Noda Menjadi Yang Ke 2

Noda Menjadi Yang Ke 2
Untuk apa menemuinya?


__ADS_3

Lady kembali ke kediaman kedua orang tuanya dengan rasa penyesalan yang semakin mendalam. Sejak Arkana mengetahui kebusukannya saat itu, Lady merasa hidupnya tak bahagia walau ada Dandy di dekatnya. Lady bahkan acap kali mengacuhkan keberadaan Dandy hingga membuat Dandy kecewa kepadanya. Dan lagi, Lady tak memperdulikan kekecewaan Dandy, ia lebih memikirkan kekecewaan Arkana kepadanya karena telah mendua.


"Dari mana saja?" Suara Mama Miranda menghentikan langkah kaki Lady yang hendak menapaki anak tangga.


Lady memutar kepala ke arah belakang dimana Mama Miranda berada. "Dari rumah Arkana." Jawabnya apa adanya.


"Untuk apa kau datang lagi ke sana, apa kau tidak sadar jika kesalahanmu sangatlah fatal dan Arkana tidak akan mungkin mau memaafkanmu?"


"Lady tahu itu. Tapi Lady masih ingin berusaha. Apa Lady salah?"


"Tentu saja salah. Kau hanya bisa mendapatkan maaf darinya tapi tidak cinta darinya lagi. Sudahlah Lady, biarkan Arkana hidup dengan bahagia bersama istri keduanya. Sekarang lebih baik kau perbaiki dirimu agar bisa hidup dengan lebih baik."

__ADS_1


Kedua bola mata Lady mulai mengembun hingga pandangannya terasa buram. "Lady ke kamar dulu." Pamitnya. Ia tidak ingin membalas perkataan Mama Miranda jika itu tentang Arkana dan Emila. Sampai saat ini rasanya Lady tidak terima jika Arkana bahagia tapi tidak dengan dirinya. Egois memang. Begitulah sikap Lady sejak lama.


Baru saja mengunci pintu kamar agar sang Mama tidak menyusulnya ke dalam kamar, Lady sudah dibuat pusing dengan panggilan telefon dari Dandy. Pria itu terus saja menghubunginya walau ia sudah beberapa kali mengacuhkannya. Tidak ingin membuat Dandy terus berupaya menghubungi, Lady akhirnya mengangkat panggilan telefon tersebut.


"Ada apa?" Tanyanya setelah panggilan terhubung.


"Kenapa kau tidak mengangkat telefonku dari tadi? Habis dari mana saja?" Suara Dandy terdengar keras di seberang sana.


"Jangan bilang kau baru saja pulang dari rumah suamimu itu?" Tebak Dandy.


"Kau benar. Aku baru saja pulang dari rumah Arkana." Jawab Lady tak ingin berdusta.

__ADS_1


Hembusan Arkana terdengar kasar. "Apa lagi yang kau harapkan darinya Lady? Bukankah perpisahan dengannya adalah yang kau harapkan selama ini? Dan bersama denganku adalah hal lain yang kau harapkan. Sekarang semuanya sudah bisa terwujud lalu kau mau apa lagi?" Arkana memendam kekesalannya pada wanita yang sedang mengandung darah dagingnya.


"Aku lelah." Jawab Lady lalu mematikan sambungan telefon begitu saja. Lady menghidupkan mode pesawat dan mematikan sambungan wifi agar Dandy tak bisa menghubunginya lagi. Lady tidak perduli jika nantinya Dandy datang ke rumah kedua orang tuanya untuk mencarinya. Yang terpenting saat ini ia hanya ingin istirahat dan menenangkan pikirannya yang sedang kalut.


Mama Miranda yang berada di depan pintu kamar Lady memilih mengurungkan niatnya untuk memanggil Lady saat menyadari pintu kamar putrinya terkunci dari dalam. Mama Miranda menatap pintu di depannya dengan nanar dengan perasaan bersalah.


"Ini salahku juga karena tidak bisa mendidik Lady dengan baik selama ini. Jika saja aku dan Papa lebih memperhatikannya mungkin Lady tidak akan salah jalan seperti ini." Gumamnya. Tidak ingin mengganggu Lady di dalam kamarnya, Mama Miranda memilih pergi ke kamarnya berada.


"Ada apa? Apa Lady membuat masalah lagi?" Tanya Papa Alan saat melihat Mama Miranda masuk ke dalam kamar dengan wajah sendu.


***

__ADS_1


__ADS_2