
"Arkana?" Emila yang baru saja keluar dari dalam kamarnya dibuat terkejut saat melihat Arkana sedang duduk di ruang tamu rumahnya.
"Kau sudah bangun?" Arkana melemparkan pertanyaan pada Emila.
Emila memutar kedua bola matanya. Sudah tahu ia sudah bangun tapi Arkana masih bertanya juga. "Sejak kapan kau datang?" Tanya Emila.
Arkana tak menjawabnya karena kini tatapan matanya tertuju pada perut Emila yang terlihat jelas membuncit karena Emila memakai pakaian rumah yang lumayan ketat.
"Ar..." Emila menghentikan perkataannya dan mengikuti arah pandangan Arkana. "Jangan melihat perutku!" Titah Emila. Menutup perut buncitnya dengan tangan.
"Kenapa tidak boleh? Aku bebas melihat anak-anakku kapanpun aku mau." Sahut Arkana.
Emila terdiam karena apa yang Arkana katakan benar adanya. Dari pada menjawab perkataan Arkana, Emila lebih memilih beranjak ke dapur berniat mengambil air minum untuk dirinya karena tenggorokannya terasa kering.
"Mila, kau sudah bangun, Nak?" Bu Asma yang sedang menata piring di atas meja makan memusatkan pandangan pada Emila yang baru saja masuk ke dalam dapur.
"Iya, Ma." Jawab Emila sambil mendekat ke arah Mamanya. "Loh, Mama memasak dagingnya?" Tanya Emila saat melihat steak daging yang terhidang di atas meja.
__ADS_1
"Tidak, Arkana yang memasaknya. Katanya untukmu." Jawab Bu Asma seraya tersenyum.
"Apa?" Kedua mata Emila membola.
"Nak Arkana sangat hebat ya, sudah tampan, pintar, jago masak lagi." Puji Bu Asma.
Emila tak menjawabnya. Ia masih merasa terkejut mendengar ibunya mengatakan Arkana memasakkan makanan untuk dirinya.
"Nanti dimakan ya dagingnya. Tidak enak loh pada Nak Arkana sudah repot-repot memasak untukmu." Pesan Bu Asma.
"Apa Arkana makan di sini malam ini, Ma?" Tebak Emila. Sepertinya dugaannya benar karena hari di luar sudah nampak gelap dan jam makan malam akan tiba.
Emila menghela nafas. Tidak mungkin juga ia marah karena Arkana mau makan malam di rumahnya setelah repot-repot membuatkan makanan untuknya.
Saat jam makan malam sudah tiba, Emila, Bu Asma dan Arkana kini sudah duduk di meja makan. Emila yang merasa canggung ada Arkana di dekatnya pun hanya diam sambil mengambilkan nasi untuk suaminya tersebut.
"Terima kasih. Dimakan ya dagingnya." Ucap Arkana sambil menerima piring berisi nasi dan lauk pauk yang diambilkan Emila untuknya.
__ADS_1
Emila menganggukkan kepalanya dan mengambil steak daging yang Arkana masak untuknya. Saat steak itu sudah masuk ke dalam mulutnya, Emila membulatkan kedua matanya karena merasakan steak itu sangatlah enak dan lezat. Tanpa rasa malu Emila pun terus memotong steak daging tersebut dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
Arkana yang melihat istrinya begitu menikmati masakannya dibuat tersenyum senang. "Besok-besok jika ada waktu aku akan memasakkannya lagi untukmu dan anak-anak kita." Ucap Arkana lembut.
Deg
Jantung Emila seketika berdebar-debar mendengar perkataan Arkana. Walau begitu Emila mencoba memasang wajah tenangnya pada Arkana.
"Terima kasih." Jawab Emila singkat.
Setelah makan malam selesai, Emila diminta menemani Arkana duduk di ruang tamu sedangkan Bu Asma sibuk membereskan piring bekas makanan mereka di dapur.
Suasana di antara Emila dan Arkana pun terasa canggung saat mereka sudah duduk saling berhadapan di ruang tamu.
"Kau." Ucap mereka secara bersamaan.
"Kau saja duluan." Ucap Arkana setelah saling berpandangan barang sejenak dengan Emila.
__ADS_1
***