
Pertahanan Edgar agar tak menyentuh istrinya akhirnya runtuh juga karena tak tahan dengan berbagai godaan yang Lara lakukan kepadanya. Malam itu, setelah memberikan apa yang Lara inginkan, Edgar membaringkan tubuhnya di samping Lara kemudian mengusap perut sang istri.
"Semoga anak kita baik-baik saja di dalam sini." Ucap Edgar. Ada rasa khawatir yang ia rasakan mengingat ia baru saja menjamah tubuh istrinya yang sedang hamil muda.
"Bayi kita pasti baik-baik saja, Kak. Dia bahkan sedang senang saat ini karena keinginannya terwujud dikunjungi oleh ayahnya." Sahut Lara santai.
Edgar merasa gemas mendengar jawaban istrinya itu. Ingin sekali rasanya Edgar mematuk bibir istrinya itu lagi kemudian menggigitnya agar tidak asal bicara lagi.
"Dari pada banyak bicara, lebih sekarang kau tidur." Edgar membawa tubuh Lara ke dalam pelukannya tanpa menunggu Lara menjawab lebih dulu.
Lara si penurut mengangguk saja. Ia yang merasa sudah lelah dan sedikit mengantuk pun langsung saja memejamkan kedua kelopak matanya.
"Besok Lara ikut Kakak ke rumah sakit, ya. Lara kan bosan sendirian di rumah terus pulang dari kampus." Pintanya dengan mata terpejam.
"Kok sendiri sih. Kan ada Bibi yang menemani di rumah." Koreksi Edgar.
"Ya, walau pun begitu Lara merasa sendiri karena tidak ada Kak Edgar." Sahut Lara dengan mata yang masih terpejam.
__ADS_1
Edgar yang tak ingin berdebat memilih mengangguk saja. "Baiklah, besok aku akan membawamu ke rumah sakit setelah kau pulang dari kampus."
Senyuman di wajah Lara seketika terbit mendengar suaminya mau menuruti permintaannya. Edgar yang melihat senyuman di wajah istrinya pun tersenyum kemudian mengusap kepala Lara dengan sayang.
**
Edgar benar-benar membuktikan perkataannya pada Lara, setelah menjemput Lara ke kampusnya siang itu, ia langsung saja membawa Lara pergi ke rumah sakit tempat ia bekerja. Tak lupa di pertengahan jalan Edgar membeli makanan makan siang untuk Lara setelah tiba di rumah sakit nanti.
"Kak Edgar gak beli makan buat Kak Edgar juga?" Tanya Lara menatap bungkusan makanan yang hanya cukup untuk dirinya seorang.
"Oh, begitu..." Lara mengangguk paham.
Tak ada lagi percakapan di antara mereka sebab Lara yang merasa mengantuk memilih memejamkan kedua kelopak matanya untuk tidur. Edgar pun membiarkan saja istrinya itu terlelap hingga akhirnya mobil miliknya terparkir di besement rumah sakit.
**
"Siapa wanita itu?" Suara Ghina terdengar pelan nyaris berbisik saat melihat Edgar kembali ke rumah sakit bersama seorang wanita muda yang terlihat asing di matanya.
__ADS_1
Merasa penasaran dengan sosok yang dibawa Edgar saat ini, Ghina pun memilih menghampiri Edgar untuk mempertanyakannya secara langsung.
"Ini Lara, istriku." Beri tahu Edgar pada Ghina.
"Apa?" Ghina terbelalak. Terkejut tak percaya jika istri Edgar masih sangatlah muda dan masih kuliah.
Lara yang melihat bagaimana ekpresi wajah Ghina yang terkejut mendengar jawaban Edgar menyipitkan kedua matanya.
"Iya, perkenalkan, ini Lara istri Kak Edgar." Ucap Lara sambil mengulurkan tangan pada Ghina.
Ghina yang masih merasa terkejut tak menyambut uluran tangan Lara hingga Lara menarik uluran tangannya kembali.
Tentu saja melihat Ghina tak menyambut tangan kecil istrinya membuat Edgar kesal hingga membuat lidahnya berdecak.
"Sayang, ayo kita masuk ke dalam ruangan karena anak kita sudah lapar meminta makan." Ajak Lara sambil mengusap perut datarnya seolah memberitahu Ghina jika dirinya sedang hamil anak Edgar saat ini.
***
__ADS_1