
Bu Asma tersenyum seraya mengusap lengan putrinya. "Mama yakin suatu saat nanti kau akan mendapatkan pria yang sangat menyayangimu seperti Malik menyayangi Flower." Tuturnya lembut.
Emila hanya tersenyum karena ia tidak yakin wanita seperti dirinya akan mendapatkan kebahagiaan seperti yang Flower rasakan saat ini.
*
Keesokan harinya.
"Edgar, ayo cepat datang ke rumah Emila karena aku merasa ada yang tidak beres dengannya saat ini!" Arkana langsung menyuarakan perintah pada Edgar saat panggilan telefon baru saja terhubung.
"Ewh... kau bilang apa?" Lenguh Edgar yang belum terkumpul nyawanya.
"Cepat pergi ke rumah Emila sekarang juga! Kau tidak bekerja kan hari ini!" Suara Arkana terdengar lebih keras.
Edgar sampai menjauhkan ponsel dari telinganya karena suara Arkana terdengar memekakkan telinganya.
"Kau dengar aku tidak!" Ucap Arkana lagi dengan keras karena Edgar hanya diam saja.
"Tidak. Katakan lagi dengan lebih jelas dan pelan!" Edgar balik memberikan perintah.
Arkana menghela nafas kasar. "Aku minta saat ini kau pergi ke rumah Emila karena aku merasa ada yang tidak beres dengannya saat ini." Titah Arkana lagi dengan lebih pelan.
__ADS_1
"Kenapa kau tidak menghubunginya saja tanpa memintaku datang ke rumahnya!" Ketus Edgar merasa sebal.
"Karena nomer ponselnya tidak bisa dihububungi begitu pula dengan nomer ponsel ibunya. Jika bisa aku tidak akan menyuruhmu datang ke rumahnya!" Seru Arkana.
Edgar terdiam setelah mendengarnya. "Nomer Emila tidak bisa dihubungi?" Edgar mulai merasa was-was.
"Ayo tolong aku, Ed. Cepat periksa Emila dan Ibunya ke rumahnya!" Pintar Arkana.
"Baiklah. Aku akan pergi sekarang juga!" Ucap Edgar lalu mematikan sambungan telefonnya. Tanpa mencuci wajah atau menggosok giginya lebih dulu, Edgar langsung saja melesat pergi ke rumah Emila.
"Semoga saja apa yang aku pikirkan tidak terjadi." Gumam Edgar merasa awas.
Edgar segera melangkahkan kakinya menuju pintu rumah dan mengetuk pintu. Ia sampai berteriak memanggil nama Emila dan ibunya karena tidak ada satu pun orang yang menyahut panggilan telefonnya dari dalam rumah.
"Emila... ini aku Edgar. Apa kau ada di dalam?!" Teriak Edgar.
Sudah beberapa kali ia berteriak memanggil nama Emila dan ibunya namun tidak ada satu pun dari mereka yang menyahut panggilannya.
"Astaga... jangan-jangan..." Edgar mulai berprasangka buruk.
Seorang tetangga Emila dan Bu Asma yang merasa terganggu dengan teriakan Edgar pun datang menghampiri Edgar.
__ADS_1
"Ada apa ini, Tuan? Kenapa anda berteriak di depan rumah Emila?" Tanyanya bingung.
"Karena panggilan saya tak kunjung disahut oleh pemilik rumah dan mereka tak kunjung keluar sejak tadi." Jawab Edgar seadanya.
"Tentu saja mereka tidak menyahut panggilan anda Tuan karena mereka sudah tidak lagi tinggal di rumah ini."
"Apa?!" Edgar terbelalak. "Emila dan Ibunya tidak tinggal lagi di rumah ini?!" Ulangnya keras.
Wanita paruh baya itu mengangguk mengiyakan perkataan Edgar. "Mereka sudah pindah ke luar kota sejak tadi malam." Ucapnya.
"Apa..." Edgar menggeleng-gelengkan kepalanya merasa tak percaya.
"Kemarin sore Emila dan ibunya berpamitan pada tetangga di sini jika mereka akan pindah ke luar kota."
***
Sebelum lanjut, jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Emila dan Ar update, silahkan mampir di novel shy yang lagi on going juga berjudul Mahasiswaku Suamiku, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗
__ADS_1