
Pengacara tersebut melakukan tugasnya dengan mengeluarkan berkas yang berada di dalam tas kemudian meletakkannya di atas meja. "Silahkan dibacanya, Ibu Tiara." Ucapnya datar diikuti tatapan dingin.
Mama Tiara hanya memandang berkas itu tanpa berniat mengambil atau membacanya.
"Ayo dibaca. Kenapa hanya dilihat saja!" Flower nampak geram.
"Saya tidak mau!" Sentak Mama Tiara.
"Oh, begitu, ya. Apa perlu saya yang membacakannya kepada anda?" Flower menawarkan dengan nada ancaman.
"Tidak! Saya tidak ingin membaca atau mendengarnya. Lagi pula apa maksud kalian ini, saya bisa menuntut kalian karena sudah membuat onar di rumah saya dan menuduh tanpa bukti!"
"Tanpa bukti?" Flower tertawa. "Sudah jelas berkas yang ada di depan anda saat ini adalah buktinya! Anda bukanlah pemilik rumah ini dan sudah merampasnya dari Lara!"
__ADS_1
Mama Tiara tersenyum miring. "Saya memiliki bukti yang kuat jika rumah ini adalah rumah saya!"
"Oh begitu, kalau begitu mana buktinya? Saya ingin melihatnya?" Flower menantang. Setidaknya ia bisa melihat bukti palsu itu terlebih dahulu sebelum melemparkan bukti nyata ke wajah Mama Tiara.
Mama Tiara tak mengeluarkan suara. Ia segera beranjak dari posisi duduk. Melangkah ke arah kamarnya berada dengan langkah tergesa-gesa.
"Dasar pengganggu, lihat saja kalian akan aku buat kalian mati kutu setelah melihat bukti surat kepemilikan rumah ini!" Gerutu Mama Tiara.
Celine yang masih duduk diam di posisinya menatap Lara dengan tatapan tak bersahabat. "Hey Lara, sebenarnya apa yang sudah kau katakan pada Dokter Edgar dan orang-orang ini sehingga mereka datang untuk mengacau di rumah ini!" Tanya Celine ketus. Sejak tadi ia sudah menahan rasa kesal dan amarah pada mantan adik tirinya itu. Tidak ia pedulikan sikap ketusnya saat ini walau ada Edgar di dekat mereka.
"Alah, tidak mungkin kau tidak mengatakan apa-apa! Kau pasti sudah menuduhku dan Mama yang bukan-bukan kan?!"
"Hey, jangan berani menuduh Lara yang bukan-bukan. Kalau pun Lara menuduhmu dan ibumu itu, itu semua adalah benar!" Sentak Flower merasa geram dengan Celine.
__ADS_1
Celine menatap datar wajah Flower. Entah mengapa ia merasa tidak asing dengan wajah wanita yang berada di depannya saat ini. Namun, Celine mengesampingkan rasa penasarannya. Menurutnya untuk saat ini itu tidak penting. Yang terpenting adalah mengusir Lara dan semua orang yang berada di depannya saat ini keluar dari rumahnya.
"Jangan ikut campur urusan saya dan Lara jika anda tidak tahu apa masalahnya, ya!" Celine nampak berani menghardik Flower.
"Kalau saya mau ikut campur lalu kau mau apa?!" Flower melototkan kedua matanya. Ia sampai berkacak pinggang menatap pada Celine.
Celine hendak menyahut. Namun kedatangan Mama Tiara kembali mengurungkan niatnya. Akhirnya ia hanya bisa menatap wajah Flower dengan sinis seakan berkata lewat tatapannya jika ia akan menang saat ini.
"Mamah," Celine menatap tak sabar sang mama yang sedang berjalan sambil membawa sebuah map di tangannya.
Mama Tiara berjalan sedikit tergesa-gesa lalu melemparkan surat rumah beserta surat wasiat di atas meja.
"Baca itu, di sana tertulis jelas jika saya adalah pemilik sah rumah ini. Dan ayah dari Lara sudah memberikan rumah ini kepada saya bukan pada dia!" Mama Tiara menunjuk Lara dengan jari telunjuknya.
__ADS_1
"Oh, begitu." Flower menjawab santai lalu mengambil surat palsu tersebut.
***