Noda Menjadi Yang Ke 2

Noda Menjadi Yang Ke 2
S2 - Tak Berubah


__ADS_3

Kekesalan di wajah Edgar tak dapat terkondisikan lagi sejak mengetahui jika Lara sedang datang bulan dan akhirnya menghancurkan harapannya begitu saja. 


"Kak Edgar mau kemana?" Tanya Lara menahan tangan Edgar saat pria itu hendak keluar dari dalam bathup.


"Aku ingin membasuh tubuhku di shower saja! Percuma saja mandi berdua tapi tidak bisa tidur berdua!" Gerutu Edgar kemudian melepas tangan Lara yang memegang tangannya.


Lara jadi merasa bersalah mendengarnya. Ia segera keluar dari dalam bathup menyusul langkah Edgar menuju shower.


"Jangan mendekat. Segera basuh tubuhmu dan pakai baju!" Perintah Edgar. Sebab, jika Lara masih berpenampilan seperi itu di dekatnya akan membuat kepalanya semakin sakit.


Lara si penurut akhirnya mengangguk. Ia segera membilas tubuhnya dan keluar dari dalam kamar mandi.


"Pembalut sialan!" Edgar mengumpat pada sebuah pembalut yang baru saja Lara buang ke dalam tong sampah. Jika saja Lara tidak sedang datang bulan, ia pasti sudah mengajak istrinya itu bermain kuda-kudaan di dalam kamar mandi dan berakhir di atas ranjang.


**


Keesokan harinya, dengan hati yang masih merasa kesal, Edgar membawa Lara menuju kantor polisi tempat Mama Tiara ditahan. Selama berada dalam perjalanan menuju kantor polisi, wajah Edgar nampak datar. Ia pun nampak enggan mengajak istrinya untuk berbicara.


"Kak Edgar marah sama Lara ya?" Tanya Lara. Pertanyaan itu sudah hampir dua puluh kali Lara lontarkan sejak tadi pagi.

__ADS_1


"Tidak." Sahut Edgar ketus.


"Kalau tidak kenapa wajahnya masam saja? Lara kan juga tidak bisa menahan agar tak datang bulan." Cicitnya.


"Memang begini bentuk wajahku. Selalu masam." Sahut Edgar.


Lara mengerutkan dahi. Kenapa Edgar terlalu jujur seperti itu pikirnya. Tak ingin membuat suaminya semakin sebal kepadanya, Lara pun memilih diam saja hingga akhirnya mobil milik Edgar memasuki kawasan kantor polisi.


"Ayo turun!" Ajak Edgar setelah memarkirkan mobil.


Lara mengangguk kemudian membuka pintu mobil. 


"Kau tunggulah di sini. Aku akan menemui petugas kepolisian lebih dulu." Ucap Edgar.


Lara mengangguk saja dan memilih duduk di kursi tunggu. 


Tak berselang lama, Edgar pun telah kembali bersama seorang petugas kepolisan yang akan membawa mereka menemui Mama Tiara.


"Mamah..." Lara berucap lirih menatap wajah Mama Tiara yang nampak kusam dan rambut yang sedikit berantakan.

__ADS_1


Mama Tiara menatap wajah Lara dengan wajah tak bersahabat. Nampaknya wanita itu tengah menaruh dendam pada Lara.


Lara tak memperdulikan tatapan tak suka Mama Tiara kepadanya. Hatinya kini merasa sedih saat menyadari Mama Tiara datang menggunakan baju khusus tahanan.


Dengan tangan yang sudah diborgol, Mama Tiara duduk di kursi yang berhadapan dengan Lara dan Edgar.


"Lepaskan aku dari sini! Kalian tidak pantas melakukan ini semua kepadaku!" Ucap Mama Tiara tertahan.


Edgar dibuat geram mendengar perkataan Mama Tiara. Nampaknya mantan ibu tiri Lara itu masih angkuh saja walau kondisinya kini sudah sangat memprihatinkaan.


"Bermimpi saja anda ke langit ke tujuh karena sampai kapan pun saya tidak akan membebaskan wanita seperti anda!" Sahut Edgar. 


"Kak Edgar..." Lara berucap lirih sambil menggelengkan kepala. Ia tak ingin Edgar bersikap tidak sopan pada Mama Tiara walau Mama Tiara sudah bersikap buruk kepadanya.


Mama Tiara yang melihat Lara bersikap baik di depannya pun mendengus. Ia merasa mantan anak tirinya itu sedang bersandiwara.


"Tidak perlu sok baik. Sekarang katakan saja apa tujuanmu datang ke sini?" Tanya Mama Tiara pada Lara.


***

__ADS_1


__ADS_2