
Setelah mengetahui jika ibu tirinya ditangkap oleh polisi, Lara pun langsung saja menghubungi Edgar. Memberitahu Edgar atas apa yang ia dengar di kampus.
Mendengar cerita Lara tak membuat Edgar terkejut mendengarnya. Karena sebelum diberitahu oleh Lara, Edgar sudah mengetahuinya lebih dulu dari Malik.
"Lalu kenapa, apa kau sedih ibu tirimu itu ditangkap polisi?" Tanya Edgar. Mendengar suara Lara yang terdengar parau saat ini membuat Edgar menyimpulkan demikian.
"Emh, Lara sedih, Kak." Jawabnya jujur. Bagaimana pun juga Lara masih memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi.
Edgar di seberang sana terdengar menghembuskan napas kasar. "Tidak perlu sedih karena mereka. Apa yang terjadi pada mereka saat ini adalah balasan atas sikap buruk mereka kepadamu selama ini."
Lara menganggukkan kepalanya walau Edgar tak dapat melihatnya.
"Sudahlah, sekarang lebih baik lanjutkan kuliahmu dengan benar dan jangan mengingat mereka lagi." Pesan Edgar.
Lara kembali mengangguk tanpa suara. Kemudian ia mematikan sambungan telefonnya karena Edgar sudah memintanya kembali masuk ke dalam kelas.
Di seberang sana, Edgar terdengar mengumpat sebal karena sang istri mematikan sambungan telefon tanpa bersuara lebih dulu.
__ADS_1
"Kebiasaan sekali dia ini!" gerutu Edgar.
Ghina yang tadinya hendak masuk ke dalam ruangan Edgar tak sengaja mendengar pembicaraan Edgar dan Lara di akhir telefon. "Apa Edgar benar sudah menikah dan istrinya itu masih mahasiswa?" Gumam Ghina menduga-duga karena sempat mendengar Edgar meminta Lara untuk melanjutkan perkuliahannya dengan baik.
"Ehm." Deheman suara Edgar yang terdengar cukup keras mengagetkan Ghina yang sedang melamun di depan pintu.
Ghina terkesiap. Menyadari jika pintu ruangan Edgar yang tadinya terbuk sebagian kini sudah terbuka sepenuhnya.
"Dokter Ghina, kenapa anda ada di depan ruangan saya? Apa ada sesuatu yang bisa saya bantu?" Tanya Edgar formal sambil menatap wajah Ghina dengan datar.
Ghina jadi salah tingkah. Bingung menjawab pertanyaan Edgar saat ini.
**
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas siang saat Lara baru saja keluar dari dalam kelas perkuliahannya yang kedua. Lara dan Sherly yang baru saja keluar dari dalam kelas dibuat terkejut saat melihat kedatangan seorang wanita menghadang jalan mereka.
"Kak Flower?" Ucap Lara sedikit keras menatap pada Flower.
__ADS_1
Wanita yang disebut namanya tersenyum pada Lara. "Hai, Lara." Flower tersenyum manis pada Lara.
Lara balik tersenyum.
Sherly yang berada di sebelah Lara kini nampak terkejut melihat sosok wanita yang sangat tidak asing di matanya berada di depannya.
"Nona Flower?" Sapanya ramah pada Flower.
Flower balik tersenyum kepadanya kemudian mengulurkan tangan untum berjabat tangan.
"Sherly, kau kenal dengan Kak Flower?" Lara nampak kembali terkejut mendengar Sherly menyebut nama Flower.
"Ya, jelas saja aku mengenal Nona Flower, Lara. Nona Flower ini adalah anak dari Tuan William pemilik perusahaan tempat ayahku bekerja." Beri tahu Sherly.
Lara terkesiap mendengarnya. Ditatapnya wajah Flower yang kembali tersenyum kepadanya.
Beberapa orang teman-teman Lara yang baru saja keluar dari dalam kelas pun ikut terkejut melihat kedatangan Flower ke kampus mereka. Beberapa dari mereka pun memberanikan diri untuk menyapa Flower yang terkenal ramah dan baik hati.
__ADS_1
"Oh ya, Lara. Kedatanganku ke sini bertujuan untuk menjemputmu pulang dan mengajak pergi berjalan-jalan bersama kedua anakku." Beri tahu Flower setelah selesai membalas sapaan teman-teman Lara.
***