
"Apakah seorang mantan narapida terlihat mengerikan di matamu?" Tanya Emila sambil menatap Arkana intens.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?" Arkana balik bertanya. Sedikitnya ia merasa bingung kenapa Emila bertanya seperti itu.
"Jawab saja." Tekan Emila.
Arkana mencoba menjawab dengan logikanya. "Mungkin akan terlihat mengerikan jika tindakan yang dia buat sebelumnya membahayakan orang lain seperti merencanakan pembunuhan." Jawab Arkana mengingat kasus pembunuhan beberapa waktu lalu yang sempat viral di media sosial.
Deg
Satu contoh yang diberikan Arkana saja sudah membuat Emila merasa rendah mendengarnya. "Menurutmu bagaimana jadinya jika seorang pria yang cukup terkenal seperti dirimu menjalin hubungan dengan seorang narapidana? Apa repurtasimu akan hancur nantinya?" Tanya Emila dengan jantung yang berdetak sangat cepat.
"Mungkin saja karena kebanyakan seperti itu. Relasi kerjaku mungkin tidak lagi percaya dengan perusahaanku karena aku berhubungan dengan narapidana." Jawab Arkana masih menggunakan logika.
Semakin jatuh saja kepercayaan diri Emil untuk dekat dengan Arkana. Semakin lama ia berada dengan Arkana maka semakin cepat pula repurtasi Arkana akan hancur jika relasi kerjanya mengetahui jika Arkana menikah dengan mantan narapidana seperti dirinya.
"Mila, kenapa kau membahas tentang narapidana?" Tanya Arkana.
__ADS_1
Emila mengontrol dirinya agar tidak memperlihatkan ekspresi murung pada Arkana. "Tidak ada. Aku hanya bertanya saja. Aku berpikir jika mantan narapidana akan sulit menemukan kebahagiaan karena statusnya."
Arkana menggelengkan kepalanya. "Tidak juga. Semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua. Tidak semua narapidana menakutkan. Mereka juga pasti bisa berubah."
Emila tersenyum miring mendengarnya. "Walau pun begitu tetap saja dia dicap buruk oleh orang-orang disekitarnya."
Arkana terdiam. Hukum sosial memang lebih menyakitkan dari pada hukuman di dalam penjara bagi seorang mantan narapidana.
"Sudahlah, jangan membahas narapidana lagi. Lebih baik makan makanannya." Ucap Arkana.
Emila mengiyakannya saja. Ia mulai memakan makanannya dengan selera yang sudah hilang.
Apa yang aku pikirkan selama ini benar. Tidak ada satu pun pria yang pantas bersanding denganku karena statusku seorang mantan narapidana rencana pembunuhan. Kehadiranku di hidup mereka hanya akan membuat hidup mereka menjadi rusak. Ucap Emila dalam hati.
*
"Kita langsung pulang saja, ya." Pinta Emila setelah mereka selesai makan. Rasanya ia sudah tidak berniat mau kemana-mana setelah kepercayaan dirinya semakin menurun setelah mendengar jawaban Arkana tadi.
__ADS_1
"Apa tidak mau membeli pakaianmu dulu? Bukankah kau bilang waktu itu bajumu sudah banyak yang sempit?" Tanya Arkana.
"Tidak usah. Masih ada beberapa baju di dalam lemari yang masih bisa aku gunakan. Lagi pula jika kita terlalu lama berada di luar maka memperbesar kemungkinan Nona Lady bisa melihat kebersamaan kita." Jawab Emila.
Arkana terdiam beberapa saat. Ingin sekali rasanya sekarang ia mengatakan pada Emila bagaimana kondisi rumah tangganya dan Lady. Namun Arkana memilih menahannya karena tidak ingin membongkar aib keluarganya pada Emila.
Lebih baik aku memberitahunya di saat keadaan sudah mulai membaik. Ucap Arkana dalam hati.
"Ayo pulang." Ucap Emila kemudian karena Arkana hanya diam saja.
"Baiklah." Arkana menurut lalu mengajak Emila berjalan menuju lift berada.
Tidak banyak percakapan lagi di antara Emila dan Arkana saat berada di perjalanan pulang. Arkana sibuk memikirkan rumah tangganya dengan Lady dan Emila sibuk memikirkan kapan ia akan pergi.
***
Sebelum lanjut, jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
__ADS_1
Sambil menunggu Emila dan Ar update, silahkan mampir di novel shy yang lagi on going juga berjudul Mahasiswaku Suamiku, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗