
Edgar kini sudah tiba di dalam ruangan kerjanya. Sambil menunggu jadwal kontrol yang akan dilaksanakan setengah jam lagi, Edgar memilih melihat rekaman cctv untuk melihat kegiatan istrinya saat ini. Kerutan halus nampak terbit di kening Edgar melihat istrinya kini duduk di ruang tamu sambil menangis tersedu-sedu.
"Ada apa dengannya, kenapa dia menangis seperti itu?" Gumam Edgar. Ia terus menonton rekaman cctv tersebut hingga sepuluh menit lamanya. "Apa dia menangis karena aku?" Edgar mulai berpikir. Apakah tadi ada sikapnya yang buruk hingga menyinggung perasaan Lara? Namun setelah mengingat-ingat kembali sepertinya tidak ada. Ia bersikap sewajarnya dan Lara juga terlihat senang setelah dibungkuskan makanan untuk dibawa pulang.
Tiba-tiba saja ingatan Edgar tertuju pada saat Lara berhenti di depan restoran. Setelah saat itu wajah Lara memang nampak berubah murung dan banyak diam.
"Apa ada hubungannya dengan wanita yang dilihat Lara tadi? Tapi siapa wanita itu?" Edgar jadi bertanya-tanya.
Kedatangan seorang perawat yang membawa surat kontrol pasien pun membuyarkan pemikiran Edgar tentang Lara. Edgar pun mulai fokus pada pekerjaannya dan mematikan rekaman cctv yang tadi ia tonton.
*
Pukul setengah enam sore, Edgar nampak telah kembali ke apartemen. Dilihatnya ruangan tamu apartemen nampak kosong pertanda tidak ada istrinya di sana.
__ADS_1
"Apa dia berada di dalam kamar?" Gumam Edgar. Kaki jenjang Edgar pun akhirnya melangkah ke arah kamarnya. Namun setelah membuka pintu kamar, sosok istrinya tak terlihat di sana.
"Dimana dia?" Gumam Edgar. Hanya ada satu ruangan lagi yang harus Edgar lihat dan Edgar yakini menjadi tempat keberadaan istrinya.
"Ternyata dia benar ada di sini." Gumam Edgar setelah membuka pintu kamar tamu dan melihat Lara tengah tidur meringkuk di atas ranjang. "Dia ini benar-benar tidak bisa diberi tahu. Sudah dibilamg tidur di kamarku malah tidur di sini." Gerutu Edgar pelan. Tak ingin mengganggu tidur Lara, Edgar memilih pergi ke dapur untuk mengambil minum.
Setibanya di dapur, Edgar kembali mengerutkan kening melihat makanan yang tadi mereka bawa pulang belum dimakan oleh Lara. "Ada apa dengannya. Kenapa dia terlihat aneh hari ini. Dia bahkan tidak memakan makanan yang tadi dibungkus padahal dia yang menginginkannya." Komentar Edgar.
*
"Ehem." Deheman yang terdengar cukup keras dari Edgar mengalihkan pandangan Lara ke sumber suara.
"Tuan Edgar?" Ucap Lara dengan wajah nampak terkejut karena ternyata Edgar sudah pulang ke apartemen.
__ADS_1
"Kemari!" Edgar menggoyangkan jari telunjuknya memerintahkan pada Lara agar mendekat ke arahnya.
Lara si penurut pun melangkahkan kaki mendekat ke arah Edgar. Dalam hatinya mulai takut jika Edgar akan marah karena dirinya hanya tidur setengah hari ini bahkan tak menyambut kepulangan Edgar.
"Kenapa matamu sembab begitu. Apa kedua kelopak matamu habis digigit semut?" Tanya Edgar dengan wajah datarnya.
Lara sontak memegang kedua kelopak matanya yang terasa membengkak.
"Ti-tidak, Tuan." Jawab Lara terbata.
"Lantas karena apa? Apa karena digigit tawon?" Tanya Edgar lagi.
Lara kembali menggeleng. "Emh, ini karena saya terlalu lama tidur saja, Tuan." Jawabnya tak ingin jujur. Lara tidak ingin Edgar jadi berpikiran yang macam-macam jika mengatakan dirinya habis menangis setengah hari ini mengingat nasibnya yang malang.
__ADS_1
***