
Emila berniat menolak ajakan Arkana yang ingin membawanya berbelanja namun perkataan Bu Asma yang memintanya untuk menyetujui ajakan Arkana membuat Emila terpaksa mengiyakan ajakan Arkana.
"Apa kau yakin jika Nona Lady tidak akan melihat kita? Aku takut Nona Lady melihat kita dan kemudian salah paham." Ucap Emila saat mereka sudah dalam perjalanan menuju supermarket.
"Dia tidak akan melihat kita. Aku yang menjaminnya." Jawab Arkana yakin. Bagaimana tidak yakin, gerak-gerik Lady saat ini sudah ia pantau dan beberapa saat yang lalu ia sudah memastikan jika Lady sudah berada di toko kue miliknya/
"Baiklah kalau begitu. Tapi jika ada hal yang tidak diinginkan terjadi maka aku tidak akan ikut campur." Ucap Emila.
"Ya. Kau tenang saja." Jawab Arkana menenangkan hati istri keduanya.
Tiga puluh menit berlalu, mobil milik Arkana pun telah tiba di supermarket. Untung saja saat mereka sampai supermarket tersebut sudah buka sehingga mereka tidak perlu menunggu lebih dulu.
Emila yang sudah mengetahui apa saja yang ia butuhkan pun langsung saja menuju rak yang berisi barang yang ia butuhkan. Setelah mengambil barang-barang yang ia butuhkan, Emila pun meletakkan barang tersebut ke dalam troli yang Arkana bawa.
"Apa ada lagi?" Tanya Arkana saat Emila masih terlihat melirik rak-rak yang berjajar di depannya.
"Masih ada. Ayo ke sana." Ajak Emila menunjuk rak perlengkapan mandi.
__ADS_1
Arkana mengiyakannya lalu mendorong trolinya menuju rak yang ditunjuk Emila.
"Istrinya ya, Kak?" Seorang gadis muda yang berada di samping Arkana bertanya pada Arkana setelah melihat wajah Emila.
"Ya. Dia istri saya." Jawab Arkana datar.
"Wah, istrinya cantik sekali. Pasti nanti anak-anak Kakak cantik dan ganteng." Ucapnya.
Emila yang mendengarkan percakapan mereka pun menoleh pada wanita tersebut. Wanita yang dilihat oleh Emila pun tersenyum pada Emila.
Emila membalas senyuman itu. Tidak ada percakapan di antara mereka karena wanita itu tiba-tiba saja pergi setelah mendengarkan namanya dipanggil oleh seseorang.
Emila yang mendapat kata pujian hanya diam dengan wajah datarnya. Tanpa merespon perkataan Arkana, Emila memilih melanjutkan kegiatannya mengambil barang-barang yang dibutuhkannya.
Arkana yang melihat Emila hanya mengambil beberapa barang saja berinisiatif mengambilkan beberapa cemilan untuk Emila dan Ibunya.
"Untuk apa kau mengambil banyak makanan itu?" Tanya Emila bingung.
__ADS_1
"Untukmu dan Mama. Aku rasa kau membutuhkannya jika kau sedang lapar." Jawab Arkana.
Emila mengangguk saja tanpa merasa haru mendengar kata perhatian dari Arkana. "Ambil yang banyak agar kau tidak perlu repot lagi membelikan cemilan untukku dan Mama." Ucap Emila enteng.
Arkana mengiyakannya tanpa beban dan mengambil beberapa macam cemilan lagi yang ia rasa tidak berbahaya untuk istrinya makan.
Setelah selesai memenuhi troli dengan berbagai macam makanan, akhirnya Arkana dan Emila pun pergi ke kasir membayar barang belanjaan mereka.
"Apa kau ingin membayarnya?" Tanya Emila saat melihat Arkana mengeluarkan dompet dari saku celananya.
"Ya." Jawab Arkana singkat.
"Baguslah kalau begitu. Dengan begitu saldo atm untukku tidak berkurang." Ucap Emila dengan wajah senangnya.
Arkana hanya tersenyum mendengarnya. Istri keduanya itu memang berbeda dari wanita yang lainnya. Tidak jaim ataupun malu-malu menerima pemberian darinya.
Saldo atmku. Tetaplah utuh dan bertambah sampai aku benar-benar membutuhkanmu. Ucap Emila dalam hati.
__ADS_1
***