
"Tapi, Mah—" Edgar yang ingin membantah mengurungkan niatnya saat melihat tatapan tajam dari sang mama.
"Tidak ada tapi-tapian. Sekarang persiapkan dirimu dengan baik untuk ijab qabul nanti!" Perintah Mama Leni.
Edgar memijit pangkal hidungnya yang terasa sakit. Ia sama sekali tidak diberikan kesempatan sedikit pun untuk membantah. Pandangan Edgar pun beralih pada Lara yang nampak menunduk dengan wajah takut.
"Lara..." lirih Edgar dengan kedua tangan terkepal. Ia sudah memikirkan hal buruk jika tadi Lara sudah berbicara hal yang tidak-tidak pada sang mama.
Mama Leni yang tidak ingin mengambil resiko jika Edgar akan kabur sebelum waktu pernikahannya tiba pun memilih tetap berada di dalam apartemen milik Edgar. Mama Leni bahkan meminta Lara untuk tidak jauh darinya karena juga takut Edgar akan mengancam Lara.
Kruk
Suara bunyi dari dalam perut Lara mengalihkan Mama Leni ke sumber suara.
"Perutmu berbunyi, apa kau lapar?" Tebak Mama Leni.
Lara mengangguk dengan wajah malu-malu. Ia sangat merutuki lambung mungilnya yang bersuara meminta makan di saat Mama Leni ada di sampingnya.
"Kalau begitu makanlah lebih dulu. Kau harus mempersiapkan energi untuk akad nikah nanti."
__ADS_1
Lara tak menjawab. Ia merasa bingung harus menjawab apa karena pada kenyataannya tidak ada makanan apa pun di dapur yang bisa ia masak.
"Edgar, apa kau tidak memiliki stok makanan di dapur untuk Lara?" Tanya Mama Leni pada Edgar yang kini sedang berdiri di sudut ruangan.
"Tidak ada. Aku akan memesankan makanan untuknya." Sahut Edgar cepat.
Mama Leni tersenyum mendengarnya. Ia pun mengusap lengan Lara. "Sabar sebentar ya. Makanan akan datang untukmu."
Lara hanya tersenyum kaku mendengarnya. Mau menolak pun ia tidak ingin karena perutnya sudah sangat lapar meminta untuk diisi.
Sambil menunggu makan siangnya tiba, Lara pun berpamitan untuk ke dapur mengambil minum. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Edgar untuk bisa berbicara dengan Lara.
"Sa-saya tidak mengatakan apa-apa, Tuan." Jawab Lara takut.
"Tidak mengatakan apa-apa bagaimana, jika kau tidak mengatakan apa-apa lantas kenapa Mama memintaku untuk menikahimu hari ini!" Cecar Edgar.
Lara menggeleng takut.
Melihat reaksi Lara saat ini membuat Edgar menghela napas panjang.
__ADS_1
"Edgar...!!" Suara teriakan Mama Leni yang terdengar menggelegar mengagetkan Edgar. Ia segera melangkah keluar dari dapur untuk menghampiri Mama Leni.
"Ada apa sih, Ma. Kenapa berteriak seperti ini!" Ucap Edgar malas.
"Tetap di sini dan jangan menakuti calon istrimu!" Titah Mama Leni.
Edgar menutup mulut. Memilih mengangguk dari pada bersuara karena suaranya hanya akan terdengar salah oleh Mama Leni.
*
Pukul tiga sore, Mama Leni mengajak Edgar dan Lara untuk pergi ke kediamannya setelah memastikan suaminya telah mempersiapkan acara akad Edgar nanti dengan baik.
Baru saja masuk ke dalam rumahnya, kedua mata Edgar sudah dibuat membola melihat tampilan rumahnya yang sudah didekorasi dengan cantik untuk akad nikahnya nanti.
"Apa-apaan ini. Siapa yang sudah mempersiapkan ini semua?" Gumam Edgar.
"Tentu saja Mamah dan Papah. Walau pernikahanmu ini mendadak tapi Mama tidak ingin momen pernikahanmu dilaksanakan biasa saja." Sahut Mama Leni.
Belum hilang rasa keterkejutan Edgar dengan dekorasi mendadak yang dipersiapkan oleh kedua orang tuanya, Edgar sudah kembali terkejut saat melihat sosok Arkana juga datang ke rumahnya bersamaan dengan kedatangan kedua adiknya.
__ADS_1
***