
Arkana hanya diam saja mendengarkan perkataan Edgar. Entah perasaan apa yang ia rasakan saat ini. Apakah perasaan senang atau justru sebaliknya. Arkana pun belum bisa memikirkan jawaban apa yang akan ia berikan pada mamanya nanti saat mamanya mengetahui dirinya sudah menikah lagi dengan wanita yang sudah dihamilinya.
Tidak seperti pasangan suami istri pada umumnya, setelah hari pernikahan mereka selesai, Arkana tidak tinggal bersama dengan Emila justru pulang ke kediamannya dan Lady. Hal itu sudah menjadi kesepakatan di antara mereka sehingga Arkana tak lagi banyak protes dan bertanya.
"Sayang, ada apa denganmu? Kenapa wajahmu nampak pucat?" Tanya Lady merasa cemas melihat wajah pucat Arkana saat masuk ke dalam kamar mereka.
"Aku tidak apa-apa. Hanya lelah saja." Jawab Arkana berbohong. Sebenarnya sejak tadi ia menahan rasa mualnya karena mencium aroma mobilnya sendiri.
"Benarkah begitu?" Lady tak percaya begitu saja.
Arkana menganggukkan kepalanya. "Istirahatlah. Aku ingin mandi dulu." Ucap Arkana.
Lady menahan pergerakan Arkana. "Kau tidak lupa bukan jika malam ini jadwal kita untuk bercinta?" Tanya Lady.
Arkana terdiam. Ditatapnya wajah istrinya itu dengan intens.
__ADS_1
"Sayang..." Lady kembali bersuara karena Arkana terlalu lama menjawab pertanyaannya.
"Sepertinya malam ini aku tidak bisa. Tubuhku terasa lelah sekali." Ucap Arkana. Bukan hanya lelah, ia juga merasa pusing atas apa yang sudah terjadi akhir-akhir ini kepadanya.
Lady memperhatikan punggung lebar suaminya yang kini sudah semakin menjauh darinya. "Ada apa dengannya? Kenapa dia terlihat berbeda." Gumam Lady. Sejujurnya Lady merasakan perubahan di dalam diri suaminya. Namun Lady memilih tak memikirkannya dan fokus pada kegiataannya saja.
Ting
Sebuah notifikasi khusus masuk ke dalam ponselnya dan terdengar oleh telinganya membuat senyuman lebar terbit di wajah Lady. Wanita itu segera melangkah ke arah nakas untuk mengambil ponselnya dan segera membuka pesan masuk ke ponselnya tersebut.
*
"Apa ini?" Tanya Emila sambil menatap kartu ATM bewarna gold di tangannya.
"Itu adalah ATM yang bisa kau pergunakan untuk membeli kebutuhan sehari-harimu dan calon anak kita." Jawab Arkana seadanya.
__ADS_1
Emila kembali menatap kartu bewarna gold tersebut. Ia tidak berniat untuk menolak nafkah dari pria itu sehingga ia langsung saja menerimanya.
"Terima kasih. Kau memang pria yang bertanggung jawab." Ucap Emila.
Arkana menganggukkan kepalanya. "Aku minta setelah ini kau berhenti bekerja di toko Mama. Aku ingin kau fokus pada kehamilanmu dan perbanyak istirahat di rumah." Pinta Arkana.
"Aku sudah memimirkan hal itu. Dua minggu lagi aku akan berhenti bekerja di toko." Jawab Emila.
"Baguslah kalau begitu. Aku tahu kau wanita yang penurut." Ucap Arkana.
Emila hanya diam saja.
Karena sudah tidak ada lagi yang ingin ia bicarakan dengan istrinya, akhirnya Arkana pun berpamitan untuk pergi ke perusahaan miliknya.
"Aku akan mempergunakan nafkah ini dengan baik untuk bekal masa depan aku, mama dan anak-anakku nanti." Gumam Emila setelah kepergian Arkana. Ada sebuah hal yang sudah Emila rencanakan setelah persalinannya nanti. Tentu saja rencananya itu untuk keamanan anak-anaknya dan dirinya agar jauh dari Arkana dan keluarganya.
__ADS_1
***