Noda Menjadi Yang Ke 2

Noda Menjadi Yang Ke 2
Jangan membahasnya


__ADS_3

"Tidak perlu mencemaskanku. Aku tidak sekacau yang kau pikirkan." Ucap Arkana yang mengerti maksud perhatian Edgar kepadanya saat ini.


"Ya, aku pikir saat ini kau berniat mengakhiri hidupmu karena diduakan oleh wanita yang sangat kau cintai." Kelakar Edgar.


Arkana menepuk pundak sahabat baiknya itu. "Enak saja. Kau pikir aku serendah itu mau melakukan hal tidak terpuji hanya karena cinta." Jawabnya.


Edgar tertawa mendengarnya. Di dalam hatinya Edgar merasa bersyukur karena Arkana tidak sekacau yang ia pikirkan tadi.


Arkana melangkah ke arah sofa yang berada di dalam ruangan kerjanya diikuti oleh Edgar. "Aku memang terluka dan sakit hati. Tapi aku harus tetap menggunakan kewarasanku untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi saat ini." Ucap Arkana.


"Aku tidak menyangka jika Lady seberani itu menduakanmu." Jawab Edgar.


"Aku juga tidak menyangka. Sudahlah, jangan membahasnya lagi. Aku ingin tenang untuk beberapa jam ke depan." Ucap Arkana karena jika mereka terus membahas tentang Lady Arkana tidak yakin jika ia masih bersikap waras seperti saat ini.


"Jadi hari ini kau ingin membiarkan masalah ini berlalu begitu saja?" Tanya Edgar.


Arkana menganggukkan kepalanya. "Kita bahas masalah ini besok. Aku ingin melihat ekspresinya di rumah nanti." Jawab Arkana.


Edgar menghargai keputusan sahabatnya itu dan tidak berniat melanjutkan percakapan di antara mereka.

__ADS_1


"Tunggu dulu." Arkana menahan pergerakan Edgar saat sahabatnya itu berpamitan untuk pulang.


"Ada apa?" Tanya Edgar dengan wajah bingung.


"Kau tahu bukan harus melakukan apa?" Tanya Arkana memastikan.


"Tentu saja. Aku akan menyimpan bukti itu." Jawab Edgar.


Arkana menganggukkan kepalanya. Jika dalam kesulitan seperti ini memang hanya Edgar-lah yang bisa ia andalkan. Sahabat baiknya itu memang bisa ia andalkan kapan pun ia membutuhkannya. Arkana pun sangat bersyukur memiliki sahabat seperti Edgar.


"Kalau begitu aku pergi dulu." Pamit Edgar untuk yang kedua kalinya.


Arkana mengiyakannya dan mempersilahkan Edgar untuk pergi.


"Lady, apa kurangnya aku selama ini sehingga kau tega berbuat seperti itu di belakangku? Apa saat ini kau ingin membalas perbuatanku karena sudah menghamili Emila? Tapi kau tahu bukan jika apa yang terjadi pada kami waktu itu di luar keinginanku." Gumam Arkana.


*


Sebelum pulang ke rumahnya sore itu, Arkana memilih melajukan mobilnya ke rumah istri keduanya lebih dulu. Entah mengapa saat ini Arkana sangat ingin melihat wajah istri keduanya itu.

__ADS_1


Setibanya di rumah istri keduanya, Arkana langsung disambut dengan wajah bingung Emila.


"Kenapa kau datang ke sini?" Tanyanya.


Arkana tak menjawab justru menjatuhkan pandangan pada sapu lidi yang sedang dipegang Emila.


"Kau menyapu halaman?" Tanya Arkana.


"Jadi kau pikir aku sedang apa?" Emila balik bertanya.


Arkana menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena bingung harus menjawab apa.


"Jadi?" Emila menuntut jawaban dari Arkana.


"Aku datang karena aku ingin melihatmu." Jawab Arkana jujur.


"Ingin melihatku?" Emila mengkerutkan keningnya tanda bingung. "Untuk apa kau ingin melihatku? Apa kau merindukanku lagi?" Tanyanya.


Arkana yang tidak ingin berdusta pun menganggukkan kepalanya. "Begitu banyak permasalahan hidupku saat ini. Dan aku rasa jika melihat wajahmu akan membuat hatiku menjadi tenang."

__ADS_1


"Kenapa bisa begitu?" Tanya Emila.


***


__ADS_2