
Perjalanan menuju apartemen malam itu dilewati Edgar dan Lara dalam keheningan. Edgar hanya fokus pada kemudinya sedangkan Lara yang sudah mengantuk memilih untuk memejamkan kedua kelopak matanya.
"Malam ini tepat satu hari aku mengenalnya, dan malam ini statusnya sudah berubah menjadi istriku." Edgar menghembuskan napas frustrasi. Untung saja sebelum mamanya menemukan Lara ia sudah membuat surat perjanjian dengan Lara sehingga Edgar tidak perlu khawatir jika Lara akan berbuat hal di luar perjanjian mereka.
Edgar yang merasa bosan menunggu mobilnya melaju di tengah kemacetan pun menoleh menatap wajah Lara sekilas. Lidahnya pun berdecak pelan melihat Lara yang sudah tertidur dengan sedikit mendengkur. "Enak sekali dia bisa tidur di saat aku sedang pusing dengan pernikahan mendadak kami. Apa hidupnya saat ini merasa baik-baik saja setelah menikah denganku?
"Tunggu dulu," Edgar tiba-tiba teringat akan sesuatu. "Mama bilang tadi jika Lara sudah tidak memiliki keluarga lagi? Apa maksudnya dia sebatang kara di kota ini. Kalau benar begitu, pantas saja dia tidak meminta aku memulangkannya ke keluarganya." Komentar Edgar.
Edgar pun kembali melajukan mobilnya dengan banyak pertanyaan yang bersarang di benaknya saat ini.
Tanpa terasa mobil milik Edgar pun akhirnya sampai di apartemen. Melihat Lara yang masih saja tertidur membuat Edgar menghela napas kasar. "Aku tidak mau menggendongnya. Bisa-bisa dia jadi keras kepala." Gumam Edgar.
__ADS_1
"Lara bangun!" Edgar menggoyangkan tubuh Lara untuk membangunkannya.
Lara yang terlalu lelah dan nyenyak dalam tidurnya tak menyahut. Ia seolah tak terganggu dengan pergerakan yang Edgar lakukan.
"Kenapa dia tidur seperti orang mati saja!" Gerutu Edgar. Untuk yang kesekian kalinya Edgar kembali berupaya membangunkan Lara. Namun sang wanita tidak kunjung bangun juga.
Berdecak sebal, Edgar akhirnya tak punya pilihan lain. "Dari pada aku menunggunya bangun sampai tahun depan, lebih baik aku menggendongnya saja. Jangan anggap aku suami romantis pada umumnya, aku hanya tidak ingin menunggunya bangun sampai tahun depan. Lagi pula aku tidak mungkin meninggalkannya di dalam mobil sendiri bukan?"
Beberapa orang yang berada di dalam lift kini menatap kagum pada Edgar yang sedang menggendong Lara yang sedang tertidur.
"Romantis sekali ya anak muda ini, Pah." Ucap seorang wanita paruh baya pada suaminya.
__ADS_1
Sang suami nampak mengangguk membenarkannya. "Maklum saja anak muda. Tenaganya masih kuat. Kalau Papah yang mengendong Mama, tulang Papah bisa patah." Jawab pria paruh baya itu.
Edgar hanya mendengarkan percakapan sepasang suami istri itu dengan wajah tersenyum dan di dalam hati merutuki Lara yang sedang asik menjelajahi alam mimpi tanpa memperdulikan dirinya yang sedang menahan malu.
Pintu lift pun terbuka tepat di lantai unit apartemen milik Edgar. Pria itu langsung saja melangkahkan kaki keluar dari dalam lift menuju unit apartemennya. Masuk ke dalam apartemen, Edgar langsung membawa Lara menuju kamarnya dan membaringkan tubuh Lara di atas ranjang.
"Menyusahkan saja!" Gerutu Edgar pada Lara yang hanya menggeliat tanpa berniat membuka mata.
Edgar yang tersadar ia membawa Lara masuk ke dalam kamarnya pun terdiam beberapa saat.
"Kenapa aku membawanya ke kamarku? Kamarnya kan di kamar tamu?" gumam Edgar. Sesaat kemudian Edgar pun menghembuskan napas kasar di udara mengingat status Lara saat ini. "Dia memang harus di sini. Di kan istriku."
__ADS_1
***