Noda Menjadi Yang Ke 2

Noda Menjadi Yang Ke 2
S2 - Lawan Saja!


__ADS_3

"Emh, tidak apa-apa, Mah. Lara hanya seperti melihat seseorang yang Lara kenali saja." Jawab Lara kemudian.


"Seseorang? Siap orang itu?" Mama Leni celingukan mencari orang yang Lara maksud.


Lara bingung harus menjawab apa. Terlebih Mama Leni belum mengetahui asal usulnya dengan benar. Mama Leni hanya tahu dirinya seorang anak yatim piatu.


"Lara?" Mama Leni menatap Lara dengan tatapan menuntut jawaban.


"Hanya teman biasa, Ma." Jawab Lara.


"Oh..." Mama Leni mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Mama, ayo kita lanjutkan lagi jalannya." Ajak Lara. Ia tidak ingin kakak tirinya melihat keberadaannya dan membuat keonaran.


Mama Leni menganggukkan kepalanya lalu mengajak Lara mengajak melihat kawasan kampus yang belum mereka lihat.


*

__ADS_1


Sore harinya, Lara nampak sudah tidak sabar menunggu Edgar pulang ke apartemen. Sejak setengah jam yang lalu Lara bagaikan setrika yang selalu mondar-mandir di ruangan tamu apartemen.


Bi Surti yang melihat sikap Lara pun hanya tersenyum membiarkan Lara mondar-mandir sendiri.


Setelah hampir satu jam menunggu, akhirnya sosok Edgar pun pulang. Lara yang sejak tadi menantikan kepulangan Edgar pun lantas saja mengembangkan senyum menatap wajah Edgar.


"Ada apa denganmu?" Tanya Edgar dengan dahi yang nampak mengkerut.


"Emh, Tuan. Ada yang ingin saya bicarakan pada Tuan." Ucap Lara ragu-ragu.


Lara menimbang-nimbang. "Apa Tuan ingin istirahat dulu? Kita bisa berbicara setelah Tuan selesai istirahat." Lara tak ingin egois walau lidahnya sudah sangat gatal ingin berbicara.


Edgar tak menyahut. Ia melewati tubuh Lara begitu saja lalu menjatuhkan bokong di atas sofa. "Katakan!" Titahnya.


Lara yang mengerti maksud Edgar lantas saja ikut duduk di atas sofa yang berhadapan dengan Edgar.


"Begini, Tuan. Apa saya bisa mengajukan permintaan untuk pindah universitas?" Tanya Lara dengan wajah nampak takut.

__ADS_1


Dahi Edgar seketika mengkerut mendentar permintaan Lara. "Kenapa kau meminta pindah? Bahkan kau belum merasakan kuliah di sana barang sehari pun." Ucap Edgar.


Lara jadi bingung apakah harus jujur atau bagaimana. Namun pada akhirnya mau tidak mau ia harus jujur karena Edgar pasti menuntut jawaban pasti kepadanya.


"Karena kakak tiri saya juga kuliah di tempat yang sama dengan saya, Tuan. Saya takut jika sering bertemu dengannya dia akan membuat keributan dengan saya." Ucap Lara pelan namun dapat di dengar dengan jelas oleh telinga Edgar.


"Kakak tirimu?" Edgar cukup terkejut mendengarnya. Karena sebelumnya ia hanya mengetahui Lara hanya memiliki ibu tiri bukan kakak tiri.


Lara menganggukkan kepalanya lalu mengatupkan kedua tangannya. "Saya mohon, Tuan. Saya ingin pindah saja." Pinta Lara.


"Tidak bisa. Kau harus tetap kuliah di sana. Aku sudah mendaftarkanmu dan mengurus semuanya dengan tidak mudah. Jadi tidak bisa dibatalkan begitu saja!" Ketus Edgar.


"Tapi, Tuan..." kedua bola mata Lara berkaca-kaca menatap wajah Edgar.


"Untuk apa kau takut dengan kakak tirimu itu? Jika dia berniat buruk kepadamu maka lawan saja dia. Kau itu bukan anak kecil lagi yang harus selalu diberi tahu apa yang harus kau lakukan. Jadilah wanita yang kuat dan pemberani. Walau kau terus menghindar tidak bisa menjamin kalian akan terus berjauhan. Bisa saja kalian bertemu di tempat lain dengan kondisi tak terduga." Ucap Edgar walau belum mengetahui permasalahan Lara dan kakak tirinya. Namun melihat ekspresi wajah Lara saja dapat membuat Edgar menyimpulkan jika Lara sangat takut pada kakak tiri yang Lara maksud.


***

__ADS_1


__ADS_2