
"Anuhku?" Kedua kelopak mata Lara terbuka lebar mendengar perkataan Edgar di akhir. Terlebih Edgar juga menunjuknya bukan hanya menyebutnya saja.
"Ya. Kerja itu jangan setengah-setengah. Memangnya kau mau aku hanya memberimu uang untuk ongkos saja tapi tidak memberikanmu jajan juga?" Ketus Edgar.
Lara menggeleng. "Tidak mau. Lara mau jajan juga, ongkos juga!" Sahutnya.
"Kalau begitu ayo lanjutkan menggosoknya!"
Lara si penurut akhirnya mengangguk walau ragu. Kali ini ia memulai menggosok bagian bawah tubuh Edgar dimulai dari bagian paha lebih dulu. Lara menggosoknya dengan pelan dan hati-hati agar tak mengenai bagian anuh yang Edgar maksud.
Melihat pergerakan istrinya itu membuat Edgar tersenyum smirk. Selain itu Edgar juga menahan hasratnya yang tiba-tiba naik merasakan sentuhan istrinya sejak tadi.
Edgar mengatur napasnya yang mulai tak beraturan. Ia harus mengontrol dirinya dengan baik agar Lara dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik pula.
"Bagaimana ini, Lara sudah hampir selesai menggosok kaki Kak Edgar, apa Lara harus menggosok bagian anuhnya juga?" Lara jadi meragu.
__ADS_1
Melihat pergerakan tangan Lara sudah sampai pada bagian ujung kakinya membuat Edgar mengulum senyum menyembunyikan seringaian yang tercetak di sudut bibir.
"Sudah selesai?" Tanyanya pada Lara dan mendapatkan anggukan di kepala Lara.
"Enak saja sudah selesai. Yang ini belum digosok!" Edgar menunjuk bagian inti tubuhnya.
Lara memicingkan kedua matanya saat menyadari sesuatu yang tersembunyi di balik kolor yang Edgar kenakan nampak membesar.
"Kak Edgar, Lara tidak mau kalau yang itu, ya. Kak Edgar gosok saja sendiri." Pintanya sambil mengatupkan kedua tangannya. Sungguh, nyali Lara terasa ciut jika ingin menyentuh bagian inti pria dewasa walau pria itu adalah suaminya sendiri.
Edgar semakin mengulum senyum. Melihat ketakutan di wajah Lara saat ini, akhirnya sebuah ide pun muncul di kepala Edgar.
Namun rasa lega yang Lara rasakan tak berlangsung lama, sebab, Edgar melanjutkan perkataannya.
"Sebagai gantinya maka aku akan menggosok bagain tubuhmu juga. Hitung-hitung agar kita impas!"
__ADS_1
"Apa?!" Kedua mata Lara membola. "Tidak, Lara tidak mau, Kak. Lara bukan adik bayi yang harus dimandikan. Lara bisa mandi sendiri." Tolaknya.
"Tidak ada bantahan! Kau ini sepertinya belum memahami ajaran Flower dengan baik tentang menyenangkan hati suami, ya!"
Lara merasa bingung harus menjawab apa. Sebenarnya ia bukan tidak paham. Hanya saja nyalinya belum kuat jika Edgar menyentuh bagian tubuhnya walau hanya untuk menggosoknya saja.
"Sekarang ayo buka bajumu. Bagaimana bisa aku menggosoknya jika kau pakai baju seperti ini!" Titah Edgar.
Lara si penurut akhirnya menurutinya. Dari pada ia dicap sebagai istri yang tidak tahu cara menyenangkan hati suami, lebih baik ia menghilangkan rasa malunya saja.
Baru saja Lara membuka bajunya, Edgar sudah dibuat meneguk salivanya susah payah melihat tubuh bagian atas istrinya hanya ditutupi oleh bra.
"Astaga... kecit nonet sekali!" Gumam Edgar mengintip bagian dalam bra yang Lara kenakan.
Lara yang mengetahui kemana arah pandangan Edgar pun sontak menyilangkan kedua tangannya di dada. "Apanya yang kecit nonet?" Tanya Lara dengan wajah yang sudah memerah menahan malu.
__ADS_1
"Tentu saja dadamu yang tidak seberapa itu. Astaga... kenapa milikmu itu mini sekali." Edgar menggelengkan kepalanya. Namun otak mesumnya kini sudah membayangkan sebuah choco chip yang berada di tengah-tengah dada Lara.
***