
"Ini adalah Baby, anak pertamaku." Flower memberitahu Lara yang kini tengah menatap wajah Baby tanpa berkedip.
"Wah, Baby cantik sekali ya seperti Nona Flow." Puji Lara.
Flower tersenyum mendengarnya. "Panggil aku Flower saja." Jawabnya.
"Baiklah." Jawab Lara ikut tersenyum.
Malik dan Edgar yang sejak tadi hanya diam akhirnya saling bersuara. Bercerita satu sama lain tentang masalah yang sedang Edgar hadapi saat ini dan solusi yang sudah Malik dapatkan. Flower dan Lara memilih diam mendengarkan cerita suami mereka masing-masing.
Ada rasa haru yang Lara rasakan saat ini mendengar bagaimana Edgar begitu berjuang mendapatkan haknya sebagai pewaris kekayaan sang ayah. "Kak Edgar baik sekali." Ucap Lara dalam hati. Tanpa Lara sadari, kini salah satu sudut matanya sudah basah oleh air mata.
Pandangan Edgar beralih pada Lara setelah selesai berbicara dengan Lara. Dilihatnya wajah istrinya itu tengah menunduk dengan wajah sendu.
__ADS_1
"Lara," panggil Edgar. Wajah Lara terangkat. Kini Edgar dapat melihat dengan jelas sudut mata Lara yang basah. "Kau menangis?" Tanya Edgar kemudian.
"Tidak, Kak." Lara yang tidak menyadari jika sudut matanya basah pun segera mengusapnya.
"Itu, matamu berair, Lara." Flower menimpali.
Lara tersenyum kaku menatap Flower. "Lara terharu saja Kak Flow." Cicitnya jujur.
Flower tersenyum mendengarnya. Sebagai seorang wanita, ia dapat merasakan perasaan Lara saat ini. Flower pun memanggil dia orang pelayannya untuk membawa Baby dan Boy ke kamar mereka. Setelah kepergian sang anak, Flower pun menatap wajah Lara dengan intens.
Lara tersenyum menatap wajah Flower yang nampak begitu tulus saat menatapnya. "Kak Flow juga sangat baik. Terima kasih Kak Flow sudah mendoakan yang terbaik untuk Lara."
Flower mengangguk mengiyakannya. "Setelah ini, kau harus menjadi wanita yang kuat. Rebut kembali apa yang seharusnya menjadi milikmu!"
__ADS_1
Lara menganggukkan kepalanya mengiyakan perkataan Flower. "Tapi jika Lara sudah mendapatkan rumah ayah kembali, lalu dengan siapa Lara akan tinggal di sana, Kak? Lara kan takut jika hanya sendiri. Mama Tiara dan Kak Celine juga bisa saja tiba-tiba datang dan berbuat jahat pada Lara." Cicit Lara.
"Tentu saja dengan suamimu, Lara" Flower tertawa setelah berucap. "Edgar tidak mungkin membiarkanmu sendirian di sana Lara. Dia pasti akan melindungimu dari dua wanita jahat itu." Flower tak dapat menahan tawa melihat Lara yang sangat polos. Karena bisa-bisanya Lara melupakan jika ia sudah bersuami dan sudah pasti suaminya akan ikut kemana pun Lara pergi dan akan menjaganya.
Edgar yang mendengarkannya pun berdecak sebal. Bisa-bisanya istrinya itu tidak menganggap keberadaannya sebagai seorang suami.
Malik yang mendengarkannya pun hanya bisa menggelengkan kepala. Ternyata informasi yang ia dengar tentang Lara benar. Istri Edgar itu masih sangat polos dan butuh arahan agar bisa segera dewasa.
"Hehe, iya juga ya. Kan Lara bisa mengajak Kak Edgar dan Bi Surti untuk tinggal bersama Lara."
"Kau ini benar-benar." Edgar berucap pelan.
Flower pun akhirnya terdiam setelah cukup tertawa beberapa saat. "Jika melihat sikap Lara yang polos seperti ini, sepertinya aku harus turun tangan membantu Lara menghajar ibu tiri dan kakak tirinya." Ucap Flower dalam hati.
__ADS_1
Kini ia sangat menggebu-gebu melakukan perlawanan pada kedua orang wanita yang sudah sangat jahat kepada Lara selama ini. Bukan hanya bisa disebut wanita jahat, Mama Tiara dan Celine juga bisa disebut wanita berhati iblis karena tidak punya hati nurani menjual Lara ke klub milik Tuan Jacob.
***