
Mendengar suara lembut Edgar saat bertanya kepadanya membuat Lara merasa haru karena melihat sosok ayahnya ada di dalam diri Edgar.
"Lara, ayo jawab pertanyaanku." Edgar kembali mengeluarkan suara karena Lara hanya diam sambil menatap wajahnya.
Lara tak kuasa untuk tetap diam. wanita itu akhirnya menangis dan mulai menceritakan awal mula ia terjebak dalam klub milik Tuan Jacob. Bagaimana ibu tirinya yang gila harta tega menjualnya pada Tuan Jacob dan Kakak tirinya yang merasa senang dengan keputusan ibu tirinya itu.
Lara terus bercerita tanpa ada yang ia kurangi atau ia lebihkan. Semuanya murni ia cerita dari apa yang sudah ia alami sebelum bertemu dengan Edgar.
Edgar yang bertugas sebagai pendengar pun hanya diam mendengarkan seluruh cerita Lara sambil menahan geli melihat Lara yang menangis sambil mengeluarkan ingus dari hidunganya.
"Jadi beberapa bulan setelah kepergian ayahmu, sikap ibu dan kakak tirimu berubah drastis. Yang biasanya menyayangimu berubah menjadi jahat kepadamu?" Tanya Edgar.
__ADS_1
Lara menganggukkan kepalanya pelan. "Ibu juga memecat pembantu yang bekerja di rumah dan mengalihkan pekerjaan pembantu kepadaku. Terkadang Ibu mengurungku di dalam gudang jika pekerjaanku tidak sesuai dengan keinginannya." Ucap Lara sendu.
Edgar menggelengkan kepalanya. Merasa tak percaya jika gadis polos seperti Lara diperlakukan buruk oleh dua wanita ular yang menjelma sebagai ibu peri di saat ayah Lara masih ada.
"Lara ingin ikut dengan ayah saja jika tahu keadaannya seperti ini setelah kepergian ayah. Semua terasa berubah. Tidak ada lagi yang sayang kepada Lara." Lelehan air mata mengalir di kedua pipi Lara.
Edgar dapat melihat dan merasakan kesedihan Lara saat ini. Sebelah tangan Edgar pun terangkat lalu mengusap punggung istrinya untuk menenangkannya.
"Benar-benar di luar perkiraanku saat di awal. Ternyata Lara bukan gadis malam. Dia hanyalah korban dari keserakahan ibu dan kakak tirinya. Jika begini sudah dapat dipastikan aku terjebak dalam permainanku sendiri." Ucap Edgar dalam hati. Entah apa yang harus ia rasakan saat ini. Apa ia harus senang atau sedih mengetahui kenyataan yang ada.
"Aku pikir kau tidak akan lapar setelah puas menangis." Cibir Edgar.
__ADS_1
"Justru karena habis menangis Lara jadi sangat lapar, Kak." Ucap Lara sambil mengusap kedua matanya yang basah menggunakan ibu jarinya.
"Ck. Seperti anak kecil saja." Gerutu Edgar melihat sikap Lara saat ini.
"Memang Lara masih kecil, Kak. Kakak saja yang sudah tu—" Lara menghentikan perkataannya saat melihat tatapan mata Edgar yang berubah tajam.
"Maaf." Cicit Lara dengan kepala tertunduk.
"Dasar anak kecil ini. Berani sekali dia mengatakan aku tua!" Gerutu Edgar namun kali ini dalam hati.
"Kak Edgar, apa kita sudah bisa makan?" Tanya Lara hati-hati. Takut-takut jika perkataannya baru saja menyinggung perasaan Edgar hingga membuat Edgar marah dan tidak memberikan makan kepadanya.
__ADS_1
"Bisa. Tapi tunggu aku mandi dulu. Kita akan makan di luar malam ini." Ucap Edgar.
Lara si penurut mengangguk saja. Sambil menunggu Edgar membersihkan tubuhnya, Lara memilih mengganti pakaiannya lebih dulu. Setelah selesai, Lara keluar dari dalam kamar dan menunggu Edgar di ruang tamu sambil membalas pesan dari teman-temannya yang sudah sejak tadi sore ia abaikan.