
Lara tentu saja tak memiliki pilihan lain selain menandatangani surat perjanjian yang Edgar berikan. Dari pada berakhir di klub malam kembali, Lara lebih memilih menjadi istri Edgar saja yang sepertinya cukup menguntungkan baginya.
"Mulai saat ini kau tinggal di sini bersamaku sampai aku memperkenalkan dirimu pada kedua orang tuaku." Ucap Edgar.
"Terima kasih Tuan." Ungkapan Lara kembali membuat Edgar menghela napas setelah mendengarnya.
Edgar pun bangkit duduknya dan meminta Lara mengikutinya menuju sebuah kamar. "Ini kamar untukmu. Ingat, jaga batasan dan sikapmu selama tinggal di apartemenku. Sekali saja kau berani membuat tingkah maka kau akan tahu jawabannya!"
"Ba-baik Tuan." Jawab Lara.
Edgar sejenak terdiam. Sejak tadi ia menunggu Lara melakukan penolakan dengan keputusannya yang meminta wanita itu untuk tinggal di apartemennya sebagai jaminan. "Kenapa kau tidak memintaku untuk mengantarkanmu pulang ke rumah keluargamu?" Pertanyaan itu akhirnya keluar dari mulut Edgar.
Lara terdiam dengan kepala tertunduk. Tidak ingin membuat Lara menjadi marah nantinya, Lara pun akhirnya menjawab. "Karena saya sudah tidak memiliki keluarga, Tuan. Saya hanya sendiri di kota ini."
__ADS_1
Terlihat keterkejutan di wajah Edgar setelah Lara menjawabnya. Edgar rasanya juga ingin bertanya siapakah yang telah menjual Lara pada Tuan Eliot. Namun niat itu ia urungkan karena menurutnya itu tidak penting.
"Tuan, bolehkan saya meminta sesuatu?" Lara bertanya dengan takut-takut.
Edgar menatapnya dengan sebelah alis ditekuk ke atas.
"Saya tidak memiliki baju ganti di sini. Apa boleh saya meminta Tuan membelikan baju untuk saya?" Pinta Lara. Sesungguhnya ia sudah sangat risih dengan pakaian yang ia kenakan saat ini.
Tanpa kata Edgar melangkah begitu saja meninggalkan Lara. Beberapa saat menunggu akhirnya Edgar kembali dengan membawa sebuah baju di tangannya. "Pakai baju ini dulu. Besok aku akan membelikan baju baru untukmu!"
Edgar memilih diam. Ia pun melangkah pergi begitu saja meninggalkan Lara.
Melihat kepergian Edgar membuat Lara segera masuk ke dalam kamar yang diberikan Edgar untuknya. "Papah..." lirih Lara dengan mata berkaca-kaca mengingat sosok yang sangat menyayanginya selama ini. "Seandainya saja papah masih ada, mungkin hidup Lara tidak semenyedihkan ini."
__ADS_1
*
Malam itu Edgar tak bisa tidur dengan tenang di dalam kamarnya. Ia terus saja kepikiran dengan sosok penghuni baru di apartemennya. "Apa pilihanku ini sudah tepat?" Gumam Edgar. Ada sedikit keraguan yang kini ia rasakan karena takut pilihannya kali ini tidak direstui oleh kedua orang tuanya mengingat asal usul Lara.
"Selagi mama dan papa tidak tahu sepertinya aman." Lanjut Edgar kemudian.
Tidak ingin terlalu banyak berpikir, Edgar mencoba kembali menutup kedua kelopak matanya berharap kembali tertidur. Ia harus segera mengistirahatkan tubuhnya untuk menyambut esok hari dimana ia memiliki jadwal bekerja yang cukup padat.
Waktu telah berputar dan tanpa terasa sudah berganti pagi. Egar yang sudah bangun dan membersihkan tubuhnya keluar dari dalam kamar menuju dapur untuk mengambil air minum.
Setelah dekat dengan dapur, keningnya mengkerut halus mendengar suara keributan dari dalam dapur. Edgar pun segera masuk ke dalam dapur untuk melihat penyebab keributan di sana.
"Astaga Lara apa yang kau lakukan!" Pekik Edgar melihat dapurnya yang biasanya tertata rapi kini nampak berantakan dengan bahan-bahan masakan yang berserak dimana-mana.
__ADS_1
***