
Lara memilih tidak menjawab pertanyaan dari Angga karena menurutnya Aga tidak harus tahu tentang permasalahannya saat ini terlebih permasalahan tersebut tentang keluarga. Karena tidak ingin terlalu ikut campur dengan urusan pribadi Lara dan membuat Lara akhirnya tidak nyaman berteman dengannya, Angga pun menghargai Lara yang tidak ingin memberitahukan hal tersebut kepadanya.
Hampir seharian berada di kampus hari itu, Lara memilih lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kelas karena tidak ingin bertemu lagi dengan Celine. Ia tidak ingin kakak tirinya berani mendekatinya lagi dan akhirnya membuat keonaran.
Kegiatan Lara di kampus hari itu akhirnya selesai saat waktu menunjukkan pukul setengah empat sore. Karena hari itu Edgar tidak bisa datang menjemputnya, akhirnya Lara memutuskan pulang menggunakan bus saja.
Saat sedang menunggu kedatangan bus di halte, samar-samar Lara mendengar suara bisikan dar arah belakang yang tengah menceritakan tentang dirinya.
"Setahuku dia itu bekerja sebagai wanita malam karena aku pernah melihatnya berada di klub milik Tuan Jacob dan sedang menggoda pria hidung belang." Bisikan tersebut jelas saja berasal dari Celine yang sedang menceritakan keburukan Amara pada teman kelasnya.
"Masa sih? Padahal wajahnya nampak polos, ya. Tapi ternyata kelakuannya tidak sepolos wajahnya."
Celine dan dua orang temannya terus saja membicarakan Lara dengan suara yang terdengar cukup keras seakan ingin pembicaraan mereka didengar oleh yang lainnya.
__ADS_1
Lara memilih diam tak menyahut. Ia membiarkan ketiga orang tersebut terus menceritakannya sambil menahan rasa sakit di dadanya.
*
Hinaan Celine dan kedua temannya untuk dirinya terus terngiang di kepala Lara saat sudah berada di apartemen. Lara sungguh merasa sedih. Ia sampai tak bisa mengontrol suasana hatinya lagi hingga akhirnya hanya bisa menangis di ruang tamu apartemen.
Tanpa Lara ketahui, ternyata Edgar melihat kondisinya yang menyedihkan itu. Edgar yang awalnya berniat memastikan Lara sudah berapa di apartemen dibuat bingung melihat rekaman cctv menunjukkan jika Lara sedang menangis saat ini.
"Ada apa dengannya, kenapa dia menangis begitu?" Gumam Edgar penasaran.
Masuk ke dalam apartemen, Edgar mengedarkan pandangan mencari keberadaan Lara. Tak melihat keberadaan Lara dimana-mana, Edgar langsung saja melangkah ke arah kamar. Ia percaya jika Lara sedang berada di kamar mereka saat ini.
"Lara." Suara Edgar yang terdengar cukup keras tak berhasil membuyarkan Lara yang sedang melamun duduk di pinggir ranjang.
__ADS_1
Edgar menghela napas melihatnya. Kaki jenjangnya pun kemudian melangkah mendekati Lara lalu menepuk pundak Lara berharap menyadarkan istrinya.
"Kak Edgar." Lara menatap Edgar dengan kedua mata berkaca-kaca.
"Ada apa denganmu, kenapa kau nampak bersedih?" Tanya Edgar.
Lara hanya diam dengan mata berkilat merah. Melihat diamnya Lara membuat Edgar kembali bertanya dengan sedikit mendesak meminta jawaban.
"Tadi aku bertemu dengan Kak Celine." Jawab Lara lalu menceritakan kejadian saat berada di dalam kamar mandi. Tak lupa Lara menceritakan tentang hinaan Celine dan kedua temannya untuknya.
Kali ini Edgar yang dibuat diam. Dalam benaknya kini bertanya-tanya tentang pekerjaan Lara.
"Lara, bisakah kau menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi kepadamu sehingga kau bisa bekerja di klub milik Tuan Jacob?" Walau merasa ragu untuk bertanya, namun akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulut Edgar.
__ADS_1
***