
Lady benar-benar tak dapat membela diri dari perkataan Arkana. Bagaimana tidak, Arkana bukan hanya berkata buruk tentang dirinya tapi juga menunjukkan bukti jika apa yang ia katakan benar adanya. Mama Miranda dan Papa Alan tentu saja merasa malu dengan sikap putri mereka.
"Arkana... maafkan aku. Maafkan aku..." Lady menghiba-hiba sampai memeluk kaki Arkana meminta permohonan.
Arkana hanya diam dan membiarkan Lady terus memeluk kakinya.
"Ar..." Lady menggoyangkan kaki Arkana berharap suaminya itu mau berbicara menjawab permintaan maafnya.
"Aku bisa memaafkanmu tapi tidak dengan bertahan denganmu. Kurang apa aku selama ini kepadamu? Di malam pertama kita saja kau sudah menorehkan luka di hatiku karena kau sudah tidak perawan. Tapi bagaimana dengan sikapku? Aku tetap menerimamu apa adanya karena aku begitu mencintaimu. Aku benar-benar mencintaimu. Tapi kau? Dengan mudahnya kau menghancurkan rasa cintaku dengan berselingkuh bersama pria itu. Jika sejak awal kau berkata tidak mencintaiku dan mencintai dia mungkin aku bisa dengan lapang dada melepaskanmu bersamanya dari pada kau menduakan aku seperti ini." Ucap Arkana panjang lebar.
Lady semakin tak bisa menahan laju air matanya mendengar perkataan suaminya yang terdengar menyayat hati.
Mama Miranda dan Papa Alana yang baru mengetahui jika putrinya sudah kotor sebelum menikah dengan Arkana benar-benar merasa syok tak percaya.
__ADS_1
"Memalukan..." Papa Alan menggeram. Tangan kanannya kembali terasa gatal menampar pipi putrinya itu.
"Sudah, Pah! Sudah!" Mama Miranda menahan amarah suaminya karena jika dilanjutkan akan berakibat buruk pada suaminya itu.
"Mulai malam ini sampai seterusnya jangan pernah lagi kembali ke rumah. Pintu rumahku sudah tertutup untukmu." Titah Arkana pada Lady.
"Tidak... tidak Arkana..." Lady menggeleng-gelengkan kepalanya menolak perintah Arkana.
"Mama, Papa, tugas Arkana menjadi suami Lady saat ini sudah selesai. Arkana kembalikan Lady kepada Mama dan Papa." Ucap Arkana dengan wajah datar.
"Aku rasa kau sudah mengerti maksudku. Mulai malam ini aku talak dirimu dan aku akan mengurus perceraian kita setelah kau melahirkan nanti." Ucap Arkana dengan tegas.
"Tidak... aku tidak mau." Tubuh Lady terasa lemas mendengarkan Arkana menceraikan dirinya.
__ADS_1
Arkana menulikan telinganya. Merasa tugasnya malam itu sudah selesai di rumah Lady, Arkana pun berpamitan untuk pulang.
Lady terus berusaha menahan Arkana untuk tetap tinggal dan membicarakan permasalahan mereka dengan baik-baik di rumah kedua orang tuanya tapi Arkana tetap menulikan telinganya seakan tak mendengar permintaan Lady.
"Mama benar-benar kecewa kepadamu Lady!" Wajah putih Mama Miranda nampak merah padam menatap putrinya yang saat ini terduduk di atas lantai dengan wajah basah karena air mata.
"Bagaimana bisa kau bersikap bodoh dengan berselingkuh di belakang Arkana? Kau kembali dengan pria yang sudah menyakitimu secara berulang-ulang!"
"Mah... maafkan Lady." Lady tidak tahu lagi harus berkata apa selain meminta maaf pada kedua orang tuanya.
"Kau benar-benar memalukan! Mama tidak menyangka jika kau serendah itu. Kau bukan hanya menduakan Arkana tapi juga hamil anak dari selingkuhanmu!" Mama Miranda yang merasa amat kecewa pun kembali menangis.
Papa Alan yang sedang menahan emosinya pun memilih diam agar tangan kanannya tak kembali melayang di pipi putrinya itu.
__ADS_1
***