Noda Menjadi Yang Ke 2

Noda Menjadi Yang Ke 2
S2 - Akhir Penantian


__ADS_3

Edgar menatap wajah istri kecilnya yang nampak tengah menatap wajahnya dengan intens. "Tidak perlu berterima kasih. Kau tidak lupa bukan jika ini semua tidak gratis!"


Lara menganggukkan kepalanya. "Lara tahu. Lara kan sedang belajar membalas kebaikan Kak Edgar."


Edgar mengacak gemas rambut istrinya itu. "Sudahlah, sekarang ayo kita pergi ke makam kedua orang tuamu." Ajak Edgar.


Lara mengangguk.


Keduanya pun melangkah ke arah makam ayah dan ibu Lara.


**


Dua minggu telah berlalu, hubungan Lara dan Edgar semakin membaik walau sesekali diselingi dengan perdebatan kecil karena sikap Lara yang sering membuat Edgar kesal. Walau pun sering dibuat naik darah oleh istri kecilnya itu, namun Edgar tetap menyayanginya. Bahkan rasa sayang Edgar pada Lara semakin bertambah setiap harinya.


Dah hari itu, hari yang ditunggu Edgar dan Lara pun tiba. Hari dimana Lara kembali menempati istana kecilnya setelah hampir satu tahun lamanya terusir dari rumah miliknya sendiri.

__ADS_1


"Apa kau senang karena bisa kembali tinggal di sini?" Tanya Edgar sambil mengusap kepala istrinya dengan sayang.


Lara menganggukkan kepalanya.


Kedua bola matanya nampak berkaca-kaca melihat perabotan di rumahnya sudah berganti dengan yang baru. "Lara sangat senang. Terima kasih Kak Edgar." Jawabnya kemudian memeluk tubuh Edgar.


Edgar tersenyum miring merasakan pelukan istrinya itu. "Ini semua tidak gratis." Ia masih saja menyematkan kata tersebut saat Lara berterima kasih kepadanya.


Bibir Lara mengerucut. Namun ia tetap mengangguk mengiyakan perkataan Edgar.


"Apa uang Kak Edgar tidak habis karena membeli perabotan baru untuk rumah Lara ini?" Tanya Lara. Karena tidak ingin istrinya menggunakan perabotan bekas dua wanita sihir yang sudah merebut hak Lara selama ini, Edgar pun berinisiatif mengganti perabotan di rumah Lara dengan yang baru.


Lara mencubit pinggang suaminya itu hingga membuat Edgar meringis. "Kak Edgar ada-ada saja. Mana mungkin harta Kak Edgar tidak habis sampai tujuh turunan." Jawab Lara seakan tak percaya. Bukan tanpa alasan Lara tak mempercayainya. Alasan terbesarnya tentu saja pekerjaan Edgar saat ini yang tidak memungkinkan Edgar memiliki harta sebanyak itu.


"Kau meragukanku, ya?" Edgar tersenyum smirk.

__ADS_1


Lara pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Baiklah, aku tidak memaksamu untuk percaya dengan perkataanku." Jawab Edgar seakan tak mempermasalahkan apa yang dipikirkan oleh Lara saat ini.


Lara dibuat bertanya-tanya dalam hati setelah mendengarnya. Entah mengapa ia merasa Edgar memiliki maksud dari perkataannya itu.


"Sudahlah, jangan banyak melamun. Nanti kau bisa kerasukan lagi!" Ucap Edgar.


Lara kembali mengerucutkan bibir mendengar perkataan Edgar.


Edgar tersenyum melihat sikap istrinya itu. Kemudian ia kembali membawa Lara berjalan mengelilingi rumah hingga akhirnya sampai di dalam kamar utama yang menjadi kamar Lara dan Edgar saat ini.


"Wah... kamarnya indah sekali..." kedua kelopak mata Lara berkedip-kedip lucu melihat kamar utama yang sudah disulap Edgar bagaikan kamar untuk pengantin baru. Dimana di atas ranjang terlihat taburan bunga mawar merah yang bertuliskan inisal nama keduanya.


"Apa kau suka?" Suara Edgar terdengar parau. Kedua tangan kekarnya pun kini sudah melingkar di perut Lara.

__ADS_1


"Suka..." Lara membalikkan tubuhnya. Ia balik melingkarkan kedua tangannya di leher Edgar. "Lara sangat suka. Kamarnya sudah seperti kamar pengantin baru saja. Padahal kita kan pengantin lama." Jawab Lara malu-malu mau.


***


__ADS_2