
"Anak?" Belum hilang keterkejutan Ghina mendengar Lara adalah istri Edgar, kini ia sudah kembali dibuat terkejut mengetahui sebuah fakta jika Lara sedang mengandung anak Edgar.
Tanpa memperdulikan keterkejutan di wajah Ghina, Edgar membawa istrinya masuk ke dalam ruangan kerjanya.
Setelah berada di dalam ruangan kerja Edgar, Lara menatap suaminya dengan tatapan sebal. "Sepertinya wanita tadi menyukai Kak Edgar sehingga dia begitu terkejut mengetahui Lara adalah istri Kak Edgar." Ucap Lara.
Edgar menatap wajah istrinya yang tengah cemberut kepadanya saat ini. "Kalau pun dia menyukaiku tidak ada urusannya denganku, Lara. Jadi gak perlu cemberut seperti ini." Edgar mengusap kepala istrinya.
Lara memalingkan wajah. "Tentu saja ada. Kalau dia berusaha mendekati Kak Edgar setiap kalian bertemu bagaimana. Lara kan gak tau apa saja yang kalian lakukan di sini."
Edgar menghela napas dalam. "Memangnya aku bisa melakukan apa di rumah sakit seperti ini, Lara? Aku datang untuk bekerja dan pulang untuk bertemu dengan istriku. Hanya itu saja kegiatanku setiap hari tidak ada yang lain." Jelas Edgar.
Lara masih saja cemberut. Hatinya masih saja merasa awas dengan sosok wanita yang bernama Ghina itu.
"Sudahlah, tidak baik memikirkan hal yang tidak-tidak seperti ini." Edgar mengusap kepala Lara kembali. "Ingat, saat ini kau sedang hamil. Terlalu banyak pikiran bisa mengganggu kesehatan janinmu."
__ADS_1
Lara tak menjawab. Ia masih memasang wajah cemberut.
Edgar hanya bisa menghela napas kembali kemudian menuntut istrinya duduk di atas kursi.
"Dari pada memikirkan yang tidak-tidak lebih baik kau makan." Edgar membuka plastik berisi makanan untuk Lara. Kemudian ia membuka kotak makanan yang diberikan pihak rumah sakit untuknya.
Lara memperhatikan gerak-gerik suaminya itu yang terlihat begitu cekatan menyiapkan makanan untuknya. Rasa kesal yang ia rasakan sejak tadi perlahan sirna berganti dengan rasa haru.
"Ayo makan." Ucap Edgar lembut setelah menyodorkan kotak makanan ke hadapan Lara.
"Iya deh." Edgar menurut. Ia segera duduk di kursi yang bersebelahan dengan Lara kemudian menyuapkan makanan ke dalam mulut Lara.
Lara jadi senang dibuatnya. Wanita itu terus menerima suapan makanan dari Edgar hingga makanannya habis tak tersisa.
"Gantian biar Lara yang suapin Kakak." Lara mengambil alih sendok dari tangan Edgar saat Edgar hendak menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
__ADS_1
Edgar memilih menurut. Ia membiarkan Lara menyuapkan makanan ke dalam mulutnya hingga tandas tanpa peduli jika seorang perawat datang memberikan berkas pasien kontrol kepadanya.
"So sweet sekali ya Dokter Edgar dan istrinya." Perawat bergumam kecil sambil tersenyum menatap Edgar yang tengah disuapkan oleh Lara.
Lara yang mendengarkannya pun tersenyum. "Iya dong. Harus terus romantis Kak agar terhindar dari pelakor dan pebinor."
Perawat tersebut mengacungkan kedua jempolnya. "Benar sekali, Mbak. Jaman sekarang memang banyak pelakor bertebaran dimana-mana. Sebelum menempel pada pasangan kita, kita harus segera membasminya."
Lara mengangguk dengan semangat. "Iya, Lara akan basmi siapa saja yang mau menempel pada Kak Edgar. Jika perlu, Lara mau ikut kemana pun Kak Edgar pergi agar Lara tau siapa saja calon pelakor yang hendak menempel pada Kak Edgar."
Perawat itu jadi tertawa kecil. Lucu sekali ia melihat wajah Lara yang nampak begitu semangat menjawab perkataannya.
"Kau ini..." Edgar hanya bisa menggeleng melihat tingkah absurd istri kecilnya itu.
***
__ADS_1