
Lara jadi mengurungkan niatnya untuk menghampiri Edgar. Ia jadi dibuat takut mendengar ancaman Edgar yang ingin menggigitnya.
"Apa Kak Edgar sudah menjelma menjadi anjing galak?" Lara berucap dalam hati. Ia terpaksa tak menjalanan materi yang diajarkan Flower karena takut dengan ancaman Edgar.
"Kau bilang apa?!" Edgar melototkan kedua matanya mendengar perkatan Lara yang terdengar jelas di telinganya.
"Lara tidak bilang apa-apa, Kak." Lara memperagakan mengunci mulut.
Edgar mendengus kemudian melangkah ke arah lemari.
"Kak Edgar tunggu!" Suara Lara terdengar sangat keras hingga membuat langkah Edgar jadi terhenti.
"Apa lagi?" Tanyanya kesal.
"Lara sudah menyiapkan baju untuk Kak Edgar. Ini." Lara menunjuk baju ganti Edgar dengan lirikan ekor matanya.
__ADS_1
Edgar mengikuti arah pandangan Lara. Kemudian kedua matanya terbelalak melihat Lara sudah mempersiapkan baju ganti untuknya termasaku celana da-lam.
"Kau memegang celana dalamku?" Tanya Edgar.
Lara menganggu-angguk. "Ayo dipakai, Kak." Ucap Lara.
Edgar dibuat tak dapat berkata-kata. Kali ini untuk pertama kalinya Lara berani menyentuh barang yang ia pergunakan untuk menutupi aset berharganya. Tak ingin banyak berbicara karena tubuhnya sudah terasa lelah, Edgar langsung saja mengambil pakaian yang sudah dipersiapkan Lara untuknya.
"Kenapa kau terus menatapku seperti itu?" Tanya Edgar.
Edgar dibuat sakit kepala dengan sikap mesum Lara saat ini. "Kenapa kau ini semakin mesum saja sih! Sampai ingin melihatku memakai baju segala!" Cecarnya.
Lara hanya tersenyum. Seakan tak merasa tersinggung mendengar perkataan Edgar.
"Lebih baik sekarang kau keluar dari dalam kamar dan persiapkan makan malam untukku." Pinta Edgar. Jika Lara semakin lama berada di dalam kamar bersamanya, maka Edgar tak dapat membayangkan apa yang akan terjadi di antara mereka selanjutnya.
__ADS_1
"Wah, iya. Lara harus menyiapkan makan untuk Kak Edgar!" Lara segera melangkah ke arah pintu keluar. Namun belum sampai setengah jalan menuju pintu, Lara sudah membalikkan tubuh dan mendekat pada Edgar.
"Ngomong-ngomong, tubuh Kak Edgar seksi juga. Lara suka loh." Ucap ya dengan suara menggoda kemudian melangkah meninggalkan Edgar yang terperangah mendengar pujian mesumnya.
**
Semalaman Edgar dibuat tak bisa tidur di dalam kamarnya. Entah mengapa bayangan Lara yang ingin memperkosanya terus terlintas di benaknya. Edgar selalu merasa waspada. Terlebih Lara kini sudah memeluknya layaknya sebuah guling.
"Astaga, kalau begini terus aku bisa gila." Edgar bergumam sambil memukul kepalanya yang sakit. Masih teringat jelas di benaknya bagaimana sikap Lara tadi sebelum tidur. Istri nakalnya itu menyempatkan waktu untuk mencium pipinya lebih dulu.
"Ini ciuman sebelum tidur. Berguna untuk penghantar tidur Kakak, loh. Kata Kak Flower, Kak Edgar bisa tidur dengan nyenyak setelah dicium oleh Lara." Lara berucap tanpa dosa. Kemudian ia segera berbaring di atas ranjang lalu memeluk tubuh Edgar tanpa izin.
"Aku benar-benar harus menemui Nona Flower besok. Aku harus mempertanyakan hal apa yang Nona Flower ajarkan pada Lara." Gumam Edgar sambil menahan napas karena Lara semakin memeluk erat tubuhnya hingga Edgar dapat merasakan bagian kenyal di tubuh Lara yang tidak seberapa menurutnya.
"Astaga. Aku benar-benar bisa gila kalau begini!" Gerutunya. Ingin melepaskan pelukan Lara pun rasanya Edgar tak ingin. Ia seakan tak rela jika benda kenyal yang ia anggap tak seberapa itu tak lagi menempel di tubuhnya.
__ADS_1
***