
Lara menatap gerak-gerik Celine dengan raut wajah prihatin. Ingin sekali rasanya ia menyusul Celine dan mempertanyakan keadaan Celine saat ini. Namun niat tersebut urung ia lakukan karena sang sopir yang juga bertugas untuk menjaga dirinya memberikan peringatan agar dirinya tetap berada di dalam mobil.
"Nona, sebaiknya kita lanjutkan perjalanan menuju rumah karena Tuan Edgar sudah mempertanyakan keberadaan anda." Ucap sopir pada Lara yang tengah termenung sambil menatap gang sempit yang baru saja dimasuki oleh Celine.
Lara berpikir sejenak sebelum menjawab. Rasa penasarannya pada Celine belum sepenuhnya terjawab. Namun, membuat suaminya menjadi cemas karena terus mempertanyakan keberadaannya juga bukan keinginannya.
"Baiklah, ayo kita pulang, Pak." Jawab Lara pada akhirnya.
Sang sopir mengangguk. Kemudian melajukan mobil meninggalkak kawasan kumuh dan padat penduduk tersebut.
**
__ADS_1
Selama berada di dalam perjalanan menuju kediamannya dan Edgar, Lara terus termenung memikirkan nasih Celine yang sangat menyedihkan. Rasa empatinya sebagai seorang adik tergugah untuk membantu kakak tirinya itu. Namun, apakah niatnya itu akan disetujui Edgar nantinya mengingat selama ini Edgar tidak menyukai Celine dan ibunya.
"Pak, apa menurut Bapak Lara jahat kalau gak membantu mantan kakak tiri Lara keluar dari keterpurukannya saat ini?" Tanya Lara pada sopir meminta pendapat.
Sang sopir yang ditanya pun menatap wajah Lara dari kaca spion mobil. "Tidak salah, Nona. Keputusan anda sudah benar kalau seperti itu. Sebab, anda mencari aman untuk hidup anda agar baik-baik saja. Lagi pula, anda kan tidak tahu apakah ada dendam di hati saudara tiri anda atau tidak saat ini pada anda. Bisa saja setelah membantumya nanti, anda justru mendapatkan keburukan." Jawab sopir panjang lebar.
Lara mengangguk-anggukkan kepalanya. "Benar juga ya, Pak. Lara gak tahu apakah Kak Celine nantinya mau berniat buruk pada Lara atau tidak."
Sang sopir menganggukkan kepalanya. Kemudian meminta Lara untuk tidak terlalu banyak pikir mengingat kondisi Lara yang sedang berbadan dua saat ini.
**
__ADS_1
"Sayang, kenapa kau ini gak bisa mendengar perkataanku sih agar tidak memikirkannya lagi." Ucap Edgar dengan rasa kesal tertahan.
Ibu hamil tersebut menundukkan kepala. "Lara hanya prihatin saja, Kak. Kasihan Kak Celine, sudah hidup sendiri tanpa keluarga dan sekarang untuk bertahan hidup saja sulit." Terangnya.
"Lalu kau mau apa, Sayang?" Tanya Edgar yang sudah menangkap maksud dari perkataan Lara.
"Lara mau Kak Edgar membantu Kak Celine. Setidaknya membantu dengan memberikannya pekerjaan agar Kak Celine bisa bertahan untuk hidup." Pinta Lara.
Edgar seketika menggelengkan kepalanya. "Untuk yang satu itu aku tidak bisa. Bisa besar kepala dia nantinya jika tahu kita masih mau membantunya. Dari pada memberinya pekerjaan, lebih baik aku menyuruh orang untuk memberikan sembako dan sejumlah uang tunai kepadanya. Aku rasa itu jauh lebih baik."
Senyuman di wajah Lara terkembang mendengar jawaban suaminya. "Kak Edgar benar juga. Lebih baik kita bantu Kak Celine dengan memberinya sembako dan sejumlah uang saja."
__ADS_1
Edgar menganggukkan kepalanya. "Iya. Semoga saja setelah dibantu nanti, saudara tirimu itu tidak mematuk kita dari belakang." Ucapnya mengingat sikap Celine yang dulunya sangat picik.
***