
Pertempuran Edgar dan Lara malam itu akhirnya membuat tubuh Lara terasa remuk setelah ia membuka kedua kelopak matanya. Bukan hanya sekedar remuk, namun Lara juga merasakan sakit di bagian intinya hingga membuatnya jadi kesusahan untuk berjalan.
"Mau aku bantu ke kamar mandi?" Tawar Edgar saat Lara menghentikan langkahnya ke kamar mandi sebab merasa sakit di bagian intinya.
"Tidak. Lara bisa sendiri." Tolak Lara cepat kemudian kembali melanjutkan langkah menuju kamar mandi dengan langkah pelan.
Edgar merasa gemas sendiri melihat pergerakan istrinya itu. Tanpa aba-aba, ia langsung saja mendekat dan mengangkat tubuh Lara hingga melayang di udara.
"Aaa...!!" Lara terpekik kuat merasakan tubuhnya yang tiba-tiba melayang di udara dan selembar selimut yang tadinya melilit tubuh polosnya sudah terlepas begitu saja.
"Kenapa Kak Edgar menggendong Lara. Ayo turunkan Lara!" Ucap Lara keras sambil memberontak dalam gendongan Edgar.
"Tidak ada bantahan. Jalanmu sudah sama seperti siput!" Edgar menjawab sambil melangkah ke arah kamar mandi.
Lara yang merasa tidak berguna untuk memberontak pun akhirnya membiarkan saja Edgar menggendongnya sampai ke dalam kamar mandi hingga akhirnya menurunkan tubuhnya dengan hati-hati.
"Emh..." Edgar meneguk salivanya susah payah melihat tubuh polos istrinya yang nampak putih bersih.
__ADS_1
Melihat tatapan mata Edgar membuat Lara mendekat kedua dadanya dan segera membelakangi tubuh Edgar.
"Lara malu. Sekarang lebih baik Kak Edgar keluar dari sini!" Usir Lara.
"Kenapa harus malu? Bukannya aku sudah melihatnya sejak kemarin bahkan merasakannya."
"Kak Edgar..." Lara terpekik kembali. Kedua pipinya pun sudah terasa panas mendengar perkataan Edgar yang terdengar frontal. "Ayo keluar sekarang karna lara mau pup!" Usir Lara. Rasa sakit di perutnya semakin bertambah diikuti rasa panas di kedua pipinya.
Edgar menahan tawa. "Aku mau di sini saja. Mana tahu kau masih membutuhkan bantuanku." Jawabnya kemudian.
Lara lantas menggeleng dengan posisi masih membelakangi Edgar. "Ayo keluar Kak karna pup Lara tidak kau keluar jika dimandor oleh Kak Edgar!"
**
Drama kamar mandi pagi itu pun akhirnya selesai. Edgar dan Lara kini nampak sudah saling berpakaian dengan rapi untuk menyambut kedatangan kedua orang tua Edgar dan teman-teman Edgar dan Lara.
"Masih sakit tidak?" Bisik Edgar di telinga Lara.
__ADS_1
Lara menganggukkan kepalanya. "Lara susah jalan ini, Kak." Ucapnya dengan bibir mengerucut.
Edgar jadi gemas melihatnya. "Mau aku bawakan kursi roda?" Tawarnya.
Puk
Lara tanpa sadar menepuk keras lengan suaminya. "Tidak perlu. Lara bukan orang sakit yang harus duduk di kursi roda. Lagi pula apa kata Mama dan Papa nanti kalau lihat Lara naik kursi roda." Gerutunya.
Edgar jadi tertawa. Dan tawanya itu terlihat menyebalkan di mata Lara yang melihatnya.
Suara bel yang terdengar berbunyi dari luar mengalihkan pandangan Edgar dan Lara ke sumber suara.
"Sepertinya Mama dan Papa sudah datang." Edgar bergegas melangkah ke arah pintu berniat membukanya.
Lara pun mengikutinya dari belakang dengan langkah pelan.
Saat pintu baru saja terbuka, Edgar dibuat terkejut melihat seseorang yang berdiri di belakang kedua orang tuanya dan tengah tersenyum manis kepadanya.
__ADS_1
***