
"Mommy..." ditengah pembicaraan mereka, Boy tiba-tiba saja menangis dengan keras memanggil Flower.
"Boy, ada apa ini, Nak?" Tanya Flower lalu meraih tubuh Boy untuk ia gendong.
Boy yang belum pandai berbicara hanya bisa menunjuk wajah Baby seolah mengatakan penyebab ia menangis.
"Baby, apa kau memukul adikmu lagi?" Tanya Flower pada putrinya yang tengah asik memakan kue di tangannya.
"Adik Boy makan kue By." Jawabnya sedikit tidak jelas.
Flower dibuat menggeleng mendengarnya. Baru sebentar saja ia melihat kedua anaknya akur kini mereka sudah bertengkar kembali.
"Baby, tidak boleh memukul adikmu seperti itu lagi, ya. Baby kan bisa mengambil kue yang baru." Tutur Flower lembut pada putrinya.
Baby memanyunkan bibirnya seolah sebal mendapatkan nasihat dari Flower.
Emila yang melihat interaksi keduanya pun tersenyum merasa lucu.
"Jika begini terus sepertinya aku mengurungkan niatku untuk menambah anak dengan Malik." Ucap Flower setelah meletakkan Boy di dekat Baby kembali.
"Memangnya kau berniat mengandung lagi, Flow?" Tanya Emila.
__ADS_1
Flower mengangguk mengiyakannya. "Aku sangat senang mengandung anak suamiku. Hehe." Tawanya di akhir perkataannya.
Emila tersenyum mendengarnya. Jika ibu lain memilih menunda memiliki anak lebih dulu di saat usia anaknya masih kecil Flower justru sebaliknya.
"Tapi melihat sikap Baby dan Boy saat ini sepertinya aku urungkan saja. Kasihan mereka jika sedang bertengkar aku tidak bisa membantu melerainya." Ucap Flower kemudian.
"Mom setuju. Saat ini fokuslah merawat Boy dan Baby dulu. Boy baru berusia satu tahun dan Baby baru berusia dua tahun empat bulan. Mereka masih membutuhkan kasih sayang yang besar darimu." Tutur Mom Rania lembut.
Flower menganggukkan kepalanya. Jika dulu setelah melahirkan Baby, Daddy dan Mommynya bersemangat memintanya untuk hamil lagi kini justru sebaliknya. Keduanya bersepakat meminta Flower untuk fokus mengasuh Baby dan Boy lebih dulu.
"Apa setelah melahirkan nanti kedua bayiku akan seperti Baby dan Boy?" Tanya Emila sambil mengusap perutnya.
Emila menganggukkan kepalanya. Dari yang ia lihat selama ini jika umur anak pertama dan kedua tidak terlalu jauh keduanya lebih dominan bertengkar karena saling mencari perhatian kedua orang tua mereka.
Di tengah pembicaraan mereka tentang anak-anak Flower, Bu Asma nampak masuk ke dalam rumah dan langsung menyapa Flower dan Mom Rania.
"Apa sudah lama?" Tanyanya lembut setelah bersalaman pada keduanya.
"Tidak, baru beberapa menit yang lalu." Jawab Mom Rania.
Bu Asma tersenyum lalu duduk di sofa yang berhadapan dengan Flower dan Mom Rania.
__ADS_1
"Sudah selesai mengantar jahitannya, Tante?" Tanya Flower.
"Sudah. Nanti siang Tante akan mengantarkan jahitan lagi ke jalan Durian." Jawabnya.
Flower menganggukkan kepalanya. "Semoga usahanya semakin lancar ya Tante. Flow juga sudah mulai mempromosikan hasil jahitan Tante di media sosial."
"Terima kasih Nak Flower." Bu Asma merasa sangat beruntung bisa mengenal wanita seperti Flower yang sudah sangat baik pada keluarganya.
"Sama-sama." Jawabnya tersenyum.
"Baby, Boy, ayo salam sama Nenek dulu." Ucap Mom Rania pada kedua cucunya yang kembali asik memakan kue.
"Nek..." Baby dan Boy saling pandang lalu serentak bangkit dari duduk masing-masing dan berlari ke arah Bu Asma berada.
***
Sebelum lanjut, jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Emila dan Ar update, silahkan mampir di novel shy yang lagi on going juga berjudul Mahasiswaku Suamiku, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗
__ADS_1