
Edgar terpaku di tempatnya berdiri setelah mendapatkan ciuman dari Lara. Bukan hanya sekali, namun Lara menciumnya sebanyak dua kali. Di pipi kiri dan kanan.
"Ayo kemarikan tasnya, Kak!" Lara mengulurkan tangan ke arah tas yang sedang dipegang oleh Edgar.
Rasa terkejut Edgar pun akhirnya buyar mendengar permintaan Lara. Ia tak menyerahkan tas tersebut justru menatap wajah istrinya penuh selidik. "Apa yang kau lakukan tadi?" Tanyanya datar.
"Salim dengan Kak Edgar lalu mencium Kak Edgar." Jawab Lara apa adanya.
Edgar menautkan kedua alis matanya mendengar Lara yang begitu santai menjawab pertanyaannya. Untuk pertama kalinya istrinya itu begitu berani melakukan sentuhan fisik kepadanya.
"Kau... siapa yang mengajarimu jadi mesum begini?" Cecar Edgar. Pikiran buruk mulai berkeliaran di kepalanya memikirkan Lara pernah melakukan hal tersebut pada pria lain.
"Kak Flower." Jawab Lara seadanya.
"Hah?" Edgar kembali terperangah. Kedua bola matanya nyaris keluar dari dalam wadahnya merasa tak percaya dengan jawaban Lara.
__ADS_1
Lara hanya tersenyum tanpa dosa. Ia bahkan tak terlihat canggung setelah melakukan sentuhan pada suaminya. "Ayo kemarikan tasnya, Kak. Lara mau menyiapkan air untuk Kakak mandi." Lara kembali menyodorkan tangannya.
Edgar pun akhirnya menyerahkan tas sandangnya pada Lara. Kemudian istrinya itu beranjak ke arah kamar dengan hati gembira karena sudah berhasil melakukan tugasnya dengan baik.
"Astaga, apa yang telah Nona Flower ajarkan pada Lara sehingga dia berani menciumku seperti tadi?" Edgar bergumam sambil memegang sebelah pipinya yang tadi dicium oleh Lara.
Tak ingin berlama-lama larut dalam kebingungannya, Edgar segera melangkah menyusul Lara menuju kamarnya berada. Masuk ke dalam kamar, Edgar sudah disambut dengan suara Lara yang terdengar sedang bersenandung di dalam kamar mandi.
"Astaga, jin apa yang merasukinya sehingga bersikap aneh seperti ini?" Edgar dibuat semakin bingung. Ia pun sedikit tidak yakin jika apa yang dilakukan Lara tadi atas ajaran Flower.
Lara yang masih menyiapkan air di dalam kamar mandi terus bersenandung. Menyanyikan lagu apa saja yang terbesit di kepalanya.
"Astaga. Sepertinya dia benar sudah kerasukan." Ucap Edgar bergidik ngeri.
Tak berselang lama, Lara telah keluar dari dalam kamar mandi. Hal pertama yang dilakukannya adalah mendekati suaminya. Ia masih mengingat materi dari Flower untuk membantu Edgar membuka kancing kemejanya.
__ADS_1
"Kau mau apa?" Edgar meringsut mundur merasa takut didekati oleh Lara.
Lara yang tidak mengerti jika Edgar sedang takut kepadanya terus saja melangkah mendekati Edgar.
"Kenapa Kak Edgar mundur terus sih." Lara semakin mempercepat langkah hingga Edgar sontak semakin cepat memundurkan langkah hingga punggungnya terbentur di dinding.
Melihat senyum Lara yang terlihat aneh di matanya membuat Edgar sontak menyilangkan kedua tangannya di dada. "Kau ini mau apa sebenarnya? Kenapa terus mendekat kepadaku?" Tanya Edgar keras.
"Kak Edgar kenapa marah-marah sih." Lara mendekatkan kedua tangannya ke arah kancing kemeja Edgar. Pergerakannya itu lantas saja membuat Edgar semakin takut hingga semakin kuat memeluk tubuhnya.
"Jangan macam-macam!" Pekik Edgar semakin ketakutan. Ia layaknya seorang suami yang ingin diperkosa oleh istrinya sendiri.
"Lara tidak macam-macam, Kak. Lara ini cuma satu macam." Sahut Lara.
"Jangan bercanda! Sekarang katakan apa yang ingin kau lakukan kepadaku!" Edgar kembali berucap keras diikuti wajah yang sudah memucat.
__ADS_1
"Kenapa marah terus sih, Kak. Lara itu kan cuma mau membantu membuka kancing kemeja Kak Edgar saja. Katanya Kak Edgar mau Lara menjadi istri yang baik untuk Kak Edgar sebagai imbalan atas kebaikan Kak Edgar pada Lara."
***