
Arkana bernafas lega. Ditatapnya bayi mungil yang nampak merah itu dengan mata berkaca-kaca. Dokter Kirana memperlihatkan bayi pertama berjenis kelamin laki-laki yang sudah lahir pada Emila dan membiarkan Emila beristirahat sejenak sebelum melakukan persalinan kedua.
Lima menit berlalu, persalinan kedua kembali di lakukan. Kali ini prosesnya lebih cepat dari sebelumnya. Bayi berjenis kelami perempuan itu akhirnya ikut lahir melihat indahnya dunia mengikuti sang kakak. Sepertinya ia sudah sangat tidak sabar keluar hingga tak membuat ibunya begitu kesusahan saat mengejannya.
Bulir air mata yang tidak dapat Arkana bendung akhirnya jatuh membasahi kedua pipinya. Pun dengan Emila yang tidak hentinya menangis melihat kedua buah hatinya telah lahir ke dunia dalam keadaan sehat dan selamat.
Arkana menggenggam erat tangan Emila sambil menyematkan senyum. "Terima kasih telah menjadi ibu yang hebat. Terima kasih telah berjuang melahirkan anak-anak kita ke dunia." Suara Arkana terdengar lembut.
Emila hanya diam dengan genangan air mata di pelupuk mata. Ingin sekali ia menanyakan bagaimana bisa Arkana berada di tempat ini sekarang. Pertanyaan itu saat ini hanya bisa tersimpan di dalam hati Emila karena tubuhnya yang lemah membuatnya kesulitan untuk bersuara.
Arkana terus berada di sebelah Emila dan tak melepaskan genggaman tangannya di tangan Emila. Ia tidak berani memperhatikan perawat yang saat ini sibuk menjahit jalan sesuatu di bawah sana yang tadi sempat digunting untuk mempermudahkan jalan lahir kedua anaknya.
__ADS_1
Di luar ruangan Bu Asma nampak harap-harap cemas menunggu dokter keluar dari dalam ruangan persalinan dan menyampaikan bagaimana hasil persalinan Emila.
Flower yang ikut menunggu proses persalinan Emila mencoba menenangkan Bu Asma yang nampak cemas. Sedangkan Malik memilih diam berdiri di belakang istrinya.
Pintu ruangan akhirnya terbuka. Dokter Kirana keluar dari dalam ruangan dengan mengembangkan senyum.
"Bagaimana keadaan anak saya dan cucu-cucu saya, Dokter? Apa mereka baik-baik saja?" Tanya Bu Asma cepat.
"Mereka baik-baik saja, Bu. Persalinan Emila berjalan lancar. Kedua cucu Ibu lahir dengan selamat." Jawabnya lalu mengulurkan tangan pada Bu Asma. "Selamat karena kini Ibu sudah menjadi seorang Nenek dari dua bayi yang sangat lucu."
"Sama-sama."
__ADS_1
Dokter Kirana pun berpamitan untuk pergi. Tak berselang lama dua orang suster nampak keluar dari ruangan bayi membawa kedua bayi Emila dan Arkana.
Bu Asma menatap wajah cucunya penuh haru. Pun dengan Flower yang ikut melihatnya. Kedua suster pun berpamitan membawa kedua bayi ke ruangan khusus anak untuk diperiksa lebih lanjut oleh dokter spesialis anak. Bu Asma menatap kepergian kedua cucunya dengan perasaan tak rela.
"Nanti Tante bisa melihat mereka dengan puas setelah dipindahkan ke ruangan perawatan." Flower kembali menenangkan Bu Asma.
Bu Asma menyematkan senyum dan mengangguk. Mereka masih setia menunggu di luar ruangan hingga akhirnya diperbolehkan masuk melihat keadaan Emila.
"Mah..." kedua bola mata Emila berkaca-kaca melihat sosok ibunya.
"Mila..." Bu Asma mendekat dengan kedua mata yang ikut berkaca-kaca.
__ADS_1
"Maafkan Mila jika selama ini belum bisa membahagiakan Mama dan pernah menyakiti hati Mama. Mila sudah merasakan rasanya melahirkan, Ma. Rasanya sakit sekali." Lirih Emila.
***