
Beberapa bulan berlalu, Edgar akhirnya memutuskan untuk pindah bekerja ke salah satu rumah sakit ternama di ibu kota. Bukannya tidak ingin lagi membantu mengurus rumah sakit milik keluarganya yang ada di Riau, hanya saja Edgar ingin menambah wawasan yang lebih luas lagi jika ia bekerja di rumah sakit yang ada di ibu kota dan bisa terhindar dari banyaknya pertanyaan tentang menikah.
Usaha Egar agar tak lagi dihantui pertanyaan kapan menikah akhirnya berujung sia-sia saat mendengar kabar sang mama dan papanya akan pindah ke ibu kota dalam waktu dekat. Kedua orang tuanya pun sudah membeli sebuah rumah yang berada di ibu kota. Entah apa yang ada di dalam pemikiran sang mama dan papanya. Edgar tak habis pikir dibuatnya.
"Tahu begini lebih baik aku tetap di Riau saja." Edgar memijat kepalanya yang terasa sakit. Sudah jauh berlari namun tetap tertangkap juga oleh kedua orang tuanya.
Beberapa minggu kemudian, akhirnya kedua orang tua Edgar pun sudah berada di ibu kota dan berniat menetap dalam waktu yang cukup lama.
"Kenapa Mama memutuskan untuk pindah ke sini? Kenapa tidak di Riau saja?" Edgar bertanya dengan wajah yang kurang bersahabat.
"Memangnya kenapa? Mama dan Papa kan ingin menikmati waktu tua dengan bersenang-senang. Jika kami tinggal di sini kami bisa dekat dengan kedua adikmu dan dirimu juga." Jawab Mama Leni santai.
Edgar hanya bisa berdecak sebal dalam hati. Ada-ada saja alasan kedua orang tuanya ini.
__ADS_1
"Edgar, selama kau bekerja di sini apakah sudah ada wanita yang menarik perhatianmu, nak?" Mama Leni menatap Edgar penuh harap.
"Belum. Tidak ada satu wanita pun yang menarik di mataku." Jawab Edgar sedikit ketus.
Mama Leni mengusap dada. Sedih sekali mendengar jawaban yang keluar dari mulut putranya.
"Sampai kapan kau akan seperti ini, Edgar? Usiamu tak lagi muda. Selagi Mama dan papa masih ada, kami ingin melihatmu segera menikah." Suara Mama Leni terdengar pelan dan sendu.
"Mama harap kau bisa mendapatkan seorang wanita baik untuk menjadi istrimu sebelum mama dan papa tiada." Lanjut Mama Leni kemudian.
Edgar tak menyahut. Kali ini ia merasa beban untuk menikah semakin berat di pundaknya.
*
__ADS_1
Setelah beberapa waktu berpikir, akhirnya Edgar memutuskan untuk menikah. Selain ingin membahagiakan hati sang mama, Edgar juga tidak ingin terlalu lama dihantui pertanyaan kapan dan kapan menikah.
Malam itu, di dalam apartemennya, Edgar tengah berpikir wanita mana yang cocok untuk ia jadikan istri.
"Aku memang mau menikah tapi aku tidak mau ada cinta di dalam rumah tangga kami." Gumam Edgar. Nampaknya rasa trauma Edgar melihat rumah tangga teman-temannya yang berujung buruk masih menghantuinya hingga Edgar selalu waspada jika jatuh cinta pada istrinya dan berujung luka.
Edgar pun terpikir dengan salah satu nama temannya yang kini bekerja di ibu kota. "Sepertinya Toni bisa membantuku mengatasi masalah ini." Gumam Edgar lalu segera meraih ponselnya di atas nakas dan melakukan panggilan telefon dengan Toni.
"Datanglah ke klub malam dan kita bahas masalahnya di sana. Aku rasa kau bisa mendapatkan solusi di sana nanti." Ucap Toni penuh maksud.
***
Teman-teman, bantu rate bintang 5, vote dan giftnya dulu ya sebelum lanjut😍
__ADS_1