
Malam itu Emila nampak tidak tenang dalam tidurnya. Beberapa kali ia berganti posisi tidur dari miring ke kiri, kanan hingga terlentang mencari posisi yang nyaman untuk tidur. Namun sudah beberapa kali mencoba hasilnya tetap sama, Emila sama sekali tidak bisa tidur dengan tenang.
Gerakan-gerakan kecil dari dalam perutnya menambah kesulitan Emila untuk tertidur dengan nyenyak. Pada akhirnya Emila membuka kedua kelopak matanya. Memberikan usapan lembut di perutnya berharap kedua janinnya bisa tenang di dalam perutnya.
Sudah beberapa menit Emila memberikan usapan lembut di perutnya namun tak juga membuat kedua janinnya tenang. Mereka justru semakin aktif bergerak di dalam perut hingga membuat Emila meringis merasa sakit.
Jam terus berputar ke arah kanan namun Emila tak kunjung bisa tidur dengan nyaman. Rasa sakit di dalam perutnya kini semakin bertambah. Emila pun berpikir jika saat ini rasa sakit dalam perutnya bukan seperti sakit akibat gerakan biasa namun seperti kontraksi sebelum melahirkan.
Emila mencoba tetap tenang. Ia menahan rasa sakit di dalam tubuhnya hingga subuh menjelang. Merasa sakitnya semakin kuat dari sebelumnya membuat Emila berteriak memanggil nama ibunya.
__ADS_1
Bu Asma yang sudah terbangun sejak lima belas menit yang lalu langsung bergegas menuju kamar Emila setelah mendengar teriakan Emila.
"Mila!" Suara Bu Asma terdengar keras melihat Emila yang kini terduduk di atas lantai sambil memegang perutnya.
"Mah..." Emila terasa sulit berbicara karena menahan rasa sakit yang teramat di dalam perutnya.
Bu Asma dengan cepat membantu Emila untuk berdiri dan menanyakan ada apa dengan putrinya itu. Setelah mengetahui Emila sudah ingin melahirkan Bu Asma segera meraih ponsel Emila yang berada di atas nakas dan melakukan panggilan telefon pada pengawal yang ditugaskan berjaga-jaga di dekat rumah mereka.
Panggilan telefon terputus setelah mendapatkan jawaban dari pengawal jika mereka akan segera menyiapkan mobil mengantarkan Emila ke rumah sakit.
__ADS_1
Dengan hati-hati Bu Asma membantu Emila yang sedang kesakitan keluar dari dalam rumah. Pengawal yang sudah berada di depan rumah membawa mobil pun segera membantu Emila masuk ke dalam mobil.
"Tunggu dulu, saya ingin mengambil perlengkapan bayinya!" Bu Asma segera berlari ke dalam rumah mengambil tas perlengkapan bayi milik Emila. Setelahnya ia kembali dan segera masuk ke dalam mobil.
Mobil bewarna hitam milik pengawal keluarga William melaju dengan kecepatan cepat menuju rumah sakit milik Dika. Untung saja jalanan masih sepi hingga tak membutuhkan waktu lama mereka sampai di rumah sakit.
Beberapa orang perawat nampak sudah menunggu kedatangan Emila di depan rumah sakit dengan membawa brankar. Mereka langsung membantu Emila turun dari dalam mobil dan membaringkan Emila di atas brankar setelah mobil berhenti berhenti di depan rumah sakit.
Emila hanya bisa menangis menahan rasa sakit yang teramat di dalam perutnya sambil memegang tangan ibunya yang setia menemanimya menuju ruangan pemeriksaan.
__ADS_1
"Mohon tunggu di luar dulu, Nyonya!" Salah satu perawat menahan langkah Bu Asma yang hendak ikut masuk ke dalam ruangan.
Bu Asma menganggukkan kepalanya walau tak rela. Tak berselang lama Dokter Kirana nampak berjalan tergesa-gesa ke arah ruangan pemeriksaan dan langsung masuk ke dalam ruangan setelah sempat memberikan senyum pada Bu Asma.