
"Apa kau tidak tahu rasa terima kasih, Lara. Sejak kecil Mama selalu memberikan perhatiannya kepadamu. Bahkan terkadang aku merasakan kekurangan kasih sayang dari ibuku sendiri karena dirimu!" Sentak Celine. Ia mengeluarkan pernyataan tersebut berharap Lara dapat goyah dengan keputusannya saat ini.
"Aku sangat tahu itu, Kak. Jika aku tidak tahu rasa terima kasih, aku tidak mungkin mau menjadi budak kakak dan mama setelah papa meninggal. Dan harus Kakak ingat, kalian sudah bersikap keji kepadaku dengan menjualku pada Tuan Jacob." Balas Lara. Kedua bola matanya kembali tergenang mengingat sikap kakak dan ibu tirinya yang buruk.
"Jika Kakak masih ingin memintaku untuk mengingat kebaikan kalian kepadaku sejak aku kecil maka aku sangat mengingatnya. Bukan hanya ingat, aku juga tahu sikap baik kalian kepadaku saat itu hanyalah palsu karena ingin menarik simpati ayahku!"
"Lara..." Sherly yang sejak tadi diam akhirnya mendekat pada Lara dan mengusap lengannya untuk menenangkannya. Sherly dapat melihat kesedihan mendalam yang Lara rasakan lewat tatapan matanya.
"Sudahlah, Celine. Lebih baik sekarang kau pergi dari sini dari pada kau semakin membuat keributan." Usir Angga. Ia pikir dengan memberikan kesempatan pada Celine untuk berbicara dengan Lara akan memhuat Celine berubah lembut dan mengakui kesalahannya. Namun ternyata apa yang ia pikirkan salah.
__ADS_1
"Tidak. Aku tidak mau pergi sebelum Lara menyabut tuntutannya pada Mama!" Jawab Celine keras.
"Aku sudah bilang jika bukan aku yang melaporkan Mama. Jadi percuma saja jika Kakak memohon kepadaku." Ucap Lara. Kini, ia mencoba menghilangkan rasa kasihannya pada Celine sebab Celine sudah berbicara kasar yang menyakiti hatinya.
Celine hendak menjawab perkataan Lara. Namun niatnya itu ia urungkan saat seorang dosen masuk ke dalam ruangan dan menatap mereka secara bergantian.
Lara dibuat bungkam. Pun dengan Celine. Tak ingin terlibat masalah dengan kampus yang akan semakin membuat namanya menjadi buruk, Celine pun memutuskan untuk pergi meninggalkan ruangan kelas. Tak peduli jika sikapnya saat ini terkesan tidak sopan karena pergi begitu saja tanpa permisi.
Keluar dari dalam kelas, samar-samar Celine mendengar beberapa teman-temannya sedang menggunjingkan dirinya. Celine menghiraukannya. Ia terus saja melangkah dengan sedikit berlari keluar dari area kampus.
__ADS_1
"Kenapa hidupku menjadi menyedihkan seperti ini?" Celine mengusap kedua pipinya yang basah setelah duduk di halte bus. Jika dulu hidupnya selalu dilimpahi kemewahan, namun kini berbeda. Jangankan bisa hidup bermewah-mewahan, biaya makan untuk esok hari saja Celine tidak tahu akan dapat dari mana mengingat tidak ada satu sen pun uang yang ia pegang saat ini.
Di tengah kesedihannya, salah satu teman seangkatan Celine datang menghampirinya. Ia menatap penampilan Celine dari atas sampai bawah. "Wah, Celine, kenapa kau duduk di halte bus? Jangan bilang jika kau sedang menunggu bus saat ini? Tapi... dimana mobil mewah yang biasanya kau pakai? Apa mobil itu sudah kau jual untuk biaya pembebasan ibumu dari penjara?" Tanyanya sinis.
Celine mengepalkan kedua tangan. Merasa sangat tersinggung mendengar perkataan temannya itu kepadanya.
"Jelas saja dia tidak punya mobil mewah lagi. Mobil itu kan hasil merebut harta adik tirinya sendiri. Sudah pasti saat ini mobil curiannya itu sudah kembali pada pemilik sesungguhnya." Timpal yang lainnya.
**
__ADS_1