
"Siapa namamu?" Tanya Edgar menatap wanita itu dengan dingin.
Dengan tubuh bergetar dan takut wanita itu pun menjawab. "La-lara."
"Oh, Lara. Nama yang manis namun tidak semanis pekerjaanmu." Jawab Edgar sedikit menyindir.
Lara hanya diam dengan kepala menunduk. Tidak menyangkal tuduhan Edgar karena itu benar adanya. Siapa pun yang melihatnya bekerja di tempat hiburan malam seperti saat ini pastilah mengiranya bukan wanit baik-baik.
"Tuan Edgar telah membelimu dari pemilik klub ini. Jadi mulai malam ini kau resmi menjadi milik Tuan Edgar dan diwajibkan menuruti segala keinginannya!" Ucap Toni tegas.
Terlihat jelas keterkejutan di wajah Lara setelah mendengar jika dirinya sudah dibeli oleh sosok pria yang baru saja menghinanya. "Apa aku akan masuk ke dalam kandang harimau setelah keluar dari kandang singa?" Lirih Lara dalam hati. Air mata kini nampak menumpuk di pelupuk matanya menyayangkan hidupnya yang selalu menyedihkan.
Seorang pria yang tadi membawa Lara mendorong tubuh Lara ke arah Edgar. "Kau bukan lagi urusan kami. Sekarang patuhlah pada tuanmu yang baru!" Ketusnya.
Lara masih diam. Kedua tangannya terangkat mengusap kedua matanya yang sudah basah. Melihat sikap Lara saat ini membuat Edgar jadi mengerutkan kening. Kenapa ia jadi merasa jika Lara seperti anak kecil bukan wanita yang ahli di atas ranjang?
__ADS_1
Kedua pria berbadan besar akhirnya pergi meninggalkan mereka.
Lara yang ketakutan mengatupkan kedua tangannya pada Edgar. "Saya mohon lepaskan saya, Tuan." Pintanya menghiba.
"Enak saja. Saya sudah membelimu dengan harga mahal. Tidak semudah itu melepasmu begitu saja!" Sembur Edgar.
Tubuh wanita itu bergetar hebat. Tidak tahu lagi harus meminta dengan cara apa untuk dilepaskan. Terakhir ia meminta dilepaskan dari jerat pemilik klub, ia mendapatkan hadiah tamparan di kedua pipi.
Edgar melirik ke arah Toni. Memberikan perintah pada Toni untuk membantu membawa Lara keluar dari dalam klub.
Lara tak mengangguk atau pun menggeleng. Menolak dirinya terancam dalam bahaya, mengangguk pun berarti dirinya menyetuhui akan menjadi simpanan dari para pria di depannya.
Toni segera membawa Lara keluar dari dalam klub menuju parkiran mobil dimana mobil Edgar berada. Setelah berada di parkiran, Toni segera memasukkan tubuh Lara ke dalam mobil.
"Keselamatanmu ada di tangan Edgar. Jika kau berani kabur maka Edgar tidak akan segan membawamu kembali ke dalam klub ini dan mendapatkan penyiksaan." Toni kembali memberikan pengancaman agar Lara tak berniat untuk kabur.
__ADS_1
Lara masih diam seperti tadi. Melihat itu membuat Toni merasa geram karena wanita itu tak pernah menggubris perkataanya.
"Apa kau mau aku menemanimu membawa wanita ini?" Tawar Toni pada Edgar.
Edgar menggeleng. "Pergilah. Aku bisa menanganinya sendiri!" Jawabnya. Lagi pula ukuran tubuh Lara jauh lebih kecil dari ukuran tubuhnya. Edgar yakin jika ia bisa menangani Lara jika Lara berniat macam-macam.
"Baiklah. Kalau begitu aku kembali masuk ke dalam dulu. Kau nikmatilah bersenang-senang dengannya." Kelakar Toni.
"Sialan." Umpat Edgar sebal.
Toni tertawa saja. Ia pun melangkah meninggalkan Edgar masuk kembali ke dalam klub untuk bersenang-senang.
Setelah melihat kepergian Toni, Edgar pun masuk ke dalam mobilnya.
***
__ADS_1