
"Emila... semoga kau dan bayimu baik-baik saja, Nak." Bu Asma tak henti memanjatkan doa untuk putrinya dan kedua cucunya.
Lima belas menit berlalu, Dokter Kirana keluar dari dalam ruangan dan memanggil nama Bu Asma.
"Bagaimana keadaan putri saya, Dokter? Apa dia sudah mau melahirkan?" Tanya Bu Asma cepat.
"Belum, Bu. Saat ini Nona Emila masih mengalami pembukaan lima. Masih membutuhkan beberapa waktu lagi untuk sampai ke pembukaan sempurna."
"Apa anak saya siap untuk melahirkan normal, Dokter?" Bu Asma merasa awas. Takut ada saja kendala putrinya bisa melahirkan secara normal.
"Sejauh ini semua masih aman, Bu. Tensi Nona Emila normal dan posisi kepala bayi sudah berada dekat panggul."
"Syukurlah. Apa saya sudah bisa melihat anak saya?"
__ADS_1
"Sudah, silahkan masuk, Ibu. Untuk mempercepat pembukaan Ibu bisa membawa Nona Emila berjalan-jalan di dalam ruangan." Saran Dokter.
Bu Asma mengangguk lalu berpamitan masuk ke dalam ruangan pemeriksaan.
Sementara di tempat berbeda, Arkana kini sudah berada di dalam pesawat menuju Ibu kota. Arkana memilih berangkat ke ibu kota menggunakan penerbangan paling awal pagi itu. Langit masih nampak gelap saat pesawat sudah mengudara. Arkana tersenyum penuh harap, semoga saja setelah sampai di ibu kota nanti ia bisa langsung bertemu dengan Emila dan bisa menjelaskan kesalahpahaman di antara mereka.
Dua jam berlalu, Arkana kini sudah berada di jalanan Ibu kota menuju tempat tinggal Emila dan Ibunya. Edgar tidak ikut mengantarkan Arkana pagi itu karena ia akan mengikuti seminar pagi itu di rumah sakit milik Tuan Dika.
Suasana rumah Emila dan ibunya nampak sepi saat Arkana sudah sampai di depan rumah mereka. Arkana memastikan kembali jika ia tidak salah alamat dengan mencocokkan nomor rumah dan warna cat rumah yang diberikan Edgar.
Setelah beberapa kali mengucap salam Arkana tak kunjung mendapatkan sahutan dari dalam. Perasaan Arkana mulai cemas takut-takut Emila kembali pergi karena tahu dirinya akan datang.
"Maaf, anda mencari siapa, Tuan?" Seorang pria paruh baya yang tinggal di sebelah rumah Emila datang menghampiri Arkana.
__ADS_1
"Emila, Pak."
"Oh, Nak Emila. Emila dan Ibunya sedang tidak berada di rumah, Tuan. Subuh tadi mereka buru-buru pergi ke rumah sakit karena Nak Emila mau melahirkan!"
"Apa!" Kedua kelopak mata Arkana terbelalak. Tanpa banyak tanya Arkana segera berpamitan untuk pergi pada pria paruh baya itu dan kembali masuk ke dalam mobil yang sudah disewanya untuk mengantarkannya kemana pun ia pergi selama ia berada di ibu kota.
"Ke rumah sakit sekarang!" Ucap Arkana cepat setelah masuk ke dalam mobil.
Sopir mengiyakannya lalu melajukan mobil menuju rumah sakit yang Arkana maksud. Untung saja kemarin Edgar sudah memberitahu di rumah sakit mana Emila melalukan pemeriksaan hingga tak membuat Arkana harus bertanya lebih dulu.
Jalanan ibu kota yang cukup macet pagi itu membuat Arkana membutuhkan waktu lebih lama sampai di rumah sakit.
Setelah mobil berhenti di depan rumah sakit, Arkana langsung keluar dan berjalan sedikit berlari masuk ke dalam rumah sakit. Arkana menghentikan langkah seorang perawat yang sedang melewatinya untuk bertanya dimanakah ruangan persalinan berada.
__ADS_1
"Mila, tunggu aku."
***