangan macam-macam atau..." Edgar memperagakan gerakan menyayat leher.
"Ti-tidak. Saya berjanji tidak akan macam-macam, Tuan." Tubuh Lara jadi bergetar melihat ekspresi Edgar yang terlihat sangat sungguhan.
__ADS_1
***