
Pukul sebelas siang, Arkana akhirnya sampai di bandara Sultan Syarif Qasim kota Pekanbaru. Edgar yang sudah mendapatkan perintah untuk menjemput Arkana pun kini sudah berdiri di samping mobilnya menunggu kedatangan Arkana.
"Akhirnya kau sampai juga." Ucap Edgar saat melihat kedatangan Arkana.
"Ayo antarkan aku ke rumah Emila sekarang juga." Pinta Arkana cepat.
Edgar yang mengerti jika Arkana sudah sangat tidak sabar melihat kediaman Emila pun langsung saja membantu Arkana memasukkan koper Arkana ke dalam mobil lalu duduk di kursi kemudi.
"Jalankan mobilnya dengan cepat!" Titah Arkana semakin tidak sabar.
Edgar memilih diam karena ia tidak ingin mengiyakan perkataan Arkana. Ia masih sayang dengan nyawanya jika diminta mengendarai dengan cepat di waktu jalanan sedang padat seperti saat ini.
Mobil milik Edgar terus melaju menuju kediaman Emila dan ibunya. Selama berada di dalam perjalanan menuju kediaman Emila dan ibunya, Edgar dapat melihat Arkana sangat gelisah memikirkan keberadaan istri keduanya itu.
Dua puluh lima menit berlalu, akhirnya mobil milik Edgar tiba di depan rumah Emila dan ibunya. Arkana segera keluar dari dalam mobil menuju pintu rumah.
"Emila... Mama..." Arkana berteriak memanggil-manggil nama Emila dan mertuanya. Arkana berharap jika yang dikatakan Edgar tadi salah dan Emila masih berada di dalam rumahnya saat ini.
__ADS_1
"Jangan membuat keributan di sini, Ar. Emila dan ibunya benar-benar sudah pergi meninggalkan rumah ini. Sampai habis suaramu memanggil-manggil nama mereka, mereka tidak akan pernah keluar dari dalam rumah." Ucap Edgar tegas agar Arkana tak bersikap bodoh.
Arkana terduduk lemas di atas lantai dan menjambak rambutnya frustrasi. "Kenapa dia pergi? Kenapa dia pergi?" Pekiknya.
"Tenanglah, Ar..." Edgar hanya bisa menenangkan sahabatnya itu dengan mengusap punggungnya.
Seorang wanita paruh baya yang tidak Edgar dan Arkana kenali siap dirinya nampak datang menghampiri mereka.
"Ada apa ya? Kenapa kalian membuat keributan di sini?" Tanyanya.
Arkana menatap wajah wanita paruh baya itu dengan intens. "Apa anda memiliki kunci rumah ini?" Tanyanya tanpa menjawab pertanyaan wanita itu.
Arkana yang tidak ingin mengundur waktu lama pun meminta wanita itu mengantarkan dirinya ke rumah Pak RT yang dimaksud. Edgar pun dengan setia mengikuti Arkana pergi dari belakang.
"Ini rumahnya, Tuan." Ucapnya ramah setelah berada di depan rumah Pak RT.
Arkana segera mengetuk pintu rumah dan menunggu sang pemilik rumah keluar dari dalam setelah menyahut panggilan mereka.
__ADS_1
"Maaf, ada apa ini?" Tanya Pak RT merasa bingung melihat kedatangan Arkana ke rumahnya.
"Saya ingin meminta kunci rumah istri saya, Pak. Apa bapak memegang kuncinya?" Tanya Arkana tanpa basa-basi.
Pak RT mengangguk. "Tapi kenapa anda meminta kunci rumahnya pada saya? Apa anda tidak memegang kunci cadangannya?" Tanya Pak RT bingung.
"Saya tidak memegangnya, Pak. Saya mohon berikan kunci itu pada saya sekarang juga." Pinta Arkana.
Pak RT yang sudah mengetahui siapa Arkana pun langsung saja memberikan kunci tersebut pada Arkana. Di dalam hatinya Pak RT merasa bingung kenapa Arkana begitu ingin meminta kunci rumah ibu mertuanya itu.
Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, Arkana segera mengajak Edgar untuk kembali ke rumah Emila dan ibunya.
^^^
Sebelum lanjut, jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Emila dan Ar update, silahkan mampir di novel shy yang lagi on going juga berjudul Mahasiswaku Suamiku, ya🖤
__ADS_1
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗