
"Lara, kau kenapa?" Melihat kesedihan di wajah Lara, Sherly pun bertanya.
"Gak papa." Lara mengulas senyum. Menyamarkan rasa sedihnya karena mendengar penderitaan Celine saat ini.
Sherly mengangguk seolah percaya. Beberapa saat kemudian ia pun mengajak Angga dan Lara pergi meninggalkan kantin menuju ruangan kelas yang menjadi tempat perkuliahan kedua mereka siang itu.
Di tengah perjalanan perjalanan menuju kelas, Lara menghentikan langkah saat teringat akan sesuatu. "Angga, Sherly, pergilah lebih dulu ke kelas. Aku ingin ke ruangan jurusan lebih dulu." Ucap Lara.
Angga dan Sherly saling pandang kemudian kembali menatap pada Lara.
"Mau ngapain ke ruangan jurusan, Lara?" Tanya Sherly.
"Emh, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan pada pihak jurusan." Jawabnya seadanya.
Sherly dan Angga kembali saling pandang. Keduanya nampak ragu melepas Lara pergi sendiri.
__ADS_1
Melihat keraguan di wajah kedua teman baiknya membuat Lara meyakinkan jika dirinya akan baik-baik saja dan akan menyusul ke kelas secepatnya.
Angga dan Sherly akhirnya percaya. Keduanya pun melanjutkan langkah menuju kelas sementara Lara melangkah ke arah ruangan biro jurusan.
**
**
Dua jam berlalu, jam perkuliahan kedua akhirnya selesai. Lara yang tidak memiliki jadwal kuliah lagi hari itu memilih untuk langsung pulang bersama seorang sopir yang sudah ditugaskan Edga untuk menjemput dirinya.
"Kita mau kemana, Nona?" Tanya sopir memastikan.
"Ke rumah teman Lara sebentar, Pak." Jawab Lara seadanya.
Seakan percaya dengan perkataan Lara, sopir pun melajukan mobilnya menuju alamat yang Lara sebutkan. Hingga akhirnya sepuluh menit berlalu, mobil memasuki sebuah kawasan kumuh dan padat penduduk.
__ADS_1
"Apa benar di sini alamatnya?" Lara memastikan kembali alamat yang ia tuju adalah benar dengan melihat secarik kertas di tangannya. Setelah meyakinkan jika alamat yang ia tuju tidak salah, Lara pun meminta sopir memberhentikan mobil di pinggir jalan.
"Mobilnya gak bisa masuk ke dalam gang di sebelah sana ya, Pak?" Tanya Lara menunjuk gang yang ia maksud.
Sang sopir memperhatikan gang yang Lara maksud. "Tidak bisa, Nona. Jalannya terlalu sempit. Sepertinya jalan di gang itu hanya dikhususkan untuk pengendara roda dua saja."
Lara menghela napas. Padahal ia ingin mencari letak rumah kontrakan Celine berada namun mobil yang dibawa sopirnya tidak bisa masuk ke dalam sana. Ingin berjalan kaki mencarinya pun rasanya Lara tak ingin karena sang sopir pasti memberitahukan apa yang ia lakukan pada Lara.
Di tengah kekalutan Lara, sosok Celine nampak keluar dari dalam gang sambil berjalan kaki.
"Kak Celine," Lara berucap lirih sambil menatap sosok yang kini berjalan pelan sambil memegang perut. Melihat penampilan Celine saat ini yang jauh berbeda dengan penampilannya dulu membuat Lara merasa prihatin.
Tidak ada lagi Celine dengan pakaian mewah yang melekat di tubuhnya. Yang terlihat hanyalah sebuah kaos yang nampak lusuh dan sedikit kedodoran.
Lara terus memperhatikan gerak-gerik Celine hingga akhirnya sosok itu berhenti di sebuah warung yang berada di pinggir jalan. Dari jarak yang tidak terlalu jauh, Lara dapat melihat saat ini Celine tengah membeli sebungkus mie instan menggunakan uang recehan yang baru saja ia ambil dari saku celananya.
__ADS_1
***