
Ceklek
Mendengar pintu kamar yang terbuka dari luar membuat pandangan Arkana beralih ke sumber suara. Dilihatnya Lady nampak masuk ke dalam kamar dan tengah tersenyum manis kepadanya.
"Ayo turun. Sudah saatnya makan malam." Ajak Lady pada Arkana.
Arkana tak menjawabnya karena kini ia sedang fokus mengontrol dirinya agar tidak terbawa emosi dengan istrinya tersebut.
"Sayang, ayo turun." Ajak Lady lagi.
"Baiklah." Jawab Arkana singkat lalu melangkah ke arah Lady.
Arkana, ingat, jangan terbawa emosi atau misimu akan gagal! Ucap Arkana dalam hati mengingatkan dirinya.
Setelah keluar dari dalam kamar, Arkana melangkah lebih dulu diikuti Lady di belakangnya. Lady yang merasa ada perubahan di dalam diri Arkana dibuat sebal namun sebisa mungkin menahan dirinya agar tidak marah pada Arkana.
Saat makan malam berlangsung baik Arkana ataupun Lady hanya diam menyantap makanan mereka masing-masing. Tidak ada satupun di antara mereka yang berniat bersuara hingga akhirnya makan malam pun selesai.
__ADS_1
"Kau ingin kemana?" Tanya Lady saat melihat Arkana hendak bangkit dari duduknya.
"Aku hanya ingin ke ruangan kerjaku. Ada yang ingin aku kerjakan malam ini." Jawab Arkana.
"Kenapa buru-buru sekali? Kita bahkan belum ada berbicara sama sekali setelah makan." Ucap Lady.
"Ini kita sedang berbicara." Jawab Arkana.
Lady kembali menahan sebal dalam hati.
"Jadi kau ingin kita berbicara apa?" Tanya Arkana karena istrinya hanya diam saja.
Arkana terpaksa mengiyakannya. Mereka pun akhirnya beranjak meninggalkan ruang makan menuju ruang tengah.
"Jadi apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Arkana.
"Sayang, aku tahu sampai saat ini aku belum bisa memberikan keturunan kepadamu. Tapi walau pun begitu aku tidak ingin kau jadi berubah sikap kepadaku hanya karena ada anak yang tumbuh di dalam kandungan Emila saat ini." Ucap Lady.
__ADS_1
"Kenapa kau masih saja menuntut banyak hal kepadaku, Lady? Kau tahu apa yang terjadi pada kami di luar kehendakku. Dan aku tidak bisa selalu mengiyakan perkataanmu sekali pun aku bersalah." Jawab Arkana.
Lady mengeluarkan jurus andalannya yaitu menangis. "Kau tanya kenapa? Itu semua karena aku terluka Arkana. Kau tidak tahu betapa hancurnya aku saat kau mengatakan sudah menghamili wanita lain bahkan sudah menikah dengannya." Ucap Lady sedikit keras.
Arkana menghela nafasnya. "Aku tahu kau terluka dan aku meminta maaf untuk itu. Tapi apa kau yakin jika saat ini hanya kau yang terluka? Apa kau yakin jika hanya aku yang membuat luka itu?" Tanya Arkana.
"Apa maksud perkataanmu Arkana?" Tanya Lady bingung dengan sisa air matanya.
"Sudahlah, aku tidak ingin kita berdebat malam ini. Begitu banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Aku minta jangan lagi menuntut hal yang sulit untuk aku lalukan. Aku sudah cukup menerima semua syarat yang kau berikan kepadaku tadi malam." Pinta Arkana.
"Tapi..." perkataan Lady terhenti saat Arkana menatapnya datar.
"Tapi apa lagi?" Tanya Arkana.
"Tapi masih banyak hal yang ingin aku minta kepadamu Arkana." Jawab Lady.
"Aku rasa syarat yang kau berikan tadi malam sudah cukup Lady. Apa kau ingin meminta aku membayar semua kesalahanku dengan nyawaku?" Tanya Arkana tegas. Ia sudah merasa pusing dengan sikap istrinya itu yang suka menyalahkan dirinya tanpa tahu diri jika dirinya juga bersalah.
__ADS_1
***