
Setelah selesai menyuapkan makanan ke dalam mulut Edgar, Lara segera membereskan bekas kotak makan mereka dengan membuangnya ke dalam tong sampah. Edgar membiarkan saja istrinya itu membuang sampah hingga akhirnya kembali duduk di kursi yang bersebelahan dengannya.
"Lara, sebentar lagi aku sudah mulai melakukan pemeriksaan pada pasienku kembali." Beri tahu Edgar.
"Lalu kenapa, Kak?" Tanya Lara dengan wajah polosnya.
"Apa kau masih ingin tetap di sini atau bagaimana? Jika jadwal kontrolku sudah mulai, akan banyak orang yang bergantian keluar masuk ke dalam ruangan ini. Takutnya kau tak nyaman."
Lara mengangguk paham. Walau dirinya mulai merasa awas jika Edgar akan digoda oleh salah satu dokter atau pasien di rumah sakit tersebut, namun Lara tetap menghargai pekerjaan suaminya. Ia memilih keluar dari dalam ruangan kerja Edgar dan menunggu di ruangan kosong yang berada di sebelah ruangan Edgar.
"Jika kau mau tidur maka tidurlah di ranjang ini." Ucap Edgar sebelum meninggalkan Lara.
Lara menatap ranjang pasien yang berada di dalam ruangan tersebut. "Apa tak masalah kalau Lara pakai buat tidur?"
"Tentu saja tidak. Ruangan ini juga tidak dipakai jadi kau bisa mempergunakannya."
__ADS_1
Lara mengangguk tanda paham. "Baiklah. Lara mau tidur saja. Tapi, Kakak gak lama kan?"
Edgar tak langsung menjawab. Ia melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. "Sekitar dua jam lagi sepertinya aku baru selesai. Waktu segitu bisa kau pergunakan dengan tidur saja bukan sambil menungguku?"
Lara mengangguk mengiyakannya. "Sebelum tidur cium kening Lara dulu." Pintanya manja.
Edgar tersenyum kemudian mengecup kening istrinya. Bukan hanya kening Lara saja, Edgar juga mengecup kedua pipi Lara dan bibir manis yang selalu membuatnya menjadi candu.
"Kakak harus ingat gak boleh macam-macam. Ingat saat ini Lara sedang mengandung anak Kakak." Pesannya sambil mengusap perut.
Edgar tersenyum kemudian membungkukkan tubuh. "Papa tidak akan macam-macam. Papa ini kan hanya satu macam." Bisiknya pada jabang bayi di dalam perut Lara. Setelah berbisik, Edgar pun mencium perut Lara yang tertutupi kain.
Mengerti dengan keinginan istrinya, Edgar segera memeluknya dan memberikan kecupan kembali di bibir. "Aku gak bisa lama di sini. Aku harus kembali ke ruangan kerjaku karena jadwal kontrol sudah mau dimulai."
Lara mengangguk mengiyakannya. "Semoga lancar kerjanya, Kak."
__ADS_1
"Aamiin. Kau tunggu di sini ya. Ingat, jangan kemana-mana." Pesan Edgar seakan takut sang istri akan hilang.
"Baik Pak suami!" Sahut Lara.
Edgar jadi tersenyum kembali. Sebelum pergi meninggalkan Lara, ia memilih membantu Lara naik ke atas ranjang lehih dulu kemudian menyelimuti kaki Lara agar tak kedinginan.
"Kalau butuh apa-apa telefon aku saja, ya." Pesannya lagi.
Lara mengiyakannya kemudian meminta Edgar agar segera pergi.
"Kak Edgar memang suami yang baik dan penyayang. Lara sungguh bersyukur memiliki suami sebaik Kak Edgar." Gumam Lara setelah kepergian suaminya.
Di luar ruangan, Ghina yang melihat Edgar baru saja keluar dari dalam ruangan yang sedang tidak dipakai pun menatap ke kiri dan ke kanan memastian keadaan di sekitarnya aman.
"Sepertinya aku harua menemui wanita tadi untuk memastikan apa Edgar benar adalah suaminya atau tidak." Gumam Ghina.
__ADS_1
Tak ingin membuang waktu lama, Ghina langsung saja melangkah ke ruangan tersebut dengan hati-hati untuk memastikan tak ada seorang pun yang melihat gerak-geriknya.
***