Noda Menjadi Yang Ke 2

Noda Menjadi Yang Ke 2
Extra chapter - Malam kedua


__ADS_3

Emila bergidik ngeri jika mengingat perkataan Arkana untuknya. Mengurungnya seharian di dalam kamar? Apa yang akan mereka lakukan di dalam kamar selama seharian seperti yang Arkana katakan tadi?


Ingatan Emila pun tertuju pada kejadian dua tahun lalu saat ia dan Arkana berhubungan dalam keadaan Arkana yang tidak sadar. Mengingat itu saja sudah membuat Emila merasa takut karena masih teringat jelas di ingatan Emila bagaimana kasarnya Arkana menyentuhnya malam itu.


"Ada apa, kenapa wajahmu murung begitu, hem?" Tanya Arkana saat baru saja masuk ke dalam kamar dan melihat wajah tak bersahabat istrinya.


Emila mengangkat kepalanya menatap wajah Arkana yang sudah lebih segar dibandingkan keluar dari dalam kamar tadi. Sepertinya suaminya itu sudah mandi di kamar mandi belakang rumahnya.


"Apa kita akan melakukannya malam ini?" Tanya Emila ragu-ragu.


"Melakukan apa, hem?" Arkana pura-pura tidak tahu. Berjalan mendekati Emila dengan wajahnya yang nampak bingung.

__ADS_1


Emila berdecak dalam hati. Pandai sekali suaminya itu berpura-pura seperti saat ini. "Kau pasti mengerti maksudku, Arkana. Kau bukan lagi anak SD yang harus diberikan penjelasan."


Arkana tertawa kecil. Ternyata istrinya sudah jauh lebih pintar saat ini. "Aku tidak akan melakukannya jika kau belum menginginkannya. Aku tidak akan memaksamu untuk itu." Tutur Arkana lembut. Setidaknya Arkana masih paham dengan rasa trauma yang ditinggalkannya pada Emila beberapa tahun yang lalu.


Emila merasa lega mendengarnya. Ternyata suaminya itu sangatlah perhatian. Tanpa diberitahu ia sudah mengerti maksud perkataannya.


"Maafkan aku jika malam itu memberikan rasa trauma kepadamu. Apa yang terjadi pada kita waktu itu diluar kendaliku. Aku benar-benar tidak sadar."


"Aku mengerti untuk itu. Mulai sekarang tidak perlu membahasnya lagi, ya."


Malam itu tidak ada aktivitas apapun yang mereka lakukan selain tidur mengistirahatkan tubuh mereka yang sudah sangat lelah setelah seharian menjadi raja dan permaisuri di atas panggung.

__ADS_1


*


Dua hari sudah berlalu, Emila pun mulai berpikir untuk memberikan hak Arkana sebagai suaminya. Selama hampir dua tahun menjadi istri Arkana ia sama sekali belum pernah memberikan hak Arkana sebagai seorang suaminya.


Setelah membulatkan tekad, akhirnya malam itu Emila menyampaikan kabar baik pada Arkana jika ia bersedia diunboxing kembali oleh suaminya itu. Mendengar perkataan Emila tentu saja membuat Arkana bersorak senang dalam hati.


Arkana pun tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang Emila berikan. Setelah menitipkan kedua buah hatinya pada Bu Asma, Arkana langsung saja membawa Emila ke kamar mereka dengan tergesa-gesa.


Baru saja masuk ke dalam kamar Arkana sudah langsung membawa tubuh Emila ke dalam pelukannya. "Aku berjanji tidak akan bersikap kasar kepadamu seperti waktu itu. Terima kasih karena kau sudah bersedia melakukannya lagi denganku."


Emila mengangguk malu-malu mendengarkan perkataan Arkana. Kedua insan yang sudah saling dimabuk cinta itu pun langsung saja menyatukan dua bibir yang sudah sejak lama tidak pernah bertemu.

__ADS_1


Untuk yang pertama kalinya Arkana dapat merasakan manisnya bibir mungil istrinya secara sadar. "Jika aku tahu kau semanis ini aku tidak akan menyia-nyiakan mu selama ini." Gumam Arkana setelah ciuman mereka terlepas lalu kembali menyatukan bibir mereka. Merasa tidak puas hanya memberikan ciuman di bibir, bibir Arkana pun sudah mulai nakal turun ke bawah dan mencium apa saja yang ia sukai di tubuh istrinya.


***


__ADS_2