Noda Menjadi Yang Ke 2

Noda Menjadi Yang Ke 2
Dia pergi


__ADS_3

"Apa mereka mengatakan akan pindah kemana?" Tanya Edgar cepat. Jantungnya kini berdegub sangat kencang mengetahui istri dari sahabatnya pergi.


"Sayangnya tidak, Tuan. Emila dan ibunya tidak memberitahu kemana mereka akan pindah." Jawabnya.


Semakin lemas saja tubuh Edgar setelah mendengarnya. Tetangga Emila yang merasa sudah tidak lagi memiliki kepentingan di sana pun akhirnya berpamitan untuk kembali ke rumahnya.


"Apa? Emila dan ibunya sudah pergi?" Ucap Edgar lirih. Tidak dapat Edgar bayangkan bagaimana ekspresi Arkana nantinya jika ia memberitahu hal ini kepadanya.


Baru saja Edgar memikirkan reaksi Arkana, ponselnya pun berdering dan menunjukkan notifikasi panggilan masuk dari Arkana.


"Apa aku harus mengangkatnya?" Edgar menimbang-nimbang. Pada akhirnya Edgar pun mengangkat panggilan telefon dari Arkana karena panggilan itu tidak akan berhenti selagi ia tidak mengangkatnya.


"Hallo, Edgar. Bagaimana? Apa Emila baik-baik saja?" Arkana langsung mencecar Edgar dengan sebuah pertanyaan.


Edgar diam tak langsung menjawab pertanyaan Arkana. Tak mendapatkan jawaban dari Edgar, Arkana pun mengulang pertanyaan yang sama.


"Ed... jawab pertanyaanku sekarang juga!" Titahnya.


"Emila dan ibunya tidak ada di rumah." Jawab Edgar pelan namun dapat didengar dengan jelas oleh Arkana.

__ADS_1


"Kemana mereka pergi? Apa mereka pergi ke pasar?" Tanya Arkana cepat.


"Sayangnya tidak." Masih berucap pelan.


"Berkatalah dengan benar. Katakan kemana mereka pergi? Apa mereka pergi berjalan-jalan atau memana?!" Desak Arkana.


"Mereka pergi meninggalkan kota ini." Jawab Edgar jujur pada akhirnya.


"Apa?!" Suara Arkana terdengar melengking dan menyakitkan telinga Edgar.


"Emila dan ibunya sudah tidak lagi tinggal di rumah ini. Kemarin mereka berpamitan pada tetangga di dekat sini jika mereka akan pindah ke luar kota." Jawab Edgar.


"Tapi itulah kenyataannya, Ar." Tak ingin membuat Arkana terlalu lama tidak percaya dengan perkataannya, Edgar pun mengalihkan panggilan telefon ke panggilan video.


Saat panggilan video sudah terhubung, Edgar memperlihatkan pada Arkana kondisi pintu rumah Emila yang nampak tertutup dan jendela yang tidak terbuka tidak seperti biasanya.


"Tidak... ini tidak mungkin. Emila tidak mungkin pergi meninggalkan aku!" Pekik Arkana frustrasi.


"Tenangkan dirimu, Ar." Titah Edgar.

__ADS_1


"Aku tidak bisa tenang. Bagaimana bisa kau memintaku untuk tenang di saat istriku pergi meninggalkan aku seperti ini!" Pekik Arkana.


Edgar diam membiarkan Arkana mengontrol emosinya lebih dulu.


"Aku akan kembali ke Pekanbaru sekarang juga!" Ucap Arkana kemudian lalu mematikan sambungan telefonnya.


"Astaga... bagaimana ini." Edgar merasa bingung harus berbuat apa. "Bukankah pekerjaannya belum selesai hari ini? Lalu bagaimana caranya dia bisa kembali ke sini." Ucap Edgar merasa bingung.


Karena tidak ada lagi yang bisa Edgar lakukan di depan rumah Emila yang sudah kosong tidak ada penghuni, Edgar pun memilih kembali ke apartemennya untuk membersihkan tubuhnya lebih dulu.


Arkana yang tidak main-main dengan perkataannya langsung saja membereskan barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam koper. Tak lupa Arkana memberikan pesan pada asistennya untuk menyelesaikan pekerjaan yang ia tinggalkan. Arkana tidak memperdulikan apakah proyek yang sedang ia incar saat ini berhasil ia dapatkan atau tidak. Yang terpenting menurutnya saat ini adalah istri keduanya. Ia harus segera kembali ke kota Pekanbaru dan memastikan perkataan Edgar jika istrinya sudah pergi meninggalkan kota tempat tinggalnya itu.


***


Sebelum lanjut, jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.


Sambil menunggu Emila dan Ar update, silahkan mampir di novel shy yang lagi on going juga berjudul Mahasiswaku Suamiku, ya🖤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗

__ADS_1


__ADS_2