
"Kau benar. Emila pasti menyamarkan nama akun media sosialnya untuk berjaga-jaga agar keberadaannya tidak terlacak olehku."
"Kalau begitu bergeraklah dengan cepat, cari nama setiap akun yang mencurigakan. Kau bisa mencarinya dengan melihat pengikut akunnya. Jika salah satu pengikut akunnya seseorang yang kau kenali, mungkin saja itu akun Emila."
Arkana menganggukkan kepalanya. "Untuk mencarinya aku akan menggunakan akun palsu. Aku akan mengelabuhinya dengan menjadi pengikutnya.
"Cerdas. Lakukan yang terbaik namun tetap hati-hati. Kau harus ingat istrimu adalah kelinci nakal saat ini." Kelakar Edgar.
Arkana menyunggingkan senyum.
Percakapan kedua pria itu terus berlanjut hingga akhirnya Edgar berpamitan untuk pulang.
Arkana tidak ingin membuang waktu lama. Setelah kepergian Edgar ia langsung naik ke kamarnya dan membuka ponsel. Hal pertama yang ia lakukan setelah membuka akun media sosialnya yaitu membuat akun palsu dan mencari user yang mencurigakan.
Semalaman Arkana sibuk mencari akun mencurigakan itu tanpa berniat meminta tolong pada siapa pun. Dan di saat waktu sudah memasuki dini hari, kedua kelopak mata Arkana mulai tertutup dan terbuka menandakan pria itu sudah mengantuk.
__ADS_1
Walau begitu tak membuat semangat Arkana memudar. Ia tetap mencari akun tersebut hingga akhirnya kedua kelopak matanya terbuka semakin lebar melihat sebuah akun mencurigakan yang ia yakini adalah akun media sosial milik Emila.
"Dia mengikuti Dessy dan karyawan toko Mama yang lain. Dia juga mengikuti akun toko Mama." Gumamnya. Arkana begitu gesit mencari info apa saja yang ia bisa dapatkan dari akun itu.
Hanya satu informasi pasti yang ia dapatkan dari akun itu. Akun itu dibuat di ibu kota Jakarta. "Apa mungkin Emila berasal dari Ibu kota?"
***
Dua hari kemudian Edgar sudah berangkat menggunakan pesawat menuju ibu kota. Selama mengudara di dalam pesawat Edgar terus memikirkan perkataan Arkana kemungkinan istri keduanya itu berasal dari Ibu kota.
Tanpa terasa dua jam telah berlalu dan saat ini Edgar sudah menapaki tanah ibu kota. Edgar menatap seorang pria paruh baya yang datang menghampirinya. Pria itu adalah sopir yang ia bayar untuk mengantarkannya ke hotel tempat ia akan menginap. Pria paruh baya itu mengulurkan tangan untuk berkenalan pada Edgar lalu meminta izin memasukkan koper Edgar ke dalam mobil.
"Langsung berangkat ke hotel, Tuan?" Tanyanya sebelum melajukan mobil.
"Ya, saya akan meletakkan barang-barang lebih dulu di hotel dan setelah itu langsung pergi ke rumah sakit." Jawabnya.
__ADS_1
Pria paruh baya itu mengangguk paham lalu melajukan mobilnya menuju hotel.
Tring
Ponsel Edgar berbunyi tanda panggilan masuk. Ia segera mengeluarkan ponsel dari saku celana dan menggeser ikon bewarna hijau untuk mengangkat telefon.
"Halo, Ar?" Ucapnya setelah panggilan terhubung.
"Halo, Ed. Apa kau sudah sampai?" Tanya Arkana.
"Sudah. Sekarang aku sedang berada di dalam perjalanan menuju hotel."
"Oh... kalalu begitu hati-hati. Aku hanya ingin mengingatkanmu untuk langsung mengabariku jika kau melihat atau mendengar sesuatu tentang Emila di sana." Pesan Arkana.
"Kau tenang saja. Aku akan mengabarimu jika aku mendapatkan informasi tentangnya."
__ADS_1
***