
Suara deringan telefon yang terdengar memekakkan telinga mengalihkan perhatian Emila yang sedang menenangkan Arshen ke sumber suara. Emila yang sudah dapat menebak siapa yang menelefonnya langsung saja meminta tolong pada baby sister untuk mengambilkan ponselnya yang terletak di atas meja.
"Hallo," ucap Emila setelah panggilan terhubung.
Di seberang sana Arkana nampak tersenyum lebar mendengarkan suara wanita yang sudah sangat dirindukannya walau baru beberapa hari tidak bertemu.
"Hallo, Mila." Jawab Arkana.
Tangisan Arshen terdengar semakin keras seolah tahu yang menelefon Mommynya saat ini adalah Daddynya.
"Mila, anak kita menangis?" Tanya Arkana.
"Ya. Sejak tadi rewel terus ini."
Arkana mengalihkan panggilan telefon menjadi panggilan video. Emila pun menerima pengalihan panggilan tersebut hingga kini wajah Arkana memenuhi layar ponselnya.
"Hey, anak Daddy yang tampan kenapa menangis?" Tanya Arkana.
__ADS_1
Emila mendekatkan ponsel ke wajah putranya agar putranya dapat melihat wajah Arkana. "Arshen, ini Daddy lagi telefon kita." Emila memberitahu Arshen yang belum mengerti akan perkataannya. Walau pun begitu Emila dan Arkana terus mengajak putranya yang sedang menangis itu untuk berbicara hingga akhirnya suara tangisan Arshen pun reda.
Arkana dan Emila pun menghembuskan nafas lega setelah melihat Arshen yang kini sudah diam.
"Kenapa Arshen menangis keras begitu? Apa dia haus?" Tanya Arkana sambil mengusap wajah putranya yang kini memenuhi layar ponselnya.
"Sepertinya tidak. Tadi aku sudah menyusuinya."
"Apa karena mereka rindu kepadaku sehingga terus menangis?" Arkana menebak.
"Baru tiga hari berpisah dengan mereka aku sudah sangat rindu begini." Ucap Arkana kemudian.
Emila mengalihkan gambar video ke wajahnya. "Sepertinya anak-anak juga rindu pada Daddynya sehingga menangis terus."
"Anak-anak saja? Ibunya tidak?" Tanya Arkana.
Emila terdiam dengan wajah yang mulai memanas. Pertanyaan Arkana yang terbilang biasa saja berhasil membuatnya menjadi salah tingkah.
__ADS_1
Di seberang sana Arkana menahan senyum melihat sikap malu-malu istrinya. Rasa rindu di dalam hatinya semakin membesar saja jika melihat istrinya seperti ini.
Beberapa menit menelefon panggilan video terpaksa terputus karena Arkana mendapatkan panggilan telefon dari rekan bisnisnya.
"Daddy sedang sibuk. Kita tidur saja lagi, ya." Ucap Emila pada bayinya lalu beranjak turun dari atas ranjang untuk meletakkan bayinya ke dalam box bayi.
*
Tiga bulan tanpa terasa sudah berlalu Arkana dan Emila lewati dengan tinggal di kota yang berbeda. Rasa rindu selalu menghantui keduanya di saat Arkana harus disibukkan bekerja di Riau dan tidak bisa menghampiri Emila dan kedua anaknya di ibu kota.
Jika prediksi dokter tidak salah, tiga bulan lagi adalah waktu kelahiran bayi yang ada di dalam kandungan Lady. Arkana rasanya sangat tidak sabar menunggu waktu itu tiba. Waktu dimana ia akan berpisah dengan Lady dan bisa kembali menikahi Emila secara sah di mata hukum dan agama.
Tak berbeda dengan Arkana, Bu Selvy pun demikian. Ia juga sudah merasa tidak sabar menanti waktu itu tiba. Setelah Arkana dan Lady berpisah, Bu Selvy bisa meminta Arkana membawa Emila kembali tinggal di Riau sehingga ia tidak harus menahan rasa rindu yang begitu besar pada kedua cucunya.
"Arshen... Ashila... tunggu Daddy dan Mommy kembali bersama, ya." Ucap Arkana sambil mengusap layar ponselnya yang memperlihatkan wajah kedua anaknya.
***
__ADS_1