
"Arkana." Bu Asma tersenyum menyambut kedatangan menantunya.
Arkana mengulurkan tangan pada Bu Asma lalu menyalaminya. "Emilanya ada, Ma?" Tanya Arkana.
Bu Asma mengangguk. "Ada, tapi Emila baru saja tidur di dalam kamarnya." Jawab Bu Asma.
"Ini, Ma." Sebelum melanjutkan perkataannya, Arkana menyerahkan plastik berisi kue dan buah ke tangan Bu Asma lebih dulu. "Tidur? Kenapa dia tidur di sore hari seperti ini?" Tanya Arkana bingung.
"Ya begitulah. Semenjak hamil Emila mudah sekali mengantuk dan tidur kapan saja ia mau." Jawab Bu Asma.
Arkana hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
Bu Asma pun meminta Arkana masuk ke dalam rumah lalu berpamitan membuatkan minum untuk Arkana.
"Apa semua ibu hamil seperti itu? Mudah sekali mengantuk dan tidur tanpa kenal waktu?" Gumam Arkana.
__ADS_1
Tak lama Bu Asma kembali dengan membawa sebuah minuman dan kue yang tadi Arkana bawa.
"Ayo diminum dulu, Nak." Ucap Bu Asma lembut.
Arkana mengangguk mengiyakannya lalu meneguk teh hangat itu hingga tersisa setengahnya. "Apa Emila sudah memasak daging yang kemarin saya kirimkan, Ma?" Tanya Arkana saat mengingat sesuatu.
"Belum, Mama sudah menawarkan memasaknya tapi Emila bilang nanti saja. Dia bilang tidak berselera makan daging." Jawab Bu Asma apa adanya.
Arkana terdiam dan berpikir. "Bagaimana sambil menunggu Emila bangun dari tidurnya saya membantu mengolah dagingnya, Ma?" Tawar Arkana.
Arkana mengangguk hingga membuat Bu Asma terkejut melihatnya.
"Saat kuliah di jawa dulu saya sering memasak sendiri dari pada membeli dari luar. Sedikit banyaknya saya sudah pandai mengolah beberapa macam makanan, Ma." Jelas Arkana.
Bu Asma berdecak kagum mendengar penjelasan Arkana. "Baiklah, kalau begitu tolong masakkan dagingnya untuk Mila, ya. Mungkin saja dia mau memakannya jika itu buatan dari tanganmu." Ucap Bu Asma.
__ADS_1
Arkana mengangguk penuh semangat. Rasa lelah yang tadi ia rasakan karena seharian bekerja hilang sudah berganti dengan semangat yang menggebu-gebu ingin memasakkan steak daging untuk istri keduanya.
Sambil menunggu Arkana berkutat di dalam dapur, Bu Asma memilih menyapu halaman di depan rumahnya. Bukannya tidak mau membantu menantunya itu, ia sudah menawarkan bantuan tapi Arkana menolaknya dengan alasan jika ia bisa melakukannya sendiri. Jadilah Bu Asma membiarkan Arkana berkutat seorang diri di dalam dapur.
Satu jam berlalu, Arkana telah selesai membuatkan steak daging untuk Emila. Ditatapnya hasil karyanya itu dengan mata berbinar. "Anak-anakku, Daddy yakin kalian pasti akan menyukai masakan Daddy." Ucap Arkana.
Karena merasa tubuhnya terasa gerah karena ia memasak menggunakan kemeja kerjanya, akhirnya Arkana pun memilih mengambil pakaian ganti yang selalu ia bawa di dalam mobilnya.
"Makan malam di sini saja malam ini ya, Nak." Ucap Bu Asma saat bertemu dengan Arkana di depan rumah.
Arkana langsung mengangguk mengiyakannya karena malam ini Lady tidak ada di rumah sehingga ia bisa dengan bebas makan di rumah istri keduanya.
"Apa begini nikmatnya punya dua istri? Jika istri pertama sibuk aku bisa bersama dengan istri kedua?" Gumam Arkana sambil mengambil kaos di dalam mobilnya. Sesaat kemudian Arkana pun menepuk jidatnya saat menyadari ia sudah asal berbicara.
"Maafkan aku, Lady. Aku tidak berniat bersikap seperti ini." Gumamnya sambil membayangkan wajah istri pertamanya. Walau perasaan bersalah acap kali menghampirinya namun entah mengapa Arkana tidak merasa menyesal telah menikahi wanita bernama Emila yang sedang mengandung anak-anaknya tersebut.
__ADS_1
***